Pentingnya Manajemen Puasa Bagi Pasien Diabetes Melitus Tipe 2

Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) rentan terhadap risiko hipoglikemia saat berpuasa. Hipoglikemia yang tidak ditangani dengan baik dapat berpengaruh buruk pada kesehatan serta mengganggu kelancaran berpuasa.

Topik ini menjadi tema utama dalam Live Webinar : Management of Diabetes During Ramadhan Fasting yang diikuti oleh lebih dari 500 tenaga ahli kesehatan dari 7 kota besar di Indonesia (Jakarta, Surabaya, Samarinda, Medan, Malang, Yogyakarta, dan Semarang).

Narasumber dalam webinar adalah Prof. Dr. Saud N. M. Al-Sifri, dr. Wismandari Wisnu, SpPD-KEMD, dr. Dicky Leveanus Tahapary, SpPD, PhD, dan Dr. dr. Tri Juli Edi Tarigan, SpPD-KEMD, FINASIM. Hipoglikemia adalah kondisi kadar gula dalam darah yang berada di bawah kadar normal, yaitu kurang dari 70mg/dL.

Hasil studi EPIDIAR tahun 2001 di 13 negara dengan populasi muslim yang besar, sample 12.914 orang menunjukkan setidaknya 79% dari sample tersebut menjalankan ibadah puasa sedikitnya hingga 15 hari selama bulan Ramadhan. Saat bersamaan, risiko hipoglikemia pada pasien DMT2 meningkat hingga 7,5 kali lipat sepanjang bulan Ramadhan. Oleh karena itu, penting bagi pasen DMT2 untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan rekomendasi manajemen puasa yang tepat sehingga dapat mengontrol kadar gula darah dan mencegah hipoglikemia.

Ketua Departemen Endokrinologi dan Diabetes, RS Angkatan Bersenjata Al Hada Saudi Arabia, Prof. Dr. Saud N. M. Al-Sifri, mengatakan, berpuasa pada bulan Ramadhan sangat erat kaitannya dengan meningkatnya angka risiko hipoglikemia pada orang dengan diabetes. Oleh karena itu, pengelolaan diabetes saat Ramadhan sangatlah penting; seperti pemilihan terapi yang disesuaikan dengan kondisi pasien, pemantauan kadar gula darah rutin, dan anjuran penanganan diabetes. Untuk pemilihan terapi, penggunaan kelas terapi DPP4i menunjukan risiko rendah terjadinya hipoglikemia bagi pasien diabetes yang berpuasa selama Ramadhan, Oleh karenanya menjadi kelas terapi yang baik dan aman untuk pasien diabetes tipe 2.

Berdasarkan hasil kompilasi 9 studi mengenai pasien DMT2 yang berpuasa pada bulan Ramadhan, kelas terapi DPP4i juga terbukti lebih baik dalam menurunkan risiko hipoglikemia dibandingkan Sulfonilurea dengan tingkat keampuhan yang setara.3 Kelas terapi DPP4i juga tidak membutuhkan penyesuaian dosis dan waktu pemberian selama bulan Ramadhan sehingga membuat pasien DMT2 lebih nyaman menjalankan ibadah puasa.

Studi lain menunjukkan perbedaan hasil penggunaan terapi DPP4i dibandingkan dengan sulfonilurea. Aravind SR pada 2011 dengan metode observasional menunjukkan 20% dari 1.378 pasien DMT2 mengalami hipoglikemia selama mengonsumsi sulfonilurea pada bulan puasa.5 Studi tersebut kemudian dilanjutkan pada tahun 2012, di mana Aravind melakukan perbandingan konsumsi kelas terapi DPP4i dengan sulfonilurea. Hasil studi menunjukkan penggunaan kelas terapi DPP4i pada pasien DMT2 terbukti menurunkan risiko hipoglikemia sampai dengan 50% dibandingkan dengan sulfonilurea.6

Perwakilan PB PERKENI, dr. Dicky Levenus Tahapary, SpPD, Ph.D mengatakan, saat berpuasa, tidak hanya terjadi perubahan waktu makan dan jenis makanan, tapi pasien DMT2 juga akan tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu umumnya diperlukan beberapa perubahan dalam terapi diabetes yang diberikan sehingga kadar gula dalam tubuh tidak turun terlalu rendah(hipoglikemia), maupun naik terlalu tinggi (hiperglikemia).

Hipoglikemia saat puasa merupakan hal yang sering ditemui jika pasien diabetes tidak diberikan pengarahan yang memadai mengenai manajemen diabetes yang tepat selama puasa. Oleh karena itu, idealnya, tiap pasien DMT2 sebaiknya berkonsultasi dengan dokter 2-3 bulan sebelum bulan Ramadhan untuk mendapatkan persiapan sebelum puasa yang memadai dan mendapatkan rekomendasi manajemen diabetes yang tepat selama bulan puasa dan saat Hari Raya Lebaran.

Dokter Spesialis Endokrinologi RSCM, Dr. dr. Tri Juli Edi Tarigan, SpPD-KEMD, mengatakan, setidaknya setengah dari 20 juta orang Indonesia dengan diabetes melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Untuk mencegah risiko hipoglikemia pada penyandang diabetes yang besar tersebut, berikut beberapa faktor risiko yang harus diperhatikan: 1) kompleksitas diabetes, yaitu riwayat hipoglikemia pada pasien; 2) multi morbiditas, yaitu riwayat penyakit lain yang dapat berdampak pada penanganan; 3) farmakoterapi, yaitu obat-obatan yang pernah diminum sebelumnya; 4) profil pasien meliputi gaya hidup dan sosio ekonomi; 5) sistem kesehatan terkait kebijakan publik, penanganan kesehatan, dan sebaran informasi. Dengan mengacu pada faktor-faktor risiko tersebut, dokter dapat memberikan anjuran pada pasien dalam mengelola penyakit diabetes selama bulan Ramadhan.

Adapun gejala hipoglikemia mulai dari tingkat rendah hingga berat adalah sebagai berikut : pertama, gejala hipoglikemia tingkat rendah (kadar glukosa 60-70 mg/dl) yaitu jantung berdebar, gemetar, lapar, keringat dingin, cemas, dan lemas. Kedua, gejala hipoglikemia tingkat sedang (kadar glukosa 50-60 mg/dl) yaitu pasien mengalami perubahan perilaku, kesulitan mengontrol emosi dan konsentrasi, serta kebingungan. Ketiga, gejala hipoglikemia tingkat berat (kadar glukosa <50 mg/dl) yaitu kehilangan kesadaran, kejang, koma, gangguan fungsi pembuluh darah, inflamasi, gangguan pembekuan darah, gangguan irama dan kontraksi detak jantung yang berujung pada kematian.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)