Portofolio Aruba CX Switching Pertama di Tiga Industri Ini

Aruba, perusahaan Hewlett Packard Enterprise mentransformasi aturan di bidang jaringan dengan memperkenalkan switch dan inovasi software yang dirancang untuk menjawab kebutuhan unik di enterprise campus, cabang, dan pusat data modern saat ini.

Portofolio Aruba CX Switching kini mencakup Aruba seri CX 6300 dengan konfigurasi tetap dan seri CX 6400 yang merupakan switch dengan akses, agregasi dan inti yang bersifat modular, sekaligus menghadirkan berbagai kemajuan terbaru dalam sistem operasi AOS-CX. Dengan ini para operator jaringan memiliki satu platform switching end-to-end sederhana yang dapat meningkatkan hasil bisnis pada saat ini dan di masa depan secara signifikan.

Aruba adalah perusahaan pertama yang menawarkan platform switching tunggal yang dijalankan menggunakan sistem operasi jaringan modern - AOS-CX - dari sisi terluar (edge) ke bagian inti hingga ke pusat data di sebuah perusahaan. Platform cloud-native (didesain berbasis container untuk penggunaan di lingkungan cloud) yang unik ini semakin dioptimalkan dengan Network Analytics Engine (NAE) Aruba yang kokoh. NAE menggunakan analitik dan otomatisasi terintegrasi untuk menyederhanakan pengelolaan, mempercepat pemecahan masalah kinerja aplikasi dan memperbaiki masalah jaringan yang umum terjadi.

“Otomatisasi berkekuatan AI harus menjadi inti dari arsitektur edge-to-cloud modern, dan agar benar-benar bermanfaat, otomatisasi tersebut memerlukan infrastruktur cerdas sebagai fondasinya,” ujar Keerti Melkote, Presiden dan Pendiri Aruba. Pihaknya percaya bahwa AI adalah kunci untuk menganalisis data, memberikan wawasan yang dapat ditindaklanjuti, dan otomatisasi yang dapat diatur untuk mengoptimalkan kemampuan operator jaringan agar mereka dapat dengan cepat memecahkan, memulihkan, dan menyelesaikan beberapa tantangan TI yang paling mendesak secara proaktif.

Perusahaan-perusahaan saat ini tidak bisa terus kompetitif hanya dengan mengandalkan kinerja yang lebih tinggi dan bandwidth yang lebih besar. Perusahaan-perusahaan modern membutuhkan arsitektur canggih yang dapat melakukan validasi dan pengaturan sendiri melalui otomatisasi loop tertutup, sehingga dapat secara cerdas mendukung aplikasi mission-critical, menghindari vektor serangan keamanan baru, dan memberikan kelincahan yang dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan saat ini.

Selama ini, operator jaringan harus berkutat dengan arsitektur yang tidak fleksibel dan berbeda terutama ketika mengelola kantor cabang, enterprise campus, dan pusat data. Arsitektur tersebut memerlukan proses manual di beberapa sistem operasi sehingga pengoperasiannya menjadi terpecah-pecah (terfragmentasi), sehingga jaringan menjadi tidak mampu melakukan fungsi-fungsi modern dan sejumlah besar data menjadi tidak terstruktur yang tidak dapat ditindaklanjuti.

Gartner menyatakan, ketika kecepatan pembaruan meningkat, perencanaan dan implementasi puluhan, ratusan atau ribuan perubahan pada jaringan akibat terjadi perubahan pada aplikasi tidak mungkin lagi dilakukan secara manual. Membuat perubahan secara manual bukan saja tidak praktis, tetapi juga memiliki kemungkinan untuk menghasilkan kesalahan yang signifikan

Proses manual dapat secara signifikan menghambat kemampuan perusahaan untuk bergerak cepat, berinovasi, dan berkembang di pasar yang kompetitif. Selain itu, banyak dari rintangan tersebut dapat diatasi dengan infrastruktur cloud-native.

Menurut Gartner, “infrastruktur cloud-native menunjukkan karakteristik sebagai berikut:

• Modularitas - Menyediakan abstraksi untuk pengemasan layanan independen (seperti container atau fungsi tanpa server).
• Programabilitas - Mendukung penyediaan dan manajemen melalui API dan kebijakan deklaratif.
• Elastisitas - Sumber daya dapat ditingkatkan dan diturunkan secara dinamis secara otomatis dan berbasis kebijakan dengan menggunakan orkestrator.
• Ketahanan – Layanan merupakan unit-unit yang digabungkan secara fleksibel, bersifat independen dan toleran terhadap kesalahan.”ii

Perusahaan-perusahaan modern memerlukan jaringan edge-to-cloud yang berjalan pada platform bersama yang memberikan manfaat dari otomatisasi dan peningkatan efisiensi operasional sehingga operator jaringan dapat fokus pada kegiatan-kegiatan penting untuk bisnis mereka.

Dengan berbekal terobosan inovasi switch inti seri CX 8400 yang dijalankan dengan sistem operasi AOS-CX - sebagaimana dibuktikan oleh momentum signifikan saat memenangkan pelanggan-pelanggan utama terbaru - Aruba kini mengatasi tantangan tersebut dengan portofolio switching modern yang memberikan model operasional tunggal dari lapisan akses di enterprise campus dan cabang hingga pusat data.

Platform-platform baru dalam Portofolio Aruba CX Switching ini memadukan elemen-elemen kunci dari infrastruktur jaringan modern dan mencakup:

Pertama, Switch Aruba seri CX 6300 dan CX 6400 yang menampilkan arsitektur ASIC Generasi 7 Aruba. Kedua, AOS-CX 10.4: AOS-CX versi baru yang memperkenalkan beragam fitur akses ke OS sekaligus memperluas diferensiasi CX hingga ke lapisan akses jaringan. Hal ini mencakup Aruba Dynamic Segmentation untuk memberikan kebijakan yang aman dan terpadu lintas kabel dan nirkabel ke setiap pengguna dan perangkat IoT, Ethernet VPN (EVPN) melalui VxLAN untuk konektivitas yang disederhanakan dan aman, dari lingkungan perusahaan hingga ke pusat data, dan pembaruan langsung Virtual Switching Extension (VSX) tanpa downtime selama siklus perawatan.

Aruba NetEdit 2.0 dengan Network Analytics Engine (NAE): Software NetEdit Aruba dengan versi yang sudah ditingkatkan kini terintegrasi dengan NAE Aruba. Dengan kemajuan ini visualisasi terpusat yang menampilkan kesehatan jaringan dengan memanfaatkan analitik terdistribusi NAE di setiap switch dalam jaringan dapat dilakukan dengan siklus pemecahan masalah yang jauh lebih cepat, dari hitungan hari ke menit. Selain itu, kemampuan otomatisasi baru dapat menyederhanakan tugas-tugas umum seperti menerapkan perubahan konfigurasi atau pengaturan sistem awal yang kini dapat diselesaikan melalui aplikasi CX Mobile.

“Portofolio Aruba CX Switching terbaru hadir di pasaran seiring dengan terus meningkatnya permintaan terhadap jaringan enterprise, dengan lebih banyak pengguna, perangkat, dan hal-hal yang memerlukan kecepatan lebih tinggi dan latensi yang lebih rendah,” jelas Brandon Butler, Senior Research Analyst, Network Infrastructure IDC.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)