Pertamina dan PTBA Gandeng Perusahaan AS Garap Gas dari Batubara | SWA.co.id

Pertamina dan PTBA Gandeng Perusahaan AS Garap Gas dari Batubara

PT Bukit Asam , PT Pertamina dan Air Products and Chmicals resmi menandatangani pokok perjanjian pembentukan perusahaan patungan hilirisasi mulut tambang batubara PTBA Peranap Riau

PT Bukit Asam (PTBA), PT Pertamina, dan Air Products and Chmicals resmi menandatangani pokok perjanjian pembentukan perusahaan patungan hilirisasi mulut tambang batubara PTBA Peranap Riau (16/01/2018).

Penandatanganan ini merupakan kelanjutan dari nota kesepahaman kerja sama hilirisasi batubara menjadi dimethylether (DME) pada 7 November 2018 lalu di Allentown, Amerika Serikat.

Lewat perjanjian ini, ketiga perusahaan akan mendirikan perusahaan patungan yang bergerak dibidang bisnis pengolahan batubara dan produk turunanannya. Melalui teknologi yang dibawa Air Products, yakni gasifikasi, batubara akan diubah menjadi syngas yang kemudian akan diproses menjadi produk akhir.

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, mengatakan, kerja,sama ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan impor Indonesia. “Pada 2018 kemarin, konsumsi LPG sebesar 7,4 juta metrik ton. Sebesar 5,3 juta metrik ton-nya impor. Kami ingin mengurangi ketergantungan ini dan menggantikan LPG dengan resource yang ada di domestik yakni batubara (DME),” katanya.. Dia menambahkan, kerja sama ini juga untuk menyokong kebutuhan LPG yang terus naik.

Tercatat dalam 5 tahun terkahir pertumbuhan permintaan LPG naik sebesar 40%. Hal ini, menurutnya, dikarenakan, adanya program pemerintah untuk mengkonversi minyak tanah ke gas yang tidak hanya menyasar konsumen rumah tangga, tetapi juga sektor industri.

“Kami melihat demand LPG akan terus naik, sementara kapasitas LPG dalam negeri terbatas," ungkapnya. Keterbatasan tersebut, menurutnya, dikarenakan adanya limitasi bahan baku dan infrastruktur. Saat ini pertamina hanya bisa menghasilkan 1 juta metrik ton per tahun dari kilang milik pertamina.

Sementara itu, Arviyan Arifin, Direktur Utama PTBA mengatakan adanya hilirisasi batu bara dapat menghasilkan DME untuk pengganti bahan baku LPG yang sebagian besar masih impor. Sehingga, menurutnya, hilirisasi batubara ini secara langsung dapat menghemat devisa negara.

“Hilirisasi yang dilakukan PTBA diperkuat dengan total sumber daya batubara sebesar 8,3 ton dan total cadangan batubara sebesar 3,3 miliar ton,” kata dia. Ariviyan menjelaskan, setelah penandatanganan, maka selanjutnya adalah proses visibility study yang direncanakan akan selesai pada bulan Februari mendatang dan dilanjutkan dengan pembentukan join venture company.

Nicke melanjutkan, saat ini pihaknya telah melakukan percobaan proyek pertama dengan mengubah 5 juta ton batubara menjadi 1,4 juta metrik ton. Artinya, jika ingin menggantikan kebutuhan impor sebesar 5,3 juta metrik ton, maka diperlukan 27,5 juta ton batu bara per tahun. “Angka tersebut more than enough untuk memenuhi kebutuhan LPG kita yang sebelumnya impor. Ini baru di satu wilayah, belum di wilayah PTBA yang lain. Kami jamin nanti harganya akan lebih murah,” ujarnya menegaskan.

Menteri BUMN, Rini Soemarno, berharap realisasi berdirinya hilirisasi batubara agar segera terwujud. Menurutnya, Indonesia harus tetap mengembangkan industri hilirisasi batubara bukan hanya dalam rangka mengurangi impor tapi juga mengembangkan ekspor.

“Hilirisasi juga penting dalam upaya mengurangi polusi dari batubara dengan memproduksi clean energy berupa syngas yang akan menjadi hulu dari berbagai produk seperti DME bahkan sampai solar dan avtur,” kata dia.

Adapun groundbreaking akan di mulai pada awal maret 2019 dengan masa pengerjaan 12-18 bulan. Sementara, pabrik direncanakan akan mulai berproduksi pada tahun depan. “Kita tidak akan hanya berhenti disini, kedepan kita akan bangun pabrik hilirisasi batubara di tanjung enim, Sumatra Selatan,” kata dia.

Presiden and CEO Air Products, Seifi Ghasemi, menjelaskan, pihaknya akan bersungguh-sungguh berinvestasi di Indonesia dan menjadi bagian penting dari berdirinya industri dan teknologi upstream yang menghasilkan syngas dan kemudian diolah melalui teknologi downstream menjadi DME.

Sebagai tambahan, pabrik hilirisasi batubara pertama ini akan dibangun di Mulut Tambang Batubara Peranap, Riau. Nantinya, PTBA akan menyuplai ke perusahaan patungan untuk diolah menjadi produk akhir yang akan dibeli oleh pertamina. Sementara itu, optimasi desain teknologi pengolahan akan dilakukan oleh Air Products and Chemical. Adapun kapasitas produksi yang dimilikinya sebesar 1,4 juta ton DME per tahun dengan kebutuhan batubara sebesar 9,2 juta ton per tahunnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)