Proyek Besar Kemenpar: Bangun 100 Ribu Homestay Desa Wisata | SWA.co.id

Proyek Besar Kemenpar: Bangun 100 Ribu Homestay Desa Wisata

Presiden Joko Widodo menetapkan pariwisata sebagai salah satu dari lima sektor unggulan atau sektor prioritas pembangunan di tahun ini. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memproyeksikan industri pariwisata nasional pada 2017 berkontribusi 13% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, menghasilkan devisa senilai Rp 182 triliun, menyerap 12,4 juta tenaga kerja, meningkatkan indeks daya saing, serta mendapatkan kunjungan 15 juta wisatawan mancanegara (wisman) dan 265 juta wisatawan domestik (wisdom). Adapun target Kemenpar pada 2019 adalah membidik kunjungan wisman sebanyak 20 juta dan 275 juta wisdom.

Pertumbuhan wisatawan harus diiringi dengan ketersediaan akomodasi dan infrastruktur yang layak. Kemenpar pun menargetkan pembangunan 100 ribu homestay desa wisata hingga tahun 2019. “Untuk itu, kami mempercepat pembangunan homestay desa wisata. Homestay dan desa wisata itu satu paket,” ujar Hiramsyah Sambudhy Thaib, Ketua Percepatan Pembangunan Destinasi Pariwisata Prioritas Kemenpar. Jumlah desa yang berpotensi menjadi desa wisata itu sebanyak 1.902 desa, yang terdiri dari 787 desa wisata bahari, 576 desa wisata sungai, 165 desa wisata irigasi, dan 374 desa wisata danau.

Hiramsyah Thaib

Hiramsyah Sambudhy Thaib, Ketua Percepatan Pembangunan Destinasi Pariwisata Prioritas Kementerian Pariwisata

Kemenpar, menurut Hiramsyah, berkolaborasi dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT), untuk memetakan potensi suatu desa menjadi desa wisata, membangun infrastruktur, serta mengemas tradisi dan budaya lokal sebagai atraksi wisata. “Kekuatan desa wisata itu adalah local wisdom,” katanya.

Kemenpar memberikan pendampingan kepada warga setempat, misalnya melatih pemandu wisata, meningkatkan kemampuan bahasa asing, memberikan sertifikasi kompetensi, dan meningkatkan keterampilan warga dalam memproduksi kerajinan tangan. Pembangunan homestay desa wisata ini memberdayakan masyarakat lokal atau badan usaha milik desa (BUMD), serta memberikan kredit pemilikan rumah bagi warga dengan cicilan ringan yang tingkat bunganya 5-13,5%, serta bertenor 20-25 tahun. Apa saja langkah Kemenpar untuk mewujudkan pembangunan 100 ribu homestay desa wisata? Wartawan SWA Kemal Gani, Kusnan M. Djawahir dan Tiffany Diahnisa, serta fotografer Priyo Santoso mewawancarai Hiramsyah di kantor Kemenpar, Jakarta, pertengahan Maret lalu. Berikut ini petikannya:

//Apa saja cetak biru yang disiapkan pemerintah dalam mengembangkan pariwisata?//

Pengembangan pariwisata oleh Kemenpar berdasarkan konsep 3A, yaitu Atraksi, Aksesibilitas dan Amenitas (fasilitas dan pelayanan). Kemenpar fokus mengembangkan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP). Lokasinya di Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu & Kota Tua Jakarta, Candi Borobudur, Bromo-Tengger-Semeru, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi dan Morotai. Pengembangan 10 DPP itu merupakan bagian dari 10 program prioritas yang dilaksanakan Kemenpar dalam mengembangkan industri pariwisata.

Kesepuluh program prioritas itu adalah digital tourism, homestay desa wisata, airlines, branding, top 10 originasi, top 3 destinasi utama, pengembangan 10 DPP, sertifikasi kompetensi SDM, gerakan sadar wisata, serta pengelolaan crisis center. Kemenpar di tahun ini fokus pada pelaksanaan tiga dari 10 program prioritas itu, yakni digital tourism, homestay desa wisata, dan airlines.Homestay

//Bagaimana rencana menyiapkan infrastruktur untuk menyokong target 20 juta wisman?//

Kemenpar menyusun rencana pengembangan destinasi wisata dan berbagi peran pembangunan infrastruktur bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR), Kementerian Desa PDTT dan Kementerian Perhubungan.

//Salah satu program prioritas Kemenpar di tahun ini kan homestay desa wisata. Apa tujuan program ini?//

Target kunjungan wisman pada 2019 sebanyak 20 juta orang. Untuk itu, kami mempercepat ketersediaan infrastruktur. Salah satunya, membangun homestay desa wisata hanya dalam tempo enam bulan, lebih cepat jika dibandingkan membangun hotel yang membutuhkan waktu sekitar lima tahun. Kemenpar menargetkan pembangunan 100 ribu homestay desa wisata ini terealisasi pada 2019. Homestay desa wisata berkonsep low cost tourism untuk menarik minat turis dari kalangan muda dan backpacker, berlokasi di desa wisata, dan pembangunan arsitekturnya bergaya Nusantara, misalnya menggunakan material bangunan dari alam seperti bambu atau kayu.

