Pendekatan Omnichannel Jadi Pilihan di New Normal

Webinar IBF 2020

Pandemi Covid-19 memukul semua sektor bisnis, lantaran baik offline maupun online mengalami konstraksi. Hanya sektor kesehatan yang bisa relevan dengan situasi pandemi.

Industri ritel adalah salah satu yang cukup terdampak selama pandemi Covid-19. Boston Consulting Report mengungkapkan data bahwa penurunan retail lifestyle minus -40% ke minus -95% pada Maret dan April 2020. Tidak hanya menggeser prioritas belanja ke barang untuk bekal survival seperti bahan makanan dan kesehatan, tapi konsumen juga semakin meninggalkan cara belanja offline karena harus tetap di rumah.

Lantas apakah e-commerce merupakan the next retail? Yongky Susilo, Retail & Consumer Strategist, berpendapat bahwa pendekatan omnichannel lah yang akan menemukan posisinya seiring perkembangan teknologi, pergeseran gaya hidup konsumen, hingga pengalaman dan ekspektasi yang dimilikinya.

Omnichannel merupakan kombinasi dari berbagai macam cara dan channel untuk berbelanja, namun tetap memberikan brand feeling yang sama seperti di toko fisik, webstore, smartphone, televisi, ataupun media sosial.

Yongky menambahkan, faktor lain yang menguatkan terhadap omnichannel ini adalah konsumen di bisnis online atau e-commerce yang telah berjalan 10 tahun belakangan ini, kebanyakan membeli produk yang sedang tren, sedangkan untuk komoditi seperti makanan tetap dibeli secara offline.

“Masa depan yang harus dibahas adalah omnichannel. Belanja seperti di web tetapi di dalam toko. Tokonya pun seperti web. Jadi, dengan bantuan digital orang bisa menentukan dulu pilihan di web, agar ketika ke toko offline-nya tidak bingung pilih-pilih lagi,” ujar Yongky di acara Indonesia Brand Forum 2020.

Ia melanjutkan, digitalisasi seyogyanya dibuat untuk memunculkan frictionless. Department store menurun sebetulnya bukan hanya karena kehadiran e-commerce tetapi juga ada banyak kendala lain yang belum dihilangkan. Yongky mencontohkan, adanya kendala konsumen ketika mencari parkir misalnya, department store seharusnya bisa membantu hal tersebut.

“Jadi intinya harus menciptakan seamless shopping, harus consumer centric. Digitalisasi digunakan untuk memikirkan dengan cepat apa masalah dari konsumer, untuk mengakomodasi kendala-kendala mereka,” tegasnya.

Di luar itu, faktor yang berpengaruh adalah daya beli. Daya beli masyarakat harus dijaga, karena konsumsi akan turun akibat daya beli masyarakat menurun. “Jadi harus meminta tolong pemerintah supaya cepat menurunkan Bantuan Langsung Tunai,” ujarnya.

Meski demikian, Yongky optimistis saat Pembatasan Sosial Berskala Besar dilonggarkan, situasi akan berangsur pulih. “Walaupun kapasitas bisa jadi tidak sepenuh sebelumnya, tapi peluang dan kesempatan akan datang kembali,” ujar Yongky.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)