Perspebsi Gandeng BAPETEN Gelar Program Pelatihan Proteksi dan Keselamatan Radiasi

(Kiri – Kanan): Ketua Organizing Committee. Dr. Mochammad Evodia S.R, Sp.BS, Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Fatmawati. Dr. Loli J. Simanjuntak, Sp.PD. MARS, Ketua Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia (PERSPEBSI). Prof. Dr. dr. Abdul Hafid Bajamal, Sp.BS (K),  Deputi Pengkajian Keselamatan Nuklir BAPETEN. Dr. Yus Rusdian Akhmad, M.Eng, Kepala Balai Diklat BAPETEN. Ir. Lukman Hakim, M.Ak, M. Eng, Ketua Kolegium Bedah Saraf Indonesia. Dr.dr. Setyo Widi Nugroho, Sp.BS (K), dan .Dr.dr. Harsan Sp.BS, M.Kes.
 
 

Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia (Perspebsi) menggandeng Balai Pendidikan dan Pelatihan Badan Pengawas Tenaga Nuklir Indonesia (Bapetan) untuk menggelar program pelatihan proteksi dan keselamatan radiasi untuk anggota Perspebsi.

Program sertifikasi ini merupakan yang pertama kalinya diadakan untuk dokter spesialis bedah saraf. Melalui program ini, rencananya dapat memberikan sertifikasi kepada lebih dari 300 orang dokter spesialis bedah saraf. Penandatanganan nota kesepahaman ini dilakukan oleh Abdul Hafid Bajamal, Perspebsi dan Lukman Hakim, Kepala Balai Diklat Bapeten.

Menurut Ketua Organizing Committee Perspebsi, Mochammad Evodia, dengan adanya pelatihan ini, para sejawat bedah saraf diharapkan dapat memiliki pemahaman yang lebih baik tentang bahaya paparan radiasi serta mampu memproteksi dirinya secara benar sesuai standarisasi yang ada, sehingga bisa bekerja optimal dengan risiko komplikasi minimal dalam melayani masyarakat.

Kerjasama kemitraan ini akan terimplementasi dalam bentuk program pelatihan yang terbagi menjadi beberapa batch dalam periode waktu 2 tahun dan dapat diperpanjang, dengan masing-masing batch akan diikuti oleh 40 orang peserta.

Ia menambahkan, target partisipan dari program pelatihan ini adalah dokter spesialis bedah saraf, tenaga kesehatan pada fasilitas neurologi intervensi dan pihak manajemen pada fasilitas neurologi intervensi.

Seluruh peserta akan mendapatkan sertifikat pelatihan sebagai bentuk pengakuan kompetensi yang telah di dapat dari mengikuti program ini. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya radiasi, sehingga dibutuhkan suatu pemahaman yang lebih mendalam tentang bahaya radiasi dan bagaimana cara memproteksi diri secara baik dan benar yang mengacu pada standarisasi yang telah dikeluarkan oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir Indonesia.

Pemanfaatan radiasi dalam bidang neuro intervensional surgery meskipun dinilai aman namun tetap memiliki dampak yang berbahaya jika tidak diawasi dan dikendalikan. Paparan dosis radiasi yang berlebihan dapat menimbulkan dampak buruk bagi tubuh petugas medis, baik yang langsung dirasakan dalam waktu singkat maupun yang bersifat akumulatif dalam periode waktu yang relatif panjang.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)