Pembangunan homestay desa wisata merupakan cara kami menyediakan akomodasi untuk meningkatkan daya jual industri pariwisata nasional serta selaras dengan program pembangunan pemerintah yang membangun dari desa serta daerah pinggiran. Pengembangan homestay desa wisata juga mengamati tren wisatawan yang mulai suka menginap di home sharing dibandingkan di hotel. Pada 2020, ketertarikan pengunjung terhadap home sharing di kota-kota besar dunia akan naik 15% dari 10% (pada 2016). Sementara di Asia Tenggara bakal naik 5% dari 2%.

Kami berharap program ini dapat meningkatkan nilai jual pariwisata nasional karena homestay ini bukan hanya sekadar menawarkan amenitas, tetapi juga menjual atraksi dan budaya lokal ke wisatawan. Desa wisata akan menyedot wisatawan jika atraksi wisatanya menarik dan unik, jarak tempuh mudah dijangkau, besaran desa atau daya dukung kepariwisataan memadai, memiliki sistem kepercayaan dan budaya, serta ketersediaan infrastrukturnya ideal.

//Di mana saja lokasi pengembangan homestay desa wisata?//

Lokasi pengembangannya di 10 DPP. Destinasi wisata ini kami sebut sebagai “10 Bali baru”. Maksudnya, daerah tujuan wisata ini seperti Bali, komersial secara budaya, membuka lapangan pekerjaan, menghasilkan devisa, menyejahterakan masyarakat, serta mengangkat nama Indonesia di luar negeri. Investasi pengembangan 10 destinasi itu sekitar US$ 20 miliar.

Kami pun memberi pendampingan kepada masyarakat agar mempercepat pembangunan homestay desa wisata yang akan mengonversikan rumahnya sebagai homestay untuk wisatawan. Selain dibangun di 10 destinasi itu, homestay desa wisata akan dibangun di destinasi wisata branding, yaitu Banyuwangi dan Makassar, destinasi utama di Bali, Kepulauan Riau (Kepri), daerah lainnya di Mandeh, serta daerah perbatasan yang berpotensi menjadi daerah tujuan wisata (cross border tourism), contohnya di Anambas, Kepri. Kami mengutamakan aspek komersial agar homestay desa wisata diminati wisatawan.

//Apa strategi Kemenpar agar pembangunannya sesuai jadwal?//

Kami melakukan Sayembara Homestay Desa Wisata yang menghasilkan tiga alternatif desain bangunan untuk 10 DPP itu. Dalam pengembangan homestay desa wisata ini, kami berbagi peran dengan kementerian dan instansi lainnya. Peran Kemenpar adalah membuat buku panduan, melakukan pemasaran, memberikan pendampingan, dan memberikan pelatihan sadar wisata untuk masyarakat dalam mengelola homestay desa wisata. Sementara itu, untuk pendanaan dan pembangunan, kami berkoordinasi dengan kementerian dan instansi lain, di antaranya Kementerian PUPR serta Kementerian Desa PDTT. Homestay

//Berapa jumlah pembangunan homestay desa wisata setiap tahun?//

Target pembangunan homestay desa wisata di tahun ini sebanyak 20 ribu unit kamar. Kemudian, target pada 2018 sebanyak 30 ribu unit kamar, dan 50 ribu unit kamar di 2019. Pada kuartal I tahun ini, kami menargetkan realisasi pembangunan 1.000 unit kamar.

//Lantas, apa saja dampak homestay desa wisata bagi perekonomian dan kewirausahaan?//

Kemenpar telah membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang bertugas sebagai fasilitator dan pendamping masyarakat agar meningkatkan kegiatan dan usaha wisata masyarakat. Anggota Pokdarwis dipilih dari masyarakat, agar terbentuk community-based tourism, sehingga ekosistem pariwisata bisa berkesinambungan. Salah satu unsur yang perlu dipersiapkan adalah daya dukung wisata, seperti penjualan kegiatan wisata dan cenderamata lokal yang akan menumbuhkan UKM di desa wisata.

//Apa langkah Kemenpar untuk menyelaraskan pembangunan homestay desa wisata dengan program pemasaran destinasi wisata?//

Saat ini, wisatawan cenderung mencari tujuan wisata dan tarif penginapan melalui Internet. Kemenpar membuat portal ITX (Indonesia Tourism Exchange) untuk mengintegrasikan industri pariwisata dalam satu platform, yang antara lain menyajikan informasi supplier, distributor, penyedia booking system, dan penyedia konten, serta memasarkan produk pariwisata secara online dan real-time. ITX ini satu-satunya platform open marketplace digital tourism yang membantu wisatawan mencari informasi mengenai akomodasi, paket wisata, lokasi wisata dan acaranya. Nah, akomodasi ini mencakup homestay desa wisata yang dipasarkan melalui ITX kepada wisdom dan wisman.(*)

Editor : Tiffany Diahnisa
Journalist : Vicky Rachman

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Indika Energy Terbitkan Obligasi US$265 Juta

PT Indika Energy Tbk menerbitkan obligasi bertenor 5 tahun (5NC3) senilai US$ 265 juta dengan kupon 6,875% dan imbal balik...

Close