Preferensi Tinggi Merek Global Dibandingkan Lokal

Menurut studi Nielsen, konsumen di seluruh dunia menunjukkan preferensi yang semakin meningkat untuk merek global daripada produk manufaktur lokal.

Laporan tahunan Nielsen Global Brand-Origin menyoroti preferensi dan sentimen konsumen terhadap produk yang diproduksi oleh produsen lokal versus merek global/multinasional besar di 34 kategori. Sementara temuan survei tersebut menunjukkan pandangan yang relatif seimbang terhadap merek global dan lokal dalam beberapa tahun terakhir.

Hasil terbaru menunjukkan preferensi konsumen mengarah ke merek global di sebagian besar kategori. Preferensi untuk merek global terkuat adalah untuk kategori tisu/popok bayi dan makanan bayi/susu formula dengan merek dari produsen lokal.

Kategori lain di mana konsumen menunjukkan preferensi rendah untuk merek lokal termasuk vitamin/suplemen, makanan hewani, produk perawatan wanita, minuman energi/minuman olahraga, dan produk makanan kemasan/kalengan.

Sebaliknya, kategori di mana konsumen lebih cenderung memilih produk buatan lokal melalui merek global termasuk produk makanan/minuman berbasis susu, biskuit/keripik/kue kering / kue kering, es krim, dan air mineral/kemasan. Menurut Head of Foresight and Thought Leadership, Growth Markets Nielsen, Regan Leggett, dunia hiper-konektivitas dan globalisasi saat ini menjadikan konsumen memiliki pilihan produk yang lebih luas daripada sebelumnya. "Konsumen juga memiliki akses lebih besar terhadap merek global daripada sebelumnya, berkat faktor-faktor seperti perluasan distribusi, penawaran e-commerce, dan jalur ritel perdagangan modern,” ungkapnya.

Faktor-faktor distribusi memberikan perubahan dalam preferensi terhadap perusahaan multinasional besar. Faktor lain yang berpengaruh termasuk persepsi konsumen seputar kualitas. Pada tingkat regional, nuansa pasar terlihat jelas dengan preferensi konsumen untuk merek global versus lokal yang bervariasi secara luas dalam sejumlah kategori. Untuk kategori biskuit/keripik/makanan ringan/kue, preferensi konsumen untuk merek lokal lebih dominan di Asia Tenggara (50%), Afrika dan Timur Tengah (41%) dan Amerika Latin (41%) dibandingkan dengan 32% rata-rata di seluruh dunia. Konsumen Asia Tenggara menunjukkan afinitas yang lebih kuat untuk merek mi instan lokal dibandingkan dengan rata-rata global (39% vs 21%).

Variasi yang ada di berbagai wilayah menggambarkan kekuatan relatif produsen lokal dalam kategori tertentu, terutama di mana mereka menarik selera konsumen lokal. "Asia Tenggara, mie adalah makanan pokok dalam makanan konsumen, produsen lokal dapat mempertahankan bentengnya pada kategori ini. Serupa dengan pasar Eropa dimana produk makanan dan minuman berbasis susu lokal dianggap memiliki kualitas lebih tinggi daripada produk impor," ungkap Regan.

Semakin global, pertarungan merek untuk memahami kebutuhan, perilaku, gaya hidup dan selera konsumen yang berkembang. Baginya, setiap merek, lokal maupun global, mampu memanfaatkan preferensi konsumen ini akan menjadi pilihan terbaik untuk memenangkan hati dan benak konsumen di masa depan.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.Swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)