Program TERANG Hivos Jawab Tantangan Energi Terbarukan di Indonesia

Sumber foto: www.si-nergi.id

Pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia begitu penting untuk pemanfaatan sumber daya secara bijak. Energi terbarukan memiliki peran penting di kalangan masyarakat pedesaan, khususnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan. Hal ini diharapkan dapat menjadi inspirasi dan eksplorasi kesempatan investasi energi terbarukan skala kecil di daerah terpencil.

Pada acara “Terangi Nusantara” (24/1/2018), para praktisi berbagi kesuksesan dan pembelajaran praktik terbaik dalam hal pemanfaatan energi terbarukan. Melalui Kebijakan Energi Nasional (KEN), Pemerintah Indonesia juga telah berkomitmen untuk memaksimalkan penggunaan Energi Terbarukan (ET) dalam rangka pencapaian target sebesar 23 persen di tahun 2025.

Untuk mendukung komitmen tersebut, Hivos berkolaborasi dengan berbagai mitra untuk mengimplementasikan program TERANG (Investing in Renewable Energy for Rural, Remote Communities) dalam hal pengadaan ET. Di akhir tahun 2017, program ini telah menyediakan akses listrik bagi 26 kabupaten di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.

Melalui proyek TERANG, sebanyak 5.079 rumah tangga menggunakan energi terbarukan, 25 sekolah memiliki sumber energi terbarukan, 60,68 KW tenaga listrik dihasilkan dari PV solar, dan rasio elektrifikasi Pulau Ikonik Sumba di NTT meningkat dari 24,5% (2010) menjadi 42,67% (2017). Hal ini seiring dengan upaya negara untuk menciptakan ekonomi yang lebih ramah terhadap iklim dengan mengurangi jumlah listrik yang dihasilkan dari bahan bakar fosil.

Direktur Regional Hivos Asia Tenggara, Biranchi Upadhyaya, menekankan pentingnya energi terbarukan dalam pembangunan.“Proyek kolaborasi seperti TERANG memegang peranan penting dalam memperluas cakupan energi terbarukan secara off-grid, menjangkau masyarakat di desa terpencil, serta meningkatkan mata pencaharian mereka melalui pemakaiannya,” ujarnya. Itulah sebabnya proses akses ET haruslah inklusif dan dapat diakses seluruh masyarakat.

Pada September 2017, Indonesia mencapai 93,08% rasio elektrifikasi, di mana hampir semua wilayah dari Aceh sampai Sulawesi memiliki rasio elektrifikasi di atas rata-rata 70%. Sementara di Nusa Tenggara Timur rasio elektrifikasi hanya mencapai 58,99%, bahkan Papua hanya memiliki rasio ketahanan listrik sebesar 48,91%. Fakta ini menunjukkan bahwa layanan energi di Indonesia belum inklusif.

Pembelajaran yang d dapat adalah pentingnya kerja sama dan kemitraan berbagai pemangku kepentingan dalam menghasilkan energi yang inklusif. Usaha untuk menggandeng berbagai badan dan instansi keuangan nasional dan internasional masih harus dilanjutkan supaya lebih banyak daerah terpencil yang bisa dijangkau,” ujar Eco Matser, Koordinator Perubahan Iklim, Energi, dan Pembangunan Hivos.

Keseriusan dan komitmen dari seluruh pihak untuk mencapai tingginya target harus dilakukan bersama. Pendanaan untuk pembangunan instalasi pembangkit ET on-grid dan off-grid diharapkan berasal dari investasi BUMN (PLN), BUMD, sektor swasta, LSM, lembaga donor pembangunan, dan anggaran pemerintah pusat dan provinsi. “Teknologi smart-grid dapat menjadi salah satu solusi untuk mencapai target rasio elektrifikasi 95% serta penggunaan ET sebesar-besarnya untuk menerangi Nusantara,” ujar Rida Mulyana, Direktur Jendral EBTKE Kementerian ESDM. Akses energi dapat menjadi perubahan dalam hidup masyarakat yang memperolehnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)