Pemerintah Dorong Percepatan Transformasi Struktural

Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat dikatakan berjalan secara konsisten selama 20 tahun terakhir, perubahan  struktur ekonomi justru berjalan lambat dan tidak sesuai rencana. Sektor industri belum mampu menyerap tenaga kerja sebanyak yang dibutuhkan, dan angkatan kerja banyak yang berada di sektor jasa, namun bersifat informal dan tidak memberikan penghasilan yang memadai.

Untuk itu, perlu memanfaatkan peluang pekerja masa depan untuk mendorong pertumbuhan inklusif. Dan transformasi struktural menjadi kunci, utamanya dengan memanfaatkan bonus demografi, agar dapat terus mendorong pertumbuhan ekonomi negara dan pada akhirnya mengubah status ekonomi dari negara berkembang menjadi negara maju.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional (Menteri PPN/Bappenas), Bambang Brodjonegoro, menyampaikan bahwa visi “Indonesia 2045” mencita-citakan ketika Indonesia berusia 100 tahun, telah berhasil menjadi high-income country. Hal ini hanya bisa diwujudkan jika pertumbuhan ekonomi rata-rata dapat dipertahankan pada kisaran 5,1% hingga 7% secara terus menerus.

Untuk itu Bappenas telah menyiapkan tiga skenario pembangunan ekonomi, dengan menitikberatkan fokus pada revitalisasi industri agar pertumbuhan sektor manufaktur selalu lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi. Kemudian pada transformasi sektor jasa, khususnya di sektor pariwisata.

“Serta meningkatkan produktivitas sektor unggulan seperti pertanian dan perikanan,” ujarnya pada gelaran Indonesia Development Forum (IDF) 2019.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto, menyebutkan bahwa ada lima sektor prioritas pada Making Indonesia 4.0., yaitu industri makanan dan minuman, tekstil, otomotif, elektronik, serta kimia. Untuk memaksimalkan potensi ekonomi pada sektor-sektor prioritas ini, kebijakan 2020-2024 mendatang akan diarahkan pada peningkatan produktivitas dan daya saing manufaktur ekspor, serta penguatan industri hulu yang strategis.

Salah satu kebijakan lain yang dianggap dapat mendorong percepatan transformasi struktural adalah dengan pemberian insentif pajak untuk mendorong pengembangan vokasi di Indonesia. "Agar negara dapat terus mencetak SDM dengan daya saing yang kompetitif,” ujarnya.

Sementara, Professor Ekonomi dan Carl Marks, Universitas Cornell, Ithaca dan New York, Kaushik Basu, yang menilai pentingnya perubahan kebijakan yang radikal untuk pendidikan di Indonesia. Investasi pendidikan harus diarahkan ke pendidikan kreatif, inovatif, dan saintifik, karena pendidikan teknis ataupun mekanikal sudah digantikan oleh teknologi.

“Saya sangat optimistis dengan perekonomian Indonesia. Indonesia sudah melalui berbagai krisis ekonomi besar di tahun 1998 dan 2008, namun tetap bisa bangkit dan menjaga pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2%. Negara lain juga optimis akan ekonomi Indonesia. Ke depannya ekonomi Indonesia dapat tumbuh lebih besar lagi, bahkan hingga 7 persen per-tahun,” ujar Kaushik.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)