Red Hat Sempurnakan Teknologi Cloud Hybrid Terbuka untuk Pelanggan

Terkait Red Hat Summit 2020 yang digelar secara virtual, Rully Moulani Country Manager Red Hat Indonesia menjelaskan acara ini disambut antusias oleh masyarakat. Buktinya, jika acaranya offline biasanya diikuti oleh 7-8 ribu peserta, tapi kali ini secara online membludak hingga 80 ribu partisipan.

Menurut Ruly, Red Hat mengumumkkan beberapa hal terkait perkembangan solusi teknologi open source. Pertama, OpenShift Virtualization, produk container platform dari Red Hat. Yang dilakukan oleh Red Hat adalah membawa teknologi yang sudah cukup lama ini ke era baru berbasis container. Red Hat memindahkan aplikasi-aplikasi tradisional ke dalam lapisan inovasi terbuka.

Kedua, Red Hat Advanced Cluster Management (ACM) for Kubernetes. ACM merupakan satu pilar yang bisa membuat RedHat menjadi management platform yang agnostik, sehingga bisa mengelola platform apa pun, termasuk dari kompetitor.

Ketiga, memperkenalkan Red Hat OpenShift 4.4, platform terbaru dan antara lain memungkinkan pengalaman serupa layanan komputasi berbasis awan semisal DNS forwarding dan cost management.

“Kami memberikan diskon 50 persen untuk layanan Technical Account Management bagi pelanggan baru. Juga, memperpanjang siklus hidup produk di seluruh bagian portofolio Red Hat, “ujar Rully dalam press conference virtual (19/5/2020).

Rully juga menyebut, Red Hat memberikan pelatihan gratis bagi pencari kerja dan pekerja yang sementara dirumahkan karena pandemi Covid-19. Pelatihan ini terselenggara melalui kolaborasi dengan SkillsBuild.org.

“Red Hat Inc sebagai penyedia solusi open source global, siap membantu perusahaan dari semua skala dan industri dalam mengoptimalkan, atau melindungi operasi Teknologi Informasi (TI) dalam menghadapi dinamika global yang tengah berubah,” kata Paul Cormier, Presiden dan CEO Red Hat, menambahkan.

Red Hat telah lama memperjuangkan evolusi teknologi dan ingin memungkinkan pelanggan untuk mengembangkan aplikasi apa saja dan mengerahkannya ke mana saja dengan konsistensi dan fleksibilitas yang dimungkinkan oleh landasan cloud hybrid terbuka. Berdasarkan visi ini, penawaran baru Red Hat dirancang untuk meningkatkan penyampaian, aksesibilitas, dan stabilitas layanan dan aplikasi penting pada skala dunia dengan cloud hybrid sebagai tulang punggungnya.

Lebih dari sebelumnya, Red Hat melihat perlunya industri TI untuk berkembang guna memenuhi permintaan yang berkembang pesat akan layanan digital yang selalu on (tersedia) dan konektivitas yang selalu terhubung. Hampir setiap industri, termasuk layanan kesehatan, logistik, ritel, layanan keuangan, pemerintah, pendidikan, dan lainnya, beradaptasi secara real-time untuk memenuhi permintaan akan akses yang lebih cepat dan lebih luas ke aplikasi dan layanan penting sekaligus menjaga stabilitas operasional.

Dalam industri telekomunikasi misalnya, lalu lintas telah meningkat lebih dari 50% di beberapa kawasan global. Lonjakan ini telah menyebabkan perusahaan telekomunikasi dan penyedia layanan untuk memperluas kapasitas dan mempercepat pengerahan 5G dan komputasi edge, yang pada akhirnya mendorong pemeriksaan kesiapan infrastruktur jaringan dan cloud.

Red Hat pun meyakini bahwa teknologi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut tidak terikat dengan tumpukan software lawas atau berakar pada teknologi proprietary yang mahal. Namun, jawabannya akan didorong oleh inovasi open source, yang memungkinkan perusahaan untuk mengambil keuntungan dari platform cloud-native di mana saja, mulai dari pusat data edge dan on-premise hingga dari banyak cloud publik.

Melalui teknologi open source seperti Linux dan Kubernetes, perusahaan tidak hanya memiliki akses terhadap inovasi yang dapat membantu mereka membangun hal berikutnya dan menjaga mereka di garis depan industri mereka, tetapi juga mengotomatisasi, beradaptasi dan meningkatkan operasi yang ada di seluruh lingkungan TI dengan fleksibilitas lebih besar dibandingkan yang dapat diberikan vendor proprietary.

Kepemimpinan Red Hat dalam komunitas open source bukanlah untuk kepentingan pemasaran atau kenyamanan. Di dunia Kubernetes, Red Hat merupakan kontributor awal bersama Google dan tetap menjadi kontributor perusahaan untuk Kubernetes. Red Hat membantu memajukan teknologi-teknologi utama di Kubernetes dan komunitas terkait yang memungkinkan evolusi TI lintas-industri ini.

Dengan Red Hat OpenShift, Red Hat memelopori platform Kubernetes enterprise yang telah memungkinkan pelanggan untuk menerapkan pendekatan cloud-native sekaligus mendukung aplikasi tradisional yang ada. Layanan ini dipercaya oleh pelanggan lintas industri karena pendekatan yang berbeda. Untuk terus membantu menghilangkan hambatan antara aplikasi tradisional dan cloud-native, Red Hat memperkenalkan kemampuan yang memungkinkan beban kerja baru pada OpenShift dan yang menjawab kebutuhan pelanggan di mana mereka berada.

Hari ini Red Hat mengumumkan Virtualisasi OpenShift, fitur baru yang tersedia sebagai Technology Preview dalam Red Hat OpenShift, berasal dari proyek open source KubeVirt. Fitur ini memungkinkan perusahaan untuk mengembangkan, mengerahkan, dan mengelola aplikasi yang terdiri dari mesin virtual beserta container dan serverless, semuanya dalam satu platform modern yang menyatukan beban kerja cloud-native dan tradisional.

Red Hat OpenShift 4.4, versi terbaru dari platform Kubernetes enterprise di industri, yang dibangun berbasis kesederhanaan dan skala Operator Kubernetes. Dibangun ulang pada Kubernetes 1.17, OpenShift 4.4 memperkenalkan tampilan metrik platform yang berpusat pada pengembang dan pemantauan untuk beban kerja aplikasi; integrasi pemantauan untuk Operator Red Hat; manajemen biaya untuk menilai sumber daya dan biaya yang digunakan untuk aplikasi spesifik di cloud hybrid; dan banyak lagi. Baca lebih lanjut tentang hal yang baru di Red Hat OpenShift 4.4 di sini.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)