Perundingan “Long Weekend” Trio Menteri di Wuyi, Tiongkok

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (kedua dari kiri), Menteri BUMN Erick Thohir (kedua dari kanan), Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi), didampingi Duta Besar RI di China
Djauhari Oratmangun (paling kiri) menuju tempat perundingan
(Foto-foto: KemenBUMN, Kemenlu, Kemendag).

Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, dan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dengan cekatan dan kompak saling berbagi tugas berunding dengan mitra mereka di Wuyi, China. Dalam kunjungan kerja singkat pada 2 dan 3 April 2021, saat long weekend libur Paskah di Indonesia, mereka membahas finalisasi sejumlah program kerja sama yang menjadi area tanggung jawab masing-masing. Erick Thohir, misalnya, melakukan pertemuan antara lain dengan Vice Chairman dari State-Owned Asset Supervision and Administration (SASAC), Mr. Ren Hongbin. Salah satu agenda utama mereka, membahas peningkatan kerjasama BUMN antar kedua negara.

SASAC adalah instansi pemerintah Tiongkok yang mengelola 97 BUMN Tiongkok. “Saya bertemu dengan mereka untuk mempelajari bagaimana Tiongkok berhasil mereformasi dan mentransformasi BUMN mereka untuk menjadi lebih efisien, memberikan kontribusi yang maksimal untuk masyarakat, dan menjadi pemain kelas dunia,” tutur Erick Thohir, Jumat 2 April 2021.

Bersama Erick Thohir, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi juga melakukan pertemuan dengan beberapa produsen utama vaksin di Tiongkok. Seperti dipaparkan Retno, pada pertemuan tersebut, mereka membahas bagaimana antar kedua belah pihak dapat memperkuat kerjasama di bidang vaksin dengan masing-masing perusahaan, termasuk potensi kemitraan jangka panjang yang dapat dijalankan.

Erick Thohir (kiri), Retno Marsudi (di belakang), dan Muhammad Lutfi (kanan),
memeriksa ulang materi-materi yang akan dibahas.

Pada waktu pertemuan bilateral, Retno bersama Erick dan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi juga membahas sejumlah hal dengan State Councillor/Foreign Minister China Wang Yi, dan Wakil Menteri Perdagangan China. ” Kami membahas komitmen kami untuk bekerja sama, juga bagaimana kita bersama dapat mengatasi pandemi dan membangun pemulihan ekonomi.”

Retno secara khusus juga mengadakan pertemuan empat mata, tete-a-tete meeting, dengan Wang Yi. Ini merupakan pertemuan ketiga secara pribadi Retno dan Wang Yi sejak awal pandemi. “Pertemuan yang sangat terbuka dan produktif tentang perkembangan geopolitik regional, serta kerja sama tentang vaksin,” ungkap Retno.

Dari kiri: Erick Thohir, Retno Marsudi, State Councillor/Foreign Minister China Wang Yi,
dan Muhammad Lutfi.

Terkait kerja sama dengan BUMN China, menurut Erick Thohir, BUMN Indonesia dan BUMN Tiongkok mempunyai misi dan visi yang sama untuk negaranya. “Sama dengan BUMN kita, BUMN Tiongkok juga memberikan kontribusi ke masyarakat selain membantu peningkatan penerimaan negara. Namun ada perbedaan antara mereka dan kita. Bayangkan, dalam daftar Global Forbes 500, 48 diantaranya BUMN Tiongkok yang dikelola SASAC. Sedangkan BUMN kita sendiri baru ada 2 di daftar itu, BRI dan Mandiri” ujar Erick.

Dalam pertemuan dengan SASAC, kedua belah pihak sepakat untuk melanjutkan dialog dan membuat platform kerjasama BUMN antar kedua negara yang lebih kongkrit. Untuk mewujudkan kerja sama yang berkelanjutan, SASAC mengundang Kementerian BUMN dan BUMN Indonesia untuk melakukan pertemuan rutin dengan mereka dan BUMN Tiongkok. Selain itu, SASAC dan Kementerian BUMN juga akan meninjau beberapa proyek kerjasama di sektor ketenagalistrikan dan kerjasama investasi perikanan kelas dunia untuk wilayah Timur Indonesia.

