Perusahaan Bidik Celah Bisnis di Proyek Palapa Ring

Pemerintah menggenjot pembangunan infrastruktur, salah satunya proyek Palapa Ring di sektor telekomunikasi. Palapa Ring ini terdiri dari tiga wilayah pembangunan, yakni Paket Barat, Paket Tengah, dan Paket Timur. Proyek Palapa Ring untuk Paket Barat membutuhkan kabel serat optik yang terbentang sejauh 2 ribu km yang mencakup wilayah Riau hingga Natuna. Untuk Paket Tengah menggunakan kabel serat optik sejauh 2.700 km di Kalimantan, Sulawesi hingga Maluku Utara. Adapun, paket timur sejauh 6.300 km. Paket Barat mencakup wilayah Riau, dan Kepulauan Riau (hingga natuna) sejauh 2.000 km untuk wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua Barat, hingga menuju pedalaman Papua.

rudiantara1

Pembangunan jaringan serat optik nasional ini Palapa Ring diharapkan mendongkrak industri kabel, telekomunikasi serta membuka peluang bisnis bagi pelaku usaha. PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST), misalnya, membentuk perusahaan patungan. IBST bersama PT Mora Telematika Indonesia dan PT Smart Telecom membentuk badan usaha PT Palapa Timur Telematika (PTT) untuk menggarap Palapa Ring Paket Timur. Dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indoneia pada Agustus, diumumkan modal dasar PTT sebesar Rp 20 miliar serta modal ditempatkan dan disetor senilai Rp 11 miliar. Jumlah lebar saham dikeluarkan sebanyak 1.100 dengan nilai nominal Rp10 juta per saham. Moratelindo menguasai 70% saham PTT, 28% dikuasai IBST, dan 22% milik Smart Telecom.

Kementerian Perindustrian menilai proyek Palapa Ring merupakan program pembangunan infrastruktur yang menjadi penyokong utama telekomunikasi. Maka itu, PT Jembo Cable Tbk, produsen kabel listrik, telekomunikasi, serat optik, dan panel surya, tak mau ketinggalan mengantisipasi tingginya permintaan kabel serat optik di masa mendatang. Penjualan perseroan berdasarkan pangsa pasar terdiri dari penjualan ke distributor sebesar 29,99%, PLN (29,16%), Telkom 22,53% dan swasta (free market) 18,32%. Pabrik Jembo Cable berlokasi di Jatiuwung, Tangerang, Penjualan Jembo Cable pada 2016 diproyeksikan tumbuh menjadi Rp 2,17 triliun dari realisasi tahun lalu Rp 1,66 triliun. Penjualan perseroan hingga semester I di tahun ini telah mencapai kisaran 50% atau senilai Rp 1,02 triliun dari target penjualan di tahun ini. Selain itu, proyek Palapa Ring juga menarik investasi, semisal PT Yangtze Optical Fiber Indonesia yang di September silam mengumumkan pembangunan pabrik serat optik berkapasitas 3 juta km per tahun di Karawang, Jawa Barat.

Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara, menyebutkan proyek Palapa Ring akan melayani 400 kabupaten/kota di Indonesia yang telah terhubung jaringan pita lebar (broadband). Saat ini, sekitar 10% dari 74.000 kelurahan di Indonesiamasih belum terlayani jaringan telekomunikasi. Pemerintah ingin merampungkan proyek Palapa Ring pada akhir tahun 2018. “Pada 1 Januari 2019 mulai beroperasi sepenuhnya di semua ibukota dan kabupaten di Indonesia sudah punya akses broadband dan daerah non-financially feasible (tidak layak secara bisnis/keuangan) dapat terlayani,” ucap Rudiantara di Serpong, beberapa waktu lalu.

Palapa Ring merupakan bagian dari program penunjang perekonomian digital. Pemerinta menakar nilai bisnis perekonomian digital pada 2020 mencapai US$ 130 miliar. Untuk memuluskan perekonomian digital maka pemerintah menyiapkan infrastruktur komunikasi yang menjadi tanggung jawab Kominfo. ”Semua aplikasi tidak akan berjalan apabila infrastrukturnya tidak ada. Ibarat mobil tidak bisa melaju apabila tidak ada jalan raya, maka itu harus dibangun infrastrukturnya,” jelas Rudi.

Pembangunan infrastruktur komunikasi akan memangkas kesenjangan digital. Rudiantara menyebutkan rata-rata kecepatan internet di Jakarta mencapai 47 mb/detik, lebih tinggi dari rata-rata kecepatan internet nasional sekitar 2,5-3 mb/detik. Kecepatan internet di Jakarta itu setingkat di bawah Singapura, tetapi lebih tinggi dibandingkan Bangkok serta Kuala Lumpur. Namun, Rudiantara menekankan rata-rata kecepatan internet di daerah, seperti di Papua dan Maluku hanya sebesar 300 kb/detik. “Inilah yang menjadi fokus kami untuk diperbaiki bagaimana memperkecil gap tersebut dari sisi pelayanan dan harga,” ucap Rudiantara. Proyek ini akan membangun infrastruktur jaringan tulang punggung serat optik nasional di daerah-daerah non komersial demi pemerataan akses pita lebar di Indonesia. Jadi, pada tahun 2019, semua ibu kota kabupaten dan kotamadya telah terhubung dengan broadband. (*)

Reportase : Jeihan Kahfi Berlian

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)