Pencatatan Keuangan Digital Kunci UMKM Bertahan Pasca Pandemi

Setelah mengalami kerugian bahkan mungkin harus menutup usaha, tantangan bagi pelaku UMKM untuk kembali berbisnis tentunya semakin besar. Berbagai kondisi perlu diantisipasi, termasuk menghindari kekeliruan yang berpotensi menghambat usaha yang baru mereka rintis lagi. Pencatatan keuangan yang disiplin dan evaluasi berkelanjutan menjadi kunci agar pelaku UMKM di Indonesia mampu bertahan dan melanjutkan bisnisnya pada periode menuju era pascapandemi seperti sekarang.

Studi internal BukuWarung mendapati bahwa pelaku UMKM bidang ritel (pedagang) rata-rata menghabiskan hingga 8 jam per minggu untuk pengelolaan transaksi penjualan, pengeluaran dan kredit secara manual. Proses tersebut cenderung membosankan sehingga acapkali diabaikan. Selain itu, pencatatan manual juga memiliki risiko kesalahan yang tinggi dan rawan hilang/rusak. Ini bisa menyebabkan pelaku UMKM melewatkan pembayaran dari pelanggan, bahkan mengakibatkan gagal bayar hingga 12%.

“UMKM merupakan ujung tombak pemulihan ekonomi nasional pasca-pandemi. UMKM pula yang nanti akan membawa Indonesia menjadi pemain ekonomi digital terbesar se-Asia Tenggara seperti yang ditargetkan pemerintah Indonesia. Untuk mencapai itu, salah satu kuncinya adalah membawa UMKM go digital," ujar Adi Harlim, Director of Merchant Experience BukuWarung dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (21/10/2021).

Sebagai perusahaan teknologi, BukuWarung sangat memahami betapa pentingnya inovasi berbasis teknologi untuk merealisasikan digitalisasi UMKM. Oleh sebab itu, sejak 2019, BukuWarung menghadirkan ekosistem finansial digital untuk mendukung pelaku UMKM di Indonesia dalam menjalankan dan menumbuhkan bisnisnya.

"Kami lahir setelah melihat besarnya potensi UMKM di Indonesia yang saat ini bejumlah sekitar 65 juta. UMKM berkontribusi lebih dari 60% bagi perekonomian negara. Memahami karakter UMKM di Indonesia, kami menawarkan solusi yang praktis, mudah dan gratis dengan mengedepankan pengalaman penggunaan yang simpel. Solusi berupa aplikasi BukuWarung ini memiliki fitur utama pencatatan keuangan digital untuk membantu pelaku UMKM memantau dan mengevaluasi bisnisnya,” lanjut Adi.

Menjawab kebutuhan-kebutuhan tersebut, Adi mengatakan, pihaknya menghadirkan solusi pencatatan keuangan usaha yang komplet; meliputi pembukuan transaksi usaha, serta pelaporan finansial berjangka (harian/mingguan/bulanan) - yang kemudian bisa digunakan untuk pengajuan permodalan. Selain itu, aplikasi ini juga memiliki pencatatan pengelolaan utang dan dana pribadi, serta fitur pengingat jatuh tempo piutang, bahkan bisa menagihkannya kepada pelanggan secara otomatis.

"Fitur ini akan menjawab kendala yang banyak dihadapi para pelaku UMKM yaitu tidak ada pembukuan usaha yang rapi. Padahal dari peembukuan ini para pelaku usaha dapat mengatur modal, cash flow, rugi, sampai utang piutang yang membantu mereka membuat keputusan penting untuk mengembangkan bisnisnya lebih lanjut," tambahnya.

Selain menghadirkan pencatatan keuangan digital, BukuWarung terus menguatkan inovasi teknologinya dengan menambahkan fitur-fitur baru seperti etalase online, pembayaran digital, hingga akses pembiayaan. Kelengkapan layanan tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan kapabilitas UMKM Indonesia, termasuk menyiapkan para pelaku usaha untuk siap go digital.

Salah satu kendala yang dihadapi pelaku UMKM dalam mengembangkan bisnis adalah sulitnya mendapatkan akses pembiayaan. Penyebab utamanya, ketiadaan laporan keuangan yang memperlihatkan keberlangsungan sebuah bisnis. Ini semakin menegaskan peran penting pencatatan keuangan bagi pelaku UMKM. "Tidak tersedianya data keuangan historis menyebabkan kurangnya kredit pemasok untuk membeli inventaris baru atau restock. Pelanggan melakukan 20-80% pembelian secara kredit, setiap hari," jelas Adi.

Senada dengan Adi, Danu Sofwan, pemilik beberapa jaringan usaha (yang memulai bisnisnya dari skala UMKM) serta penggiat UMKM Indonesia, juga menekankan evaluasi berkelanjutan sebagai landasan kunci bagi UMKM dalam berbisnis.

“Evaluasi, atau dalam istilah Jepang dikenal sebagai Kaizen, merupakan perbaikan secara berkesinambungan. Dalam lingkup bisnis, untuk bisa melakukan itu perlu adanya data yang diambil dari pencatatan keuangan. Inilah yang kerap diabaikan oleh para pelaku UMKM. Padahal, scale up sebuah bisnis tanpa landasan pencatatan keuangan yang disiplin, justru bisa berpotensi merugi,” ungkap Danu.

Dengan pencatatan keuangan yang teratur, menurutnya, pelaku UMKM dapat mengetahui secara jelas setiap transaksi yang terjadi, untung yang diperoleh, termasuk mengetahui apabila terjadi kerugian. Catatan itulah yang menjadi dasar pelaku UMKM untuk melakukan evaluasi dan mengambil langkah strategis untuk mengembangkan bisnisnya.

Saat ini tercatat 6,5 juta pelaku UMKM yang tergabung dalam ekosistem BukuWarung. Para pelaku UMKM ini tersebar di lebih dari 500 kota/kabupaten berbagai kota, kabupaten hingga kecamatan di seluruh Indonesia. BukuWarung pun menargetkan akan menjangkau sekitar 8 juta UMKM hingga akhir 2021. "Kami hadir dan tumbuh saat pandemi, di awal hanya 100 ribu tetapi sekarang sudah mencapai 6,5 juta UMKM dalam kurun waktu 2 tahun," ujar Adi

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)