Pertemuan empat mata, tete-a-tete meeting, Menlu Retno Marsudi dengan Wang Yi. State Councillor/Foreign Minister China Wang Yi,

Selain itu, Erick juga bertemu dengan perwakilan dari CBL yang merupakan konsorsium Tiongkok yang terdiri dari Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL), Brunp, dan Lygend. Konsorsium ini bermitra dengan konsorsium BUMN Indonesia yang terdiri dari MIND ID, Pertamina, PLN, dan Antam untuk pengembangan EV Battery. “Saya ingin memastikan bahwa CBL berkomitmen untuk kerjasama ini dan segera menindaklanjuti nota kesepahaman yang telah ditandatangani sebelumnya. Saya tegaskan proyek investasi ini didukung penuh oleh pemerintah karena akan memberikan nilai tambah yang besar bagi sektor pertambangan kita. Skema kerjasama ini tidak hanya membuat Indonesia menjadi pasar, tapi dengan transfer teknologi kita akan menjadi pemain EV Battery kelas dunia.”

Secara paralel, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengadakan pertemuan bilateral dengan Wakil Menteri Perdagangan China Zhang Xiangchen. Menurut Lutfi, mereka membahas aktivasi pembaruan kerangka kerja sama ekonomi dan perdagangan bilateral antara kedua negara dengan meningkatkan investasi dan kerja sama industri.

Erick Thohir, Retno Marsudi dan Djauhari Oratmangun berunding dengan beberapa produsen vaksin terkemuka di China, untuk memperkuat kerjasama di bidang vaksin dan membahas potensi kemitraan jangka panjang yang dapat dijalankan.

Lutfi juga mengagendakan pertemuan dengan importir produk sarang burung wallet dari Indonesia di China. “Kami membahas apa saja kendala yang mereka hadapi dan bagaimana solusinya,” ujar Lutfi.

Antara lain dengan langkah-langkah itu, Lutfi berharap ekspor Indonesia ke China dapat terus meningkat siginifikan. Pada 2020, ekspor Indonesia ke China menembus rekor US$ 31,7 miliar, meningkat 13,64% dibandingkan tahun sebelumnya.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengadakan pertemuan bilateral dengan Wakil Menteri Perdagangan China Zhang Xiangchen.

Pada hari yang sama, Lutfi menyaksikan penandatanganan Letter of Intent (LoI) pembelian produk kayu dengan nilai kontrak US$ 200 juta antara perwakilan Shandong Timber & Wood Association dan Duta Besar Indonesia untuk China dan Mongolia, Djauhari Oratmangun.

Selain LoI di atas, Lutfi juga menyaksikan penandatanganan 6 LOI antara importir Cina dan Indonesia, yang meliputi produk-produk sarang burung walet, buah-buahan, dan furnitur berbahan kayu. Nilai kontrak mencapai US$ 1,38 miliar (sekitar Rp 20 triliun mulai tahun ini hingga 2023).

Menteri Lutfi menyaksikan penandatanganan Letter of Intent antara salah satu perwakilan importir di China dan Duta Besar Indonesia untuk China dan Mongolia,
Djauhari Oratmangun.

Perundingan antar negara yang melibatkan sejumlah menteri ini menarik. Juga terlihat efisien dan efektif. Antar kementerian dapat saling melengkapi dan mendukung. Untuk bisa mewujudkan perundingan seperti ini, tentu memang dibutuhkan persiapan yang matang dari semua staf kementerian yang terlibat di masing-masing negara dan peran duta besar serta para atase di masing -masing negara. Dan yang tak kalah penting setelah ini, bagaimana kesepakatan-kesepakatan yang berhasil dicapai ini dapat dikawal dan direalisasikan oleh tim di setiap kementerian.

swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)