Pengaruh Anderson Tanoto di Raja Garuda Mas

Taipan Sukanto Tanoto diketahui mulai menyiapkan generasi kedua untuk menjalankan roda bisnisnya. Salah satu penerus yang disiapkan adalah sang putra bungsu Anderson Tanoto yang kini telah menginjak usia 28 tahun. Sejak tahun 2013, Anderson telah menjadi direktur di Royal Golden Eagle Pte Ltd atau Raja Garuda Mas. Meski begitu, ia mengaku ketika masuk tidak langsung diberikan posisi empuk, melainkan dari bawah terlebih dahulu dengan menjadi seorang asisten manager di Pabrik kertas RGE di Pangkalan Kerinci, Pelalawan, Riau. “Saya tinggal di kerinci dulu 2,5 tahun,. Dari bawah pelan-pelan naik,” ungkapnya.

Sebelum terjun ke bisnis ayahnya, ia juga mengaku pernah bekerja di perusahaan konsultan global Bain & Company SE Asia Inc di Singapura. Alumnus Wharton School, University of Pennsylvania, Amerika Serikat itu, mengatakan pengalamannya itupenting memperkaya pengetahuannya. “Pengalaman dar bawah itu saya nilai sesuatu yang penting,” ujarnya. Ia tidak mau tiba-tiba sudah diposisi atas, padahal belum tahu banyak seluk beluk bisnis sang ayah secara detil dan menyeluruh. “Kalau sudah terjun sudah tahu banyak,” ujarnya.

Sebagai generasi kedua, banyak hal ia tularkan di RGE. Salah satu yang ia kedepankan ialah bagaimana RGE mengusung pengubahan pola informasinya ke publik dengan menerapkan transparansi agar masyarakat mengetahui bagaimana mereka mengelola RGE, RAPP, Asian Agri, Sateri Holdings Limited dan Pacific Oil & Gas.

Dia memosisikan bisnis kertas dan bubur kayu, minyak, gas serta kelapa sawit adalah bisnis jangka panjang yang membutuhkan kepastian dan dukungan banyak pihak agar keberadaannya terjaga dalam jangka waktu yang lama. Untuk itu dia membutuhkan kepercayaan dari masyarakat bahwa perusahaan dikelola secara benar dan tidak merugikan pihak manapun, baik negara maupun masyarakat. “Dengan transparasi, komunikasi dan digital approach, kita harapannya sayaRGEbisa terbuka bagi media dan masyarakat,” ujarnya.

Benar saja, belakangan tahun, Anderson memang sering tampil di berbagai kesempatan dan membuka komunikasi dengan para media. Terakhir pada tanggal Senin 12 juni 2017, ia mengundang jarajaran bos-bos besar media, atau pimpinan redaksi untuk hadir dalam acara buka bersama dengan RGE di kantor RGE di jalan Teluk Betung I, untuk menepis anggapan bahwa RGE tertutup atas informasi publik. “Kami jauh lebih terbuka sekarang. Mau berkomunikasi dengan para stake holder.”

Tak hanya itu, ia juga menginisiasi adanya sebuah digital room, yang didalamnya merupakan wadah bagi RGE merancang strategi komunikasinya lewat media sosial. RGE membentuk tim khusus untuk membangun ruang redaksi (newsroom) sendiri untuk membuat mengolah dan memproduksi informasi sendiri. Newsroom ini digawangi sejumlah orang mulai dari sosial manajer, videografer, analisis digital, desain grafis, penulis, manajer komunitas hingga tim distribusi konten.

Rhenald Kasali yang merupakan pakar manajemen dan Guru Besar di Universitas Indonesia mengakui insting leadership yang dimiliki Anderson. Ia menilai Anderson sosok pemuda yang cepat belajar. “Saya mengamati dia pidato dan rapat, ia punya karakter yang kuat,” ungkapnya.Anderson kata dia, tidak takut akan hal-hal yang berbau isu sensitif atau pemberitaan yang konteksnya negatif. “Justru menurut dia (Anderson) harus diajak berkomunikasi dan diberi keterbukaan," jelasnya.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)