Rahasia Sukses Christin Kembangkan Shopee di Indonesia

Christin Djuarto, Director Shopee Indonesia

Dalam waktu tiga tahun, nama Shopee berhasil melekat di hati pengguna e-commerce di Indonesia. Marketplace  tersebut berangkat  dari tim berisi tiga orang pada tahun 2015 yang kemudian terus bertambah hingga mencapai 2.000 orang pada  2018.

Transaksi melalui platform ini juga meningkat pesat, berawal dari 100 transaksi per hari pada Ramadhan 2015 hingga 1,5 juta transaksi harian tertinggi pada Ramadhan 2018.

Christin Djuarto, Direktur Shopee, merupakan salah seorang figur di balik kesuksesan tersebut. Kepada SWA Online, ia menceritakan awal mula merancang Shopee Indonesia di Kantor Shopee, Jakarta (6/9/2018). “Awalnya, kami fokus pada apa yang ingin dibangun, modelnya seperti apa. Kami banyak memikirkan konsep dulu. Di situ, dalam membangun marketplace tentu memerlukan penjual dan pembeli. Tapi ini seperti telur dan ayam, yang mana duluan. Kalau tidak ada penjual, tidak ada pembeli. Kalau tidak ada pembeli, tentu penjual tidak mau," jelasnya.

Akhirnya ia mulai mencari penjual dulu. Menurutnya, cukup sulit untuk mendekati penjual di saat nama Shopee belum dikenal luas. Apalagi saat itu pihaknya belum memiliki website sendiri. “Saat launching, kami mulai diterima Indonesia dengan baik. Penjual mulai masuk, pembeli juga. Rodanya berputar cukup cepat," dia menguraikan penjelasannya.

Pedagang yang digandeng Shoppee di awal kebanyakan sudah berjualan di sosial media. Saat mencoba berjualan di Shopee, mereka merasakan kemudahan yang lebih pada fiturnya, misalnya bisa menampilkan harga dan bisa berkomunikasi langsung dengan pembeli.

Pada tahun 2015, Christin mengaku Shopee masih mencari apa yang dibutuhkan di pasar Indonesia dan sudah mulai mengerti kebutuhan tersebut  tahun 2016. “Dari sisi program yang dijalankan, yang paling dicari adalah gratis ongkir. Di tahun tersebut banyak sekali proses membangun Shopee yang kami dapatkan di tahun pertama," dia mengklaim. Menurutnya, pada saat itu konsep gratis ongkir di marketplace lumayan baru. Banyak proses yang perlu dihitung karena ada perbedaan perhitungan gratis ongkir dari gudang sendiri dan dari penjual.

Shopee mulai mengarah ke aspek lain tahun 2017, salah satunya dengan membangun Shopee Mall. Christin melihat pelanggan membutuhkan tempat untuk mencari barang-barang yang bermerek, karena diibaratkan kualitasnya lebih bagus. Selain itu, pembeli juga menyukai periode kampanye yang bagus, yaitu satu periode di mana mereka bisa memiliki banyak aktivitas dalam platform. Untuk menyikapi hal tersebut, Shopee menggarap Kampanye 10.10.

Menurut Christin, ada beberapa penyesuaian dalam menyikapi pasar di Indonesia. Di Indonesia, sistem pembayaran transfer bank lebih diperlukan daripada di Singapura, misalnya. Ia juga menjelaskan, logistik menjadi sangat penting di negara kepulauan ini. Maka dari itu, Shopee merasa penting untuk memilih mitra logistik yang tepat. “Apalagi saat ini penyedia jasa logistik semakin banyak. Hal ini bagus, jadi masing-masing penyedia bisa menawarkan yang terbaik.”

Tren online shopping di Indonesia juga sedikit berbeda dengan di negara lain. Menurut Christin, periode online shopping melalui desktop tidak terlalu lama, dan langsung beralih pada mobile apps. Maka dari itu, Shopee langsung memfokuskan diri pada mobile shopping sejak awal. Tak heran, 95% transaksi pada platform ini terjadi melalui mobile.

Dalam hal marketing, Christin mengaku ada dua hal yang dijalani Shopee. Pertama, promosi secara langsung ke penjualan, yang berhubungan dengan harga seperti gratis ongkir dan diskon barang. Ada banyak sekali penjual yang ingin memberi diskon kepada pembeli. Kedua, Shopee sedang meningkatkan engagement user. Caranya adalah melalui fitur-fitur tertentu, misalnya Golden Ticket yang akan didapatkan pembeli setelah belanja dan bisa ditukar dengan daun, beras, atau minyak.

Pelanggan perlu mengumpulkan bahan-bahan tersebut agar dapat menjadi ketupat dan bisa diganti menjadi hadiah. “Sebenarnya tunjuannya bukan soal hadiahnya, tapi lebih untuk engage user, jadi belanja itu lebih menyenangkan,” ujarnya. Selain itu, ada juga fitur Hujan Goyang Emas, di mana pelanggan bisa bermain game untuk mendapatkan koin. Pada Ramadhan lalu, fitur ini sudah dimainkan dengan 8 juta pengguna.

Belakangan ini juga Shopee meluncurkan fitur Shopee for Men, mengingat perilaku konsumen pria yang cukup berbeda dengan konsumen wanita. Kanal tersebut dapat meningkatkan kenyamanan belanja pria tanpa terganggu produk yang diperuntukkan untuk wanita dalam dashboardnya.

Dalam membangun brand, Christin menekankan bahwa pihaknya mencari pesan yang cocok untuk didengar dengan pengguna. “Intinya adalah kita perlu cari yang efektif. Kita harus melihat channel beriklan yang tepat pada waktu yang tepat. Saat awal berdiri di Indonesia, Shopee banyak beriklan di sosial media karena penjualan kita secara alami memang sangat banyak yang bermigrasi dari Instagram. Kita memberikan layanan bagus dan kita ajak penjual untuk bantu sounding tentang Shopee. Semua marketing yang terdengar dari Shopee saat itu mungkin 95% dari sosial media. Kebanyakan penjual kami yang mempromosikan ke pembelinya untuk belanja di Shopee karena bagi mereka lebih nyaman untuk memproses jualannya,” jelasnya.

Kini, Shopee mulai beriklan di media lain, termasuk televisi. Dalam membangun konsep, Christin mengaku hal tersebut dilakukan oleh tim internal. “Di divisi marketing, tiap minggu  kami ada brainstorming untuk memunculkan ide-ide baru. Jadi game-game dan iklan yang baru itu hasil dari brainstorming internal,” terang Christin. Ia merasa kesulitan bila menyewa konsultan, karena seringkali mereka belum paham identitas yang dimiliki Shopee. “Karakter Shopee adalah menyenangkan dan mudah,” tambahnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)