PwC Indonesia: Tahun 2018 Momentum Perbaikan Ekonomi Nasional

Territory Senior Partner PT PricewaterhouseCoopers Indonesia, Irhoan Tanudiredja.

Tahun 2018 menjadi momentum perbaikan ekonomi bagi Indonesia, dilihat dari indikator dalam negeri dan global. Menurut Territory Senior Partner PT PricewaterhouseCoopers Indonesia, Irhoan Tanudiredja, kondisi ini dimulai saat tahun 2016 berangsur lebih baik pada tahun 2017.

Perbaikan ini juga dikerenakan pemerintah secara konsisten melaksanakan kebijaksanaannya sekaligus melakukan perubahan teknologi untuk adaptasi dalam melakukan transformasi. Bagi Irhoan, perusahaan yang menjalankan bisnis denan model lama akan sulit untuk bertahan, dia harus menerapkan teknologi untuk bisnisnya ke depan. “Semakin banyak perusahaan yang bisa mengerti penerapan teknologi di dalam bisnis modelnya, menurut saya mereka akan mempunyai kesempatan untuk bertahan lebih kuat,” tambahnya.

Irhoan sejalan dengan apa yang dikeluarkan BPS atas sektor mana saja yang dapat berlanjut di tahun 2018. Beberapa sektor yang sesuai dengan program pemerintah seperti konstruksi dan infrastruktur menjadi pilihan yang aman.  Selain itu, dengan tingkat literasi finansial masyarakat Indonesia yang masih rendah, sektor asuransi, informasi & komunikasi juga akan tumbuh cukup tinggi.

Untuk bisnis startup, masih terbuka peluang yang tinggi, namun dampaknya masih terlihat kecil. Pertumbuhan startup memang cukup tinggi karena Indonesia memang sedang dalam masa transisi dari ekonomi tradisional menjadi ekonomi data. Sedangkan untuk ekonomi yang berdasarkan share economy, sektor jasa dapat meningkat dibandingkan basis produksi seperti sektor manufaktur. “Jasa dapat termasuk transportasi dan keuangan. Travelling juga memiliki potensi dengan adanya pergeseran pola konsumsi masyarakat,” ujarnya.

Inovasi terbaru yang hadir akibat perkembangan teknologi memunculkan model pengelolaan keuangan seperti fintech company, crowd funding, dan sebagainya. Ia juga menyampaikan bahwa sektor perbankan harus bisa melihat tantangan di area tersebut dan mengerti apa yang diinginkan konsumen. “Mengapa fintech tumbuh banyak sekarang karena banyak keinginan konsumen yang bisa terpenuhi oleh mereka. Di sinilah bank harus dapat melihat model bisnis yang dimiliki, apakah harus diubah?,” jelasnya.

Rilis yang dilansir PricewaterhouseCoopers Indonesia,menyebutkan, proyeksi kemampuan daya beli pada 2030 sebesar US$4.434 triliun, berada di peringkat 5. Posisi ini dapat terwujud dengan catatan beberapa parameter harus dijaga secara konsisten oleh pemerintah. “Penguatan sumber penerimaan negara tanpa mengurangi iklim investasi yang ada. Di satu sisi penerimaan anggaran harus diperkuat, namun di sisi lain iklim investasi juga harus dipertahankan. Efisiensi birokrasi harus terus ditingkatkan seperti yang dilakukan dalam dua tahun terakhir,” tambahnya.

Berusaha adaptasi akan perubahan ini juga dilakukan oleh PwC. Efisiensi dijalankan dari segi internal perusahaan dan menerapkan teknologi terkini dan service yang lebih relevan ke konsumen. Selain itu, PwC juga menyelaraskan fokus perusahaan sesuai dengan pemerintah, misal infrastruktur. “Tantangan bagi kami di 2018 adalah bagaimana secepatnya dapat berubah untuk menyesuaikan dengan pasar yang ada. Pertama, dari segi sumber daya yang sesuai kebutuhan perkembangan zaman saat ini. Menyeleraskan dengan generasi muda agar tetap menarik,” terangnya.

 

Reportase: Yosa Maulana

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!