Pertemuan BPOM-OKI Bisa Perbaiki Kinerja Ekspor Vaksin

Forum pertemuan antara Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI dengan Kepala Otoritas Regulatori Obat (National Medicine Regulatry Authorities/NMRAs) dari negara-negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang berlangsung pada 20 hingga 21 November  diprediksi dapat meningkatkan kinerja perdagangan Indonesia, khususnya ekspor vaksin Indonesia sebagai salah satu komoditas nonmigas yang prospektif.

Menurut pengamat ekonomi makro yang juga Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, meski sumbangan ekspor vaksin memang relatif kecil terhadap total ekspor nonmigas, namun pertemuan BPOM-OKI kemarin berpotensi untuk menghasilkan peningkatan kinerja yang lebih besar lagi.

"Selama ini pasar negara-negara mayoritas muslim seperti Timur Tengah memang kurang menjadi perhatian Indonesia. Dengan adanya forum ini, ekspor yang menyasar negara-negara potensial non tradisional bisa mendapat lebih banyak perhatian. Dan ini memang sudah seharusnya dilakukan," tuturnya.

Faisal menambahkan, industri vaksin masih punya peluang untuk memperbesar kontribusi ekspor nonmigas dengan meningkatkan produk-produknya secara konsisten.

Menurutnya, dengan memperkuat research and development yang fokus untuk memunculkan inovasi-inovasi produk vaksin, saya pikir kontribusi sektor ini bisa lebih besar. Apalagi jika disertai dengan riset pendahuluan terhadap kebutuhan dan preferensi masing-masing pasar ekspor yang tentunya berbeda antara satu negara dengan negara lain.

Hal senada juga diungkapkan oleh pengamat komunikasi politik dari Universitas Islam Bandung, Muhammad Fuady. Menurutnya, isu pembangunan dan kesehatan adalah masalah riil yang dihadapi OKI, khususnya 21 negara anggota yang terkategori miskin.

"Sebagai salah satu negara yang memiliki kemampuan dalam produksi obat dan vaksin, Indonesia dapat mendorong kerja sama yang memperkuat kemandirian OKI. Sekaligus peluang Indonesia untuk meningkatkan kinerja ekspornya di bidang farmasi, apalagi jika ingin bersaing dengan Eropa," ungkapnya.

Publik, tambah Fuad, sudah terlalu lelah dengan sajian media yang selalu berkisar pada konflik antar negara, walaupun isu perang dan perdamaian di negara Timur Tengah masih menjadi sesuatu yang disukai media.

Padahal permasalahan yang dihadapi OKI bukan hanya soal politik, toleransi, harmonisasi, namun juga isu kesehatan, pembangunan ekonomi dan sosial. Dalam hal ini, kita bisa mengambil peran dengan mendorong kampanye isu kesehatan di negara-negara OKI.

Indonesia selama ini mengambil peran yang besar dalam mendorong perdamaian di Timur Tengah. Dengan mengambil isu kesehatan, reputasi Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia yang memiliki terobosan dalam industri obat dan vaksin semakin kuat. "Apalagi isu vaksin halal merupakan isu yang seksi di negara-negara OKI," ungkapnya.

Editor: Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)