Pendekatan Neuroscience dalam Survei Marketing

Global Managing Director Neurosensum, Rajiv Lamba (kanan) bersama Head of Business Development Neurosensum Vika Indriyasari saat mendemonstrasikan survei melalui virtual reality.

Karakteristik konsumen Indonesia yang sopan menjadi tantangan tersendiri bagi industri pemasaran dalam melakukan riset pasar. Ketika menjadi responden, konsumen cenderung menjawab pertanyaan survei dengan sesuatu yang baik meski pada kenyataannya bertentangan dengan pikiran yang sebenarnya. Sehingga hal ini berdampak pada hasil riset yang kurang akurat.

Menjawab permasalahan tersebut PT Neurosensum Technology International (Neurosensum), perusahaan market research berbasis neuroscience dan artificial intelligence (AI) menggunakan metode baru dengan perangkat biometrik untuk memperoleh respons implisit dari konsumen. Dalam menjalankan survei pasar terhadap iklan, produk atau packaging, Neurosensum menggunakan perangkat EEG (electroencephalogram), eye tracker, virtual reality (VR) dan facial coding.

Menurut Global Managing Director Neurosensum, Rajiv Lamba, dengan pendekatan neuroscience, pemilik brand dapat memperoleh informasi yang akurat dari pikiran bawah sadar konsumen. “Kami mencoba memberikan inovasi baru dalam industri riset yang saat ini masih banyak mengandalkan claim-based research menjadi subconscious-based. Masa depan dari market research adalah bisa membaca pikiran konsumen tanpa perlu bertanya,” ujar Rajiv kepada SWA Online.

Ia menambahkan, dengan menggunakan pendekatan seperti itu hasilnya akan lebih akurat, karena sebagian besar pengambilan keputusan manusia terjadi dalam pikiran bawah sadar. Meski demikian Neurosensum tetap melakukan survei berupa respons eksplisit dari responden melalui wawancara secara tatap muka kepada konsumen untuk memperoleh wawasan mendalam mengenai kinerja suatu brand. “Berdasarkan penelitian, 95 persen pengambilan keputusan manusia terjadi pada dalam alam bawah sadar dan 5 persen terjadi pada pikiran sadar,” katanya.

Neurosensum berkantor pusat di Singapura yang berdiri pada Juli 2017 dan beroperasi komersial di Indonesia pada Februari 2018. Perusahaan ini juga bergabung dalam jajaran perusahaan rintisan (start-up) yang didukung oleh perusahaan modal ventura Alpha JWC Ventures. Saat ini klien Neurosensum di Indonesia sudah mencapai 30 perusahaan di antaranya Indofood, Arnott’s, Garuda Food, Kraft Heinz, Danone, Sari Roti, Combiphar, Softex, BRI dan Grab.

Layanan yang ditawarkan Neurosensum mencakup ad testing (pre & post), product testing, concept testing, shopper studies, brand track & post launch, packaging testing, pricing study hingga customer satisfaction.

Saat ini Neurosensum sedang mengembangkan platform DIY (do it yourself) market research berbasis artificial intelligence dan machine learning untuk menyasar UMKM atau start-up sehingga dapat membuat riset konsumen tanpa membutuhkan market research agency. Platform ini targetnya akan diluncurkan pada tahun 2019 mendatang.

Rajiv menyampaikan tantangan signifikan yang dihadapi adalah mengedukasi perusahaan atau pemilik brand dalam pemanfaatan teknologi dalam riset karena metode ini relatif baru di Indonesia. “Namun saya optimis terhadap perkembangan riset berbasis neurosciece karena sektor industri di Indonesia haus terhadap suatu inovasi yang menghasilkan insight baru dalam membuat strategi pemasaran ke depannya,” jelas Rajiv.

Editor: Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)