Perbedaan Risiko Tembakau Dibakar dan Dipanaskan

Masih banyak orang bingung dengan cara kerja produk tembakau alternatif. Ada anggapan bahwa produk ini menghasilkan asap dan dibakar layaknya rokok. Anggapan ini salah. Produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan dan rokok elektrik memiliki cara kerja yang berbeda dengan rokok.

Faktanya produk tembakau alternatif (dipanaskan) bekerja dengan memanaskan tembakau pada suhu terkontrol di bawah 350ºC. Dengan menjaga suhu tersebut, maka proses pembakaran tidak akan terjadi. Karena produk tembakau yang dipanaskan tidak membakar tembakau dan tidak memerlukan api, maka produk tembakau alternatif tidak menghasilkan asap seperti pada rokok. Pemanasan tembakau menghasilkan uap terutama mengandung air dan nikotin.

Dengan tidak adanya pembakaran dan asap, produk ini dapat menurunkan risiko terhadap kesehatan hingga 90 -95 persen lebih rendah dibanding rokok.

“Produk tembakau yang dipanaskan telah terbukti menghasilkan kadar zat kimia yang jauh lebih sedikit daripada rokok. Ada hipotesis bahwa dengan beralih dari rokok ke produk tembakau yang dipanaskan, peningkatan kesehatan secara klinis dapat diamati,” kata Profesor Riccardo Polosa dari Universitas Catania, Italia, yang telah meneliti produk ini dalam beberapa tahun terakhir, seperti dikutip dari laman manilatimes.net (25/10/2021).

Lantas, apa bedanya dengan rokok elektrik? Sebagian dari kita pasti tidak asing lagi dengan rokok elektrik atau yang lebih dikenal vape. Sama seperti produk tembakau yang dipanaskan, cara kerja produk ini melalui pemanasan, bukan pembakaran.  Bedanya dengan produk tembakau yang dipanaskan, vape memanaskan cairan nikotin (e-liquid). Cairan tersebut dipanaskan atomizer atau sistem pemanas yang berada di dalam vape.

Jadi, penggunanya menghirup nikotin dalam bentuk uap, bukan asap.  “Vape tidak berisiko tinggi karena berupa carian nikotin yang menguap,” kata Dr. Konstantinos Farsalinos, peneliti dari University of Patra Yunani seperti dikutip dari themalaysianreserve.com.

Berbeda dengan produk tembakau yang dipanaskan, rokok dikonsumsi melalui proses pembakaran. Saat dibakar, suhu pada ujung rokok sangat tinggi, bahkan dapat mencapai hingga 600 – 800 derajat Celcius saat diisap.

Proses pembakaran tersebut menghasilkan ribuan senyawa berbahaya yang berpotensi meningkatkan risiko kesehatan di antaranya TAR, karbon monoksida, formaldehida, benzene, dan lain-lain.  Berdasarkan data National Cancer Institute Amerika Serikat, TAR mengandung berbagai senyawa karsinogenik pemicu kanker. Dari sekitar 7.000 bahan kimia yang ada pada asap rokok, 2.000 di antaranya terdapat pada TAR.

“Studi telah menunjukkan bahwa ketika suhu rokok naik, tingkat zat kimia berbahaya yang dihasilkan juga meningkat,” kata Profesor Victor Gurevich, Kepala Departemen Aterosklerosis, Fakultas Kedokteran, Universitas Negeri St. Petersburg Rusia, dikutip dari allafrica.com.

www.swa.co.id       

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)