Penjualan Online Jadi Penyelamat Saat Pandemi

Pelaku usaha yang perekonomiannya terdampak pandemi Covid-19 mulai beralih ke platform online. Tokopedia menjadi salah satu platform pilihan pelaku usaha untuk tetap bertahan di masa krisis.

Data internal Tokopedia mencatat, terdapat peningkatan jumlah penjual dari 7,2 juta sebelum pandemi Januari 2020 lalu menjadi lebih dari 10 juta penjual saat ini. Dimana 7 dari 10 pelaku usaha di Tokopedia mengalami kenaikan volume penjualan dengan median sebesar 133%.

Tiga provinsi dengan peningkatan penjualan pelaku usaha tertinggi di Tokopedia, yaitu NTB (144,6%), Sulawesi Tengah (73,4%) dan Sulawesi Selatan (73,3%). Sementara tiga provinsi dengan peningkatan jumlah pelaku usaha tertinggi di Tokopedia selama pandemi adalah Bali (66,2%), Yogyakarta (42,2%) dan DKI Jakarta (28,3%).

Hal itu terungkap dalam riset yang dilakukan oleh Tokopedia bersama LPEM FEB UI. Riset yang berjudul “Bertahan, Bangkit dan Tumbuhnya UMKM di Tengah Pandemi melalui Adopsi Digital” ini mengidentifikasi pola transaksi penjual dan konsumen sebelum dan selama pandemi. Adapun survei disirkulasi secara online dari periode 28 Oktober - 22 November 2020, dengan total 20.826 responden yang terdiri dari 11.567 penjual dan 9.259 konsumen.

Kepala LPEM FEB UI, Riatu Mariatul Qibthiyyah menjelaskan, sebesar 68,6% penjual yang bergabung dengan Tokopedia pada saat pandemi merupakan pencari nafkah tunggal di keluarga. "Alasan mereka bergabung untuk berjualan online karena terdampak pandemi Covid-19, seperti kehilangan pendapatan, berkurangnya pemasukan bisnis offline, atau diberhentikan dari pekerjaan sebelumnya," ujarnya dalam diskusi media secara virtual, Rabu (24/03/2021).

Sementara itu, 76,4% penjual mengatakan kemudahan mengelola bisnis menjadi alasan utama bergabung dengan Tokopedia. Saat pandemi pula, terdapat 90% penjual berskala mikro di Tokopedia.

“Pandemi telah mempercepat transformasi digital di berbagai sektor. Digitalisasi dan teknologi bukan lagi sekadar nilai tambah, tetapi telah berkembang pesat menjadi sebuah kebutuhan untuk menjawab tantangan pandemi,” ujar Direktur Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah Tokopedia, Astri Wahyuni.

Pandemi Covid-19 juga telah mengubah pola konsumsi masyarakat. Belanja online semakin menjadi alternatif masyarakat untuk memenuhi kebutuhan. Selain promo menarik yang ditawarkan platform online selama PSBB, menghindari potensi kontak virus menjadi alasan pembeli memilih berbelanja online.

Riset mengungkapkan, rata-rata pengeluaran bulanan konsumen sebelum dan saat pandemi di Tokopedia meningkat 71%. Kategori kesehatan, hobi, dan tagihan paling diminati selama pandemi. E-wallet terverifikasi dan mobile/internet banking adalah dua produk keuangan yang paling banyak didaftarkan saat pandemi. Selain itu, transaksi melalui virtual account dan e-wallet juga banyak dipilih selama pandemi.

“Di Tokopedia sendiri, terdapat pertumbuhan jumlah pengguna aktif bulanan dari yang semula lebih dari 90 juta sebelum pandemi (Januari 2020) menjadi lebih dari 100 juta saat ini,” lanjut Astri. Konsumen baru tersebut berasal dari kalangan ibu rumah tangga, pelajar, mitra aplikasi online, wirausaha tanpa karyawan dan pekerja lepas meningkat di masa pandemi. Aktivitas belanja online ini diprediksi tetap diminati meski pandemi berakhir.

"Kami berharap akan semakin banyak pihak yang lebih gencar berkolaborasi dalam membantu pegiat usaha di Indonesia, khususnya UMKM, terus berkontribusi memulihkan ekonomi. Mengingat UMKM berkontribusi lebih dari 60% terhadap PDB Indonesia," tutur Astri.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)