Red Hat Market Dynamics Report 2021 Paparkan Tingginya Minat Responden Memanfaatkan Container

Saat ini penggunaan aplikasi telah menyentuh hampir semua sendi kehidupan. Kita menjadi sangat bergantung pada kemudahan yang ditawarkan aplikasi saat melakukan aktivitas sehari-hari, seperti bekerja, berbelanja, bertransaksi perbankan, dan bepergian. Apalagi di saat pandemi membatasi mobilitas warga.

Mobile App Trends 2021 yang baru-baru ini dirilis oleh Adjust memperlihatkan, app installs, instalasi aplikasi di perangkat, di seluruh dunia mencatatkan peningkatan pesat, yaitu sebesar 50% selama periode 2019 hingga 2020. Kemudian di kuartal pertama 2021, sudah terlihat adanya kenaikan app installs, sebesar 31% jika dibandingkan dengan periode yang sama di 2020.

Dengan pertumbuhan ini, perekonomian berbasis aplikasi, atau app economy, pun semakin menemukan momentumnya. Statista memprediksi nilai app economy global pada tahun 2021 ini akan mencapai US$6,3 triliun di 2021 (dari US$3,3 triliun di 2019) dengan pendapatan sekitar US$693 miliar per tahun.

Data lain dari Statista mengungkapkan pendapatan aplikasi Android dan iOS yang mencapai US$111 miliar di 2020 atau meningkat 24% dibanding tahun sebelumnya. Dan 65% dari pendapatan tersebut datang dari aplikasi iOS.

Penggelaran jaringan 5G secara global akan semakin menyemarakkan app economy. Selain memungkinkan pengembangan fungsi-fungsi baru pada aplikasi, teknologi 5G juga membukakan peluang bagi pengembangan aplikasi yang lebih canggih, misalnya aplikasi AR/VR dan IoT.

Berbagai perkembangan dan tren tersebut tentunya berdampak pada “dapur” aplikasi dan para pengembang/developer yang ada di balik layar pengembangan aplikasi.

Kebutuhan bisnis dan harapan pengguna aplikasi saat ini berdampak pada waktu pengembangan software/aplikasi yang semakin singkat. Para developer harus melakukan iterasi dan deployment dengan lebih cepat karena, misalnya, bisnis ingin bisa segera menambahkan fitur pada aplikasi atau mencoba model bisnis baru.

Berkat teknologi yang ada saat ini, melakukan ratusan kali deployment ke production dalam satu hari bukanlah hal yang mustahil. Para developer tidak perlu menunggu jeda downtime untuk bisa men-deploy aplikasi, sehingga para customer pun bisa segera memperoleh manfaat dari aplikasi tersebut.

Arsitektur dan platform pengembangan aplikasi juga mengalami perubahan. Arsitektur microservices dan event driven, bukan hal asing lagi di telinga para pengembang. Komunitas pengembang pun menaruh perhatian pada kehadiran platform Kubernetes, container, dan cloud. Perkembangan teknologi untuk app/software development ini tidak saja akan menghadirkan pengalaman menggunakan aplikasi yang lebih mumpuni di sisi konsumen tapi juga semakin memudahkan kerja para developer, software architect, solution architect dan sebagainya. 

Namun sayangnya, manfaat teknologi-teknologi terkini dalam pengembangan aplikasi/software tersebut belum dirasakan sepenuhnya oleh para pengembang, terutama di lingkungan enterprise. Adopsi teknologi, seperti microservices, event-driven architecture, atau Kubernetes, di lingkungan enterprise relatif lebih lambat dibandingkan adopsinya di lingkungan yang lebih agile, semisal startup.

Red Hat Market Dynamics Report 2021 memperlihatkan minat responden yang tinggi terhadap pemanfaatan container, sebagai cara terbaik untuk menerapkan microservices. Sebanyak 46% software developer menempatkan container sebagai prioritas mereka dalam 12 bulan ke depan. Namun 40% dari responden menghadapi kendala berupa kurangnya skill dan pelatihan (training) dalam menggunakan container ini. Hal ini tentu berpotensi menghambat modernisasi aplikasi yang tengah dilakukan perusahaan dalam rangka bertransformasi digital.

Mengusung OpenShift sebagai solusi pengelolaan container platform. Red Hat juga memiliki segudang pengalaman di bidang software enterprise. Red Hat juga menyediakan solusi untuk mengembangkan aplikasi generasi terbaru melalui jajaran Middleware Portfolio.

“Red Hat juga berkomitmen mengembangkan sumber daya manusia di bidang pengembangan aplikasi/software ini, antara lain dengan merangkul komunitas developer melalui inisiatif Red Hat Developer. Program terbarunya adalah KubeNativeDev Tech Talk Series yang dapat menjadi langkah awal bagi para developer untuk mengenal lebih jauh teknologi-teknologi pengembangan aplikasi modern.,” jelas Rully Moulany, Country Manager PT Red Hat Indonesia dalam keterang tertulisnya.

KubeNativeDev Tech Talk Series adalah webinar on demand yang terbuka untuk para developer secara umum. Saat ini ada sudah empat seri topik yang bisa diakses kapan saja: Best Practices for Developing Kubernetes Native Application; Kubernetes Native Java for Spring Developer; Enhance your microservice application on Kubernetes with Event Driven Architecture; dan Secure Kubernetes Native Application by OpenID with Keycloak. Sebagai kelanjutan dari webinar ini, Red Hat juga akan menyelenggarakan workshop sebagai deep dive pada topik-topik yang dibahas sebelumnya.

Apa saja manfaat yang akan diperoleh para developer dengan mengikuti webinar ini? Menurutnya, selain mengenal lebih jauh teknologi Red Hat, Tech Talk Series ini akan memperluas wawasan para developer tentang pengembangan aplikasi berbasis cloud. Satu modal penting untuk membangun aplikasi modern yang banyak dibutuhkan saat ini. Program ini juga akan memberikan insight bagi developer untuk dapat membangun aplikasi dengan lebih cepat dan efisien.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)