Pintap Bangun Ekosistem Digital Kolaboratif

Ilustrasi teknologi digital (Google Image)

Di Indonesia, pasar tradisional memiliki kekuatan ekonomi besar. Hal ini terlihat dari besar jumlah pelaku pasar tradisional di Indonesia yang mencapai 3,6 juta. Bahkan 60-70% transaksi perdagangan retail terjadi di pasar tradisional. Sehingga potensi transaksi di pasar tradisional dapat berkontribusi hingga 60% dari Produk Domestik Bruto Indonesia.

Potensi besar ini dimaksimalkan oleh Pintap dengan mendorong digitalisasi pasar tradisional. Bukan sekadar untuk mendukung pembayaran, tapi dengan terbangunnya insfrastruktur yang baik, akan meningkatkan monetasi klien Pintan untuk UKM dan komunitas yang terlibat di pasad tradisional.

“Untuk itu, Pintap berupaya menciptakan infrastruktur untuk memonetisasi berbagai peluang dari hulu atau klien untuk disalurkan ke pelaku ekonomi kecil di Indonesia,” ujar Yunosuke Shigesato, Pendiri dan Direktur Pintap.

Pintap merupakan perusahaan berbasis layanan data dan produk B2B (business-to-business). Melalui infrastruktur yang dibangun, Pintap menghubungkan dan menyediakan lebih banyak peluang antara klien dengan lebih dari 10.000 komunitas dan atau pelaku pasar tradisional di Indonesia, seperti: warung, grosir, penjual lapangan, freelance motoris, dan komunitas ibu-ibu.

Sato menjelaskan, dengan digitalisasi pasar tradisional, Pintap berupaya untuk selalu mewujudkan jaringan di pasar tradisional menjadi data dan aksi nyata. Hal tersebut dimungkinkan karena Pintap memiliki platform sendiri di sisi pasar tradisional sehingga dimungkinan untuk memperoleh data primer dalam hal transaksi dan atribusi.

Ronald Zhou, Head of Sales Pintap mengungkapkan saat ini, kekuatan data yang tepat dan cepat merupakan kunci memenangkan pasar. Seperti yang telah mereka lakukan untuk membantu Kopi Kenangan ketika memutuskan akan membuat profuk Ready to Drink (RTD).

“Kami membantu memahami behavior big city dengan rural city beda. Di sisi lain, kami memahami visi klien kami, Kopi Kenangan yang ingin membuat lebih banyak masyarakat,” katanya.

Pintap melalui kekuatan komunitasnya, lalu dengan riset pasar menyeluruh, dapat menghadirkan solusi dan respon pasaryang dibutuhkan lalu menjadikan data menjadi aksi.

“Kami menghubungkan klien dengan kekuatan pasar dengan berbagai komunitas yang ada di bawah pengelolaan kami, seperti pedagang pasar, tim distribusi, para sales, promosi, hingga mewujudkan online dan offline event yang bisa menjawab kebutuhan mereka guna mendorong kinerja bisnisnya,” jelas Ronald.

Menurutnya yang dilakukan perusahaan rintisan yang berdiri sejak Juli 2021 ini memberikan layanan untuk klien dengan meningkatkan ekosistem digital kolaboatif sehingga bisa didapat data akurat untuk keputusan strategis kliennya.

“Membangun infrastruktur yang kami lakukan bukan dengan memberi cash ke pasar tradisional,” imbuh Sato. Tapi dengan meningkatkan peluang pendapatan lain yang bisa dinikmati pada pelaku pasar tradisional. Kekuatan Pintap yaitu komunitas, teknologi dan informasi (data) yang dimaksimalkan untuk membantu keputusan strategis kliennya serta membuka peluang baru bagi pelaku pasar tradisional.

Menurut Sato, dengan kekuatan instrastruktur data dan komunitas yang dibangun Pintap setidaknya klien Pintap mencatat peningkatan di di atas 30% dari normal penjualan mereka. Saat ini ada sekitar 30 klien yang 90% -nya merupakan FMCG (fast moving consumer goods).

“Kami memandang tantangan di ekosistem pasar tradisional adalah bagaimana menciptakan infrastruktur dan atau jalur untuk memonetisasi berbagai peluang dari hulu atau klien untuk disalurkan ke pelaku ekonomi kecil di berbagai daerah untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan dan beragam di Indonesia,” ujar Sato.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)