Pentingnya Perusahaan Tingkatkan Keamanan Siber

Survei yang dilakukan oleh Trend Micro, perusahaan anti virus yang bergerak di bidang keamanan data dan jaringan mengungkapkan terjadi peningkatan sebesar 172% jumlah ransomware pada periode tengah tahun pertama tahun 2016 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Tercatat sebanyak 79 famili ransomware baru terdeteksi.

Riset yang dilakukan oleh Trend Micro menunjukan 50 persen perusahaan di Asia Pasifik belum memahami pola serangan siber dan cara mengamankan data perusahaan mereka. Data yang dirilis FBI, di Amerika Serikat, kerugian perusahaan yang disebabkan oleh ransomware pada triwulan pertama 2016 mencapai US$ 209 Juta.

Country Manager Trend Micro Indonesia, Andreas Kagawa, mengatakan, perusahaan perlu menyadari dan mengantisipasi bahaya dari kejahatan siber yang disebabkan oleh serangan dari jenis virus yang mulai beredar sejak 2004 silam. “Dulu berbeda orang membuat virus untuk menunjukkan eksistensi. Sekarang, para pembuat virus dapat menguangkan virus tersebut untuk melakukan sejumlah kejahatan,” kata Andreas saat ditemui oleh SWA Online saat acara CLOUDSEC 2016, di Hotel Fairmount, Jakarta Selatan, Selasa (30/8).

IMG_7273

Andreas menambahkan, penting bagi tim keamanan teknologi informasi perusahaan untuk meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi kejahatan siber. Pasalnya, Indonesia masih menjadi salah satu sasaran kejahatan siber karena masih kurangnya pengetahuan akan bahaya dari ransomware.

Cara kerja ransomare adalah dengan membidik beberapa dokumen perusuahaan yang terdiri atas presentase 52% database files, 19% sql files, 14% web pages, 10% tax return files, dan 5% Mac OS files. Ia mengatakan setelah virus berhasil menguasai file yang diinginkan biasanya para pembuat virus akan meminta tebusan. “Namanya penjahat kita tidak pernah tahu setelah membayar apakah akan dikembalikan data kita atau tidak. Di beberapa negara malahan diancam data yang sifatnya rahasia akan dipublikasikan,” jelas Andreas.

Ransomware merupakan tipe malware yang membatasi pengguna komputer menggunakan perangkatnya.Dalam hal ini, para pembuat virus akan memanfaatkannya untuk mengambil alih komputer dan data-data yang kemudian akan dimintai tebusan kepada pemilik data atau jaringan yang terinfeksi ransomware. Biasanya virus akan mencari jalan untuk masuk ke sistem perusahaan melalui email yang diterima oleh anggota perusahaan.

Sejumlah ahli teknologi jaringan memprediksi tahun 2016 sebagai extortion online year dimana akan banyak terjadi pemerasan dengan memanfaatkan teknologi jaringan dunia maya. Hal ini membuat potensi kejahatan di dunia maya menjadi meningkat dengan sasaran utama perusahaan sebagai korbannya.

Penggunaan big data, cloud computing, mobility membuat perusahaan mesti mewaspadai ancaman-ancaman kejahatan di dunia maya. Laporan Gartner, sebuah lembaga riset teknologi yang berbasis di Stamford mengatakan, pada tahun 2020, 60% bisnis berbasis digital akan mengalami kegagalan besar jika tidak menyiapkan menghadapi risiko-risiko kejahatan siber. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)