Psychometric Data untuk Mengidentifikasi dan Mengembangkan Pemimpin Masa Depan | SWA.co.id

Psychometric Data untuk Mengidentifikasi dan Mengembangkan Pemimpin Masa Depan

Hein Jan Lapidaire, Regional Director APAC Thomas International (Foto: SWA)

Hein Jan Lapidaire, Regional Director APAC Thomas International mengatakan alasan nomor satu karyawan meninggalkan pekerjaan adalah karena kurangnya kesempatan karier. Sementara itu, 60 persen milenial sangat terbuka terhadap kesempatan pekerjaan baru; 55 persen CEO mengatakan mengembangkan next generation leaders adalah tantangan terbesar yang dihadapi perusahaan.

“Kekurangan tenaga kerja pascapandemi memperburuk kesenjangan keterampilan yang disebabkan oleh perubahan teknologi, sehingga mendorong pemimpin untuk menilai kembali rencana suksesi dan jalur talenta eksekutif masa depan mereka,” kata dia dalam acara Webinar dan Awarding Creating Leader from Within Creating Future-Ready Leaders for Organizational Excellence and Agility yang diselenggarakan SWA Media (29/11/2023).

Lebih jauh dia mengatakan, Prinsip Peter ketika seseorang melakukan pekerjaanya dengan baik, mereka sering kali dipromosikan ke posisi yang lebih tinggi. Hal ini berlanjut hingga mereka mencapai pekerjaan yang tidak mereka kuasai dengan baik dan memerlukan keterampilan atau keahlian yang berbeda.

“Mereka mungkin menjadikan Anda pemimpin tim penjualan, tetapi menjadi pemimpin memerlukan keterampilan berbeda seperti pengorganisasian, penyusunan strategi, dan kepemimpinan. Anda mungkin tidak begitu mahir dalam hal-hal tersebut, dan saat itulah Prinsip Peter berlaku Anda telah dipromosikan ke tingkat di mana Anda tidak sekompeten peran sebelumnya,” ujarnya.

Prinsip Peter, kata dia, mengingatkan bahwa promosi harus mempertimbangkan tidak hanya seberapa baik seseorang dalam pekerjaannya saat ini, tetapi juga apakah mereka memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk posisi baru tersebut. Jika tidak, mereka mungkin akan mendapatkan pekerjaan yang tidak cocok untuk mereka.

Dia menjelaskan dalam paparannya, perusahaan jangan hanya berhenti pada perencanaan suksesi pemimpin saja, tapi juga harus merencanakan suksesi di luar posisi kepemimpinan. Sebab, menurutnya, banyak peran non kepemimpinan memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus yang penting untuk operasional sehari-hari organisasi. “Kegagalan dalam merencanakan suksesi pada posisi-posisi ini dapat mengakibatkan hilangnya pengetahuan institusional yang penting ketika karyawan pensiun atau keluar," jelasnya.

Selain itu, perencanaan suksesi untuk peran non-kepemimpinan berharga untuk pengembangan karyawan, menjaga kontinuitas, meningkatkan keberagaman dan inklusi, penghematan biaya, kemampuan beradaptasi, keterlibatan karyawan, dan keberlanjutan jangka panjang. “Psychometric Data didasarkan pada ilmu psikologi yang memberi pemahaman lebih dalam tentang orang-orang yang diwawancarai, bekerja sama, dan kelola. Hal ini dapat membantu mengatasi kesenjangan keterampilan,” ujarnya.

Platform Thomas, kata dia, juga dapat memberikan kesadaran diri yang berharga kepada kandidat dan karyawan, yang dapat membantu mereka tumbuh sebagai manusia, dan dalam karier pilihan mereka. Karena, tim yang memahami kekuatan, keterbatasan, dan motivasi satu sama lain akan jauh lebih kohesif sehingga membuat mereka lebih produktif.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)