Penambahan 10% Pelanggan Selular Tingkatkan GDP 0,4 %

Prof. bambang Riyanto, LS, MBA, Ph.D (tengah) Direktur Penelitian dan Pelatihan Ekonomika & Bisnis UGM bersama tim riset "Dampak Mobile Internet Terhadap Pengambangan Ekonomi dan Sosial di Indonesia".

Setiap penambahan 10% pelanggan seluler di Indonesia, meningkatkan secara positif produk domestik bruto atau GDP sebesar 04%. Demikian hasil riset yang dilakukan Indosat Ooredoo bersama dengan Penelitian dan Pelatihan Ekonomika & Bisnis (P2EB), Fakultas Ekonomika & Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Direktur P2EB – UGM, Prof. Bambang Riyanto, LS, M.B.A., Ph.D menyatakan, riset ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif serta menggunakan data jumlah pelanggan jasa telepon seluler (mobile subscription) sebagai indikator variabel perilaku penggunaan mobile internet. “Dalam riset ini, secara garis besar fenomena mobile internet dapat dikelompokkan ke dalam tiga dimensi yaitu teknologi dan lingkungan sosial, perilaku dalam menggunakan mobile internet, dan dampak sosial dan ekonomi dari mobile internet,” jelas Bambang.

Riset dengan tema “Dampak Mobile Internet terhadap Pengembangan Ekonomi dan Sosial di Indonesia" itu menghasilkan beberapa catatan menarik. Pertama, dampak mobile internet terhadap peningkatan GDP lebih besar 0,002 % terlihat di negara-negara berpendapatan menengah-rendah di Asia dan di negara-negara berpendapatan tinggi dibandingkan dengan dampak mobile internet di negara-negara berpendapatan rendah.

Kedua, dengan menggunakan data 4 negara yaitu Indonesia, Thailand, Malaysia, dan India, diperoleh temuan bahwa dampak mobile internet terhadap peningkatan GDP di Indonesia tidak berbeda dengan Thailand dan India. Menurut B.M Purwanto, MBA, Ph.D, salah satu anggota tim riset tersebut berpendapat, salah satu fakto yang membuat Indonesia berada dibawah Malaysia dalam hal dampak mobile internet terhadap GDP, karena pemerintah Indonesia sedikit terlambat merespon—baik dalam hal regulasi maupun infrastruktur—mobile internet yang sangat cepat diadopsi masyarakat.

“Salah satu contohnya dalam sensus nasional tahun 2015 pemerintah baru menanyakan soal bagaimana masyrakat mengakses internet, padahal masyarakat sudah mengadopsi mobile internet beberapa tahun sebelumnya, jadi sedikit terlambat,”jelas Purwanto.

Lebih lanjut Purwanto menjelaskan bagaimana mobile internet memberikan dampak terhadap pertumbuhan GDP. Mobile internet melibatkan 4 aspek, yaitu teknologi, individual, sosial dan pemerintah. Teknologi informasi telah memberikan kemudahan akses, kualitas sistem, koneksi dan kemudahan untuk digunakan, maka individu pun mengadopsinya, lalu mengajak orang-orang disekitarnya juga untuk menggunakan, akhirnya dalam satu kelompok masyarakat digerakkan untuk menggunakan teknologi internet agar tetap terhubung dan eksis.

Perubahan perilaku dan gaya hidup yang serba bergantung kepada mobile internet—e-mobilization, e-movement, likes, clicktivism dan lainnya—mengakibatkan muncul ide-ide kreatif yang melahirkan model-model bisnis baru, yang pada akhirnya berdampak pada perubahan pertumbuhan ekonomi. “Munculnya startup seperti ojek online dan jasa kurir online telah menampung banyak pengangguran usia produktif, dan masih banyak lagi industri jasa berbasis online yang menciptakan lapangan kerja baru,” jelas Purwanto.

Seluruh hasil riset ini direncanakan akan diserahkan kepada pemerintah sebagai rekomendasi dalam mengatur layanan dan industri mobile internet. Beberapa rekomendasi yang akan disampaikan antara lain pentingnya kebijakan pemerintah, pendidikan, diseminasi, dan regulasi sebagai hal yang vital dan sangat dibutuhkan segera.

Rekomendasi lainnya adalah tentang keberadaan infrastruktur dan suprastruktur yang esensial dalam memperkuat dan mendorong dampak positif mobile internet terhadap pembangunan ekonomi.

Editor : Eva Martha Rahayu
www.Swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)