Perusahaan TIK Harus Berkolaborasi untuk Meminimalkan Risiko

Chief Finance dan Business Partner Officer PT Telekomunikasi Indonesia International (kiri)

Di era digital, perusahaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) tidak dapat hanya bertumpu pada kekuatan perusahaan sendiri. Melainkan harus berkolaborasi dalam upaya mengoptimalkan peluang, keuntungan, dan mengurangi risiko dengan cara memadukan strategi co-creation dan mengembangkan inovasi di bisnis model. Demikian diungkapkan Chief Finance dan Business Partner Officer Telin, Leonardus Wahyu Wasono Mihardjo.

Wahyu berhasil menyelesaikan Program Studi Doctor of Research in Management Binus University dengan disertasi berjudul Kinerja Transformasional pada Bisnis Digital di Industri Teknologi Informasi dan Komunikasi. Disertasi ini juga memecahkan rekor jurnal internasional terbanyak mahasiswa S3 dengan jumlah publikasi 45 jurnal ilmiah. Promotor utama disertasi ini Prof. Dr. Ir. Sasmoko, M.Pd, dengan co-promotor Firdaus Alamsjah, PhD dan Dr. Elidjen, S.Kom, MinfoCommTech. Promosi doktor diselenggarakan di Aula Universitas Bina Nusantara (21/2/2020).

Leonardus menemukan pergeseran transformasi ke arah bisnis digital, yaitu dari strategi berbasis kekuatan perusahaan (comparative dan competitive advantage) menuju strategi berbasis cooperative advantage atau biasa dikenal dengan strategi co-creation.

“Dalam era digital, perusahaan TIK tidak dapat bertumpu hanya pada kekuatan perusahaan sendiri, melainkan harus berkolaborasi dalam upaya mengoptimalkan peluang, keuntungan, dan mengurangi risiko dengan cara memadukan strategi co-creation dan mengembangkan inovasi di bisnis model,” demikian dipaparkannya.

Disertasi ini menemukan bahwa fase transformasi digital industri TIK di Indonesia harus bertumpu pada kompetensi utama yang unik dari masing-masing perusahaan sebelum dikembangkan menuju ke arah layanan berbasis platform dan service.

Penelitian ini memberi masukan kepada regulator agar mampu meningkatkan peran regulasi dalam menciptakan ekosistem digital di Indonesia. Hasil disertasi ini, selain dapat dimanfaatkan oleh regulator, juga memiliki implikasi strategis bagi kalangan korporasi untuk mencapai sustainable growth di era Digital.

Penemuan ini kemudian diperkuat oleh narasumber yang hadir pada sidang terbuka ini, yaitu mantan Executive Director Co-branding Wonderful Indonesia Kemenpar RI, Priyantono Rudito, M.Bus., Ph.D.

Priyantono menyatakan bahwa munculnya kesenjangan dalam era digital akan mendorong perusahaan melakukan transformasi dengan mengubah logik bisnis dan bisnis model, oleh karena itu transformasi adalah sesuatu yang normal bagi semua perusahaan. “Pada kondisi tersebut peran pimpinan melalui kemampuan kepemimpinal digital (digital leadership) menjadi sangat “kritikal”,” imbuh Pri.

Penelitian disertasi ini dilakukan selama hampir 3 tahun sejak April 2017, dan mendapatkan bantuan hibah Penelitian Pascasarjana, skema Penelitian Disertasi Doktor (PPS-PDD) dari Kemenristekdikti di tahun 2019.

Selama masa penelitiannya, Leonardus menghadiri lebih dari 20 seminar nasional dan international dan mendapat dua kali best paper di Malaysia dan Maldives. Disertasi ini telah dipublikasikan di 45 jurnal internasional, 41 jurnal diantaranya terindeks Scopus, 3 jurnal internasional bereputasi Q1, book chapter dari buku internasional terbitan Intech Open, UK, 1 text books bidang Management dan inovasi, dan 1 buku monograf.

Promotor utama Prof. Dr. Ir. Sasmoko mengatakan bahwa pencapaian Leonardus ini memecahkan rekor publikasi jurnal internasional program doktor di Indonesia yang terbanyak. Selanjutnya dijelaskan bahwa penyelesaian studi S3 Leonardus juga tergolong cepat dan hasil penelitiannya sangat berguna bagi transformasi digital di Indonesia dan juga bisa menjadi masukan perubahan regulasi ITK saat ini di Indonesia.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)