Pemerintah Perlu Siapkan Skenario Jika Pertumbuhan Ekonomi Minus

Kamrussamad

Pandemi Covid-19 yang terjadi di Indonesia berdampak pada berbagai bidang kehidupan, termasuk kondisi perekonomian nasional. Secara keseluruhan asumsi dasar ekonomi makro KEM PPKF tahun 2021 menggambarkan skenario pemulihan ekonomi model “V” . Artinya, Pemerintah RI menganggap Covid-19 ini hanya akan jangka pendek (setahun) dan pemulihan cepat, sehingga tahun depan 2021 sudah mulai pulih. Faktanya, hingga kini jumlah orang yang positif terjangkit Corona terus meningkat.

Menanggapi hal itu, anggota DPR dari Komisi 9, Kamrussamad, menyarankan sebaiknya pemerintah tetap perlu memikirkan atau mempertimbangkan jika pemulihan ekonomi tidak model V seperti yang dibuat lembaga-lembaga internasional tersebut. Sebab, Indonesia memulai kondisi New Normal pada saat kasus positif belum turun atau melandai, sehingga kemungkinan pemulihan ekonomi tidak cepat seperti yang diprediksikan.

Skenario model W (atau ada kemungkinan terjadi second wave pandemi Covid-19), maupun model L (jika recovery ekonomi tidak pulih secara cepat) tetap perlu dipertimbangkan meskipun kita semua tidak menghendakinya. Ini bermanfaat untuk langkah antisipasi jangka menengah mengingat skenario jaring pengaman sosial kita hanya 3 bulan, 6 bulan, dan setahun.

Variatifnya rentang perbedaan proyeksi antar lembaga internasional menggambarkan ketidakpastian ekonomi yang tinggi di sisa tahun 2020 dan tahun 2021 mendatang. Oleh karena itu, pemerintah perlu mengantisipasi jika situasi gejolak ekonomi global kembali terjadi, terutama jelang akhir tahun (dinamika politik AS) dan risiko gelombang kedua pandemi.

Dari hampir semua mitra dagang utama Indonesia di negara-negara maju, hanya China yang diperkirakan akan tumbuh positif di Triwulan II/ 2020. Lantas, apa yang harus dilakukan agar manfaatnya bisa juga ke permintaan ekspor produk Indonesia? “Pemerintah harus ada upaya untuk mendukung ekspor ke China sehingga saat mereka mulai pulih, permintaan ekspor mereka ke Indonesia juga naik,” ungkap Kamrussamad.

Dari beberapa risiko yang membayangi outlook ekonomi 2020 dan proyeksi 2021, dua faktor global tentang geopolitik AS-China merupakan masalah eksternal yang lebih susah diintervensi. Namun, faktor Second Wave Covid-19 sangat berkaitan dengan kemampuan Pemerintah Indonesia menangani wabah. Hingga saat ini belum terlihat dari skenario pemerintah jika gelombang kedua datang. Hal ini yang mengherankan dari tim ekonomi pemerintah Indonesia yang terkesan percaya diri dengan satu skenario saja

Terkait stimulus fiskal Indonesia sebesar 4,2% dari Product Domestic Brutto, besaran stimulus penting, namun kecepatan implementasi juga jauh lebih penting, karena akan menentukan tingkat efektifitas stimulus ini. Rendahnya penyerapan anggaran memengaruhi daya beli serta berdampak pada sektor riil. Perlunya keberpihakan terhadap peningkatan daya saing dalam negeri.

Sudah berapa persen penyerapan stimulus sampai saat ini? Apa upaya yang sudah dilakukan untuk mempercepat stimulus agar sampai ke masyarakat dan dunia usaha? Kamrussamad menila hasilnya belum tampak.

Lima lembaga internasional tidak ada yang memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh 1% tahun 2020 ini, yang tertinggi hanya 0,5%. Apa yang mendasari proyeksi pemerintah bahwa ekonomi masih bisa tumbuh positif setidaknya 1% di 2020” DPR mendesak tim ekonomi pemerintah untuk jujur agar publik bisa percaya terhadap arah kebijakan sudah tepat.

Dia menyarankan, mestinya Pemerintah Indonesia menyiapkan skenario jika pertumbuhan ekonomi tahun ini sampai minus -3,9% sehingga target pertumbuhan ekonomi 2021 lebih realistis.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)