Pemerintah Agresif Dorong Wisata Kuliner Indonesia

Hernie Raharja, Foods Director PT Unilever Indonesia (Kiri), Triawan Munaf, Kepala Bekraf RI (Tengah), dan Ketua Tim Percepatan Wisata Kuliner dan Belanja Kementerian Pariwisata, Vita Datau (Kanan) (Photo: Anastasia/SWA)

Kementerian Pariwisata mendukung Festival Jajanan Bango (FJB) 2018 yang dibuka di Jakarta, 14 April 2018 lalu. Hal ini disampaikan oleh Vita Datau Messakh Ketua Tim Percepatan dan Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja Kemenpar.

Ke depan, Kemenpar akan memasukkan FJB ke dalam kalender event tahunan dan menjadikan FJB sebagai acara unggulan destinasi wisata kuliner di Indonesia.

“Sektor kuliner merupakan jajaran 3 teratas alasan seseorang pergi ke suatu daerah. Pengeluaran wisatawan untuk kuliner berada pada angka 30%-40% dari total pengeluaran wisata,” ujar Vita. Data ini membuat Kementerian Pariwisata menargetkan 2,3 juta wisatawan kuliner mancanegara pada tahun 2019 mendatang. Kemenpar menargetkan kenaikan devisa kuliner sebanyak 30% atau menyentuh angka Rp66,9 triliun.

Masuknya FJB dalam kalender event Kementerian Priwisata, merupakan salah satu keseriusan pemerintah dalam melakukan program percepatan kuliner Indonesia pada tahun 2017-2018 ini. Selain itu, pemerintah juga direncanakan akan membuat destinasi wisata kuliner di Jogja-Solo-Semarang, Bandung, dan Ubud.“Kita lakukan pertama kali di Ubud, karena sudah lebih siap dibandingkan dearah-daerah lain,” kata dia.

Untuk diketahui, rencana tersebut sudah dimulai dengan dilangsungkannya Ubud Food Festival 2018 di Ubud-Gianyar Bali pada tanggal 13-15 April 2018 lalu. Selain itu, Kemenpar juga tengah melakukan co-branding dengan 10 restoran diaspora di Amerika, Perancis, Belanda, dan Australia. Rencananya Kemenpar akan menambah lagi jumlah restoran yang akan dikerjasamakan.

“Co-branding ini merupakan bentuk apresiasi kami untuk mereka yang telah menjual makanan Indonesia di luar negeri. Mereka agak struggle karena branding-nya kurang, maka kita akan bantu agar gaungnya lebih terdengar,” jelasnya. Selain itu, Kemenpar juga akan melakukan standarisasi rasa makanan yang dijual di sana.

Tidak hanya Kementrian Pariwisata yang akan menjadikan kuliner sebagai prioritas, Badan Ekonomi Kreatif juga berencana mendorong usaha kuliner untuk menjadi badan usaha. “96% ekonomi kreatif belum memiliki badan usaha, hal ini membuat mereka tidak memiliki akses permodalan untuk memajukan usahanya. Ini yang akan kita dorong,” ujar  Kepala Bekraf RI Triawan Munaf .

Melansir data Bekraf, tahun 2016 lalu sumbangan Bekraf untuk PDB  sebesar Rp922 triliun, sebesar 42% nya adalah kuliner. Hal ini menjadikan kuliner berada pada 3 teratas skala prioritas bersama fashion dan craft.

Selain itu, Triawan juga berencana untuk mendorong Kementerian Kesehatan dalam menderegulasi kebijakan standarisasi kebersihan makanan untuk menarik pengunjung dan bersaing di dunia internasional. Indonesia tercatat  berada di ranking 109 dari 136 negara untuk higienitas.

"Sebetulnya sudah ada standar-standar kesehatan dari Kementerian Kesehatan. Bagaimana ini lebih dipraktekkan sehari-hari. Kami tak ingin perkembangan kuliner dibatasi oleh ketidakbersihan," kata Triawan di Jakarta.

Ke depan, pemerintah berencana untuk gencar memasarkan kuliner Indonesia di dunia internasional. “Tahun depan kita akan membuat gerakan serius untuk bisa menyaingi Thailand. Kita sudah siapkan, tinggal bagaimana strategi dan branding-nya,” ujarnya menutup pembicaraan.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)