Perlu Kolaborasi Diaspora dan Ilmuwan Indonesia

Potensi anak bangsa sebagai diaspora Indonesia begitu besar. Arifin Angriawan, salah seorang diaspora Indonesia yang memiliki prestasi membanggakan sebagai profesor di Purdue University Northwest. Menurutnya, peluang ilmuwan atau peneliti di Indonesia begitu banyak untuk bisa menjalin kolaborasi dengan ilmuwan diaspora seperti dirinya. Topik permasalahan dan waktu untuk bisa berkomitmen menjadi persoalan krusial. Baginya kompetensi ilmuwan Indonesia sudah memiliki kualitas yang sama-sama kompeten, tidak tertinggal dengan luar negeri.

Arifin Angriawan, Profesor Purdue University Northwest (kelima dari kiri) saat memberikan sharing experience di Thammasat University, Thailand.

Arifin pernah mempelajari beberapa hal mengenai diversikasi usaha saat di Amerika. Persoalan ini menjadi penelitian yang lumayan banyak dilakukan di luar negeri. “Kami coba testing di Indonesia, beberapa hal yang berhubungan dengan manajer puncak dan diversifikasi usaha dengan menggunakan data perbankan Indonesia. Di situ saya bekerja sama dengan beberapa profesor dari Universitas Sebelas Maret di Solo,” ungkapnya. Ini menjadi bukti banyak sekali bidang penelitian yang dapat dikolaborasikan.

Seperti konsentrasi pendidikannya yaitu ilmu sosial dan manajemen dapat dihubungkan dengan masalah perbankan, ekonomi, kurs dan lain sebagainya meskipun ada perbedaan. Dirinya juga pernah mengusulkan kepada salah satu universitas di Amerika untuk membangun manajemen Indonesia. “Jadi penelitian di luar negeri untuk manajemen itu belum tentu bisa dilakukan di Indonesia karena perbedaan kultur. Hal ini bisa perlahan diadaptasi oleh Indonesia. Peluangnya sangat luas untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam,” dia menegaskan.

Menurutnya, intensitas riset atau proyek penelitian yang banyak dilakukan oleh akademisi Indonesia menjadi penghambat kolaborasi dengan ilmuwan diaspora di luar. Jika ingin adanya riset bersama memang harus mengurangi tugas-tugas mereka. Baginya yang paling krusial dalam kerja sama keduanya adalah masalah waktu dan pilihan topik yang sama. “Fasilitas yang berkenaan dengan teknologi memang tidak terlalu banyak digunakan saat melakukan penelitian bisnis, hanya software-software yang telah tersedia. Fasilitas untuk penelitian di bidang manajemen sudah setara, bahkan dana risetnya-pun sudah sangat lumayan,” ujarnya.

Arifin menganggap kurangnya kolaborasi karena adanya perbedaan time management keduanya. Adanya pergerakan dari dua arah sangat dibutuhkan, tidak hanya pergerakan dari diasporanya saja, namun dari ilmuwan dalam negeri juga. “Mungkin jika orang diasporanya tidak bisa berkunjung, ilmuwan Indonesia bisa datang. Mereka dapat memanfaatkan fasilitas riset bersama atau visiting profesor sehingga dapat bekerja bersama. Cara jemput bola ini juga mampu membuka wawasan yang lebih luas,” ujarnya. Dari sisi lembaga universitas tidak ada masalah, karena universitas di Amerika sangat terbuka dan mengglobal. “Mereka sangat open untuk mengizinkan kerja sama. Memang kuncinya adalah ada orang yang bisa memperkenalkan dan itu tugas atau peran diaspora,” tambahnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan,  perlu sebuah forum atau grup sehingga dapat saling mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh keduanya. Arifin memberi contoh apa yang telah dilakukan universitasnya. "Di universitas tempat saya mengajar, kami saling bertukar biografi dan CV dengan universitas lain. Jadi keduanya dapat melihat CV masing-masing, sehingga dapat saling mengenal. Dari situ kita saling menilai dan berlanjut ke sebuah kolaborasi,” ungkapnya. Ini bisa dilakukan oleh Kementerian Luar Negeri sebagai jembatan untuk mempertemuakan dua kebutuhan. Adanya pusat data base mampu memudahkan menciptakan kerja sama dan mewujudkan untuk berkomitmen menggarap sebuah penelitian.

 

Reportase: Yosa Maulana

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)