Resep Mantan CFO Kembangkan DuitHape

Sara Dhewanto
Sara Dhewanto, Co-Founder dan Direktur Pengelola DuitHape

Berdasarkan Financial Inclusion Index (Findex) yang dilansir oleh Bank Dunia pada 2014, jumlah penduduk dewasa Indonesia yang memiliki rekening di bank sebesar 36% dari jumlah total penduduk Indonesia. Jadi, penduduk dewasa yang tidak memiliki rekening bank mencapai 64%. Literasi perbankan di Indonesia yang cukup rendah itu memacu pemerintah yang bersama lembaga keuangan dan perusahaan teknologi finansial (tekfin) berupaya meningkatkan literasi dan inklusi keuangan.

Sara Dhewanto (44 tahun), misalnya, mengembangkan aplikasi DuitHape untuk menarik minat masyarakat yang belum mendapatkan pelayanan perbankan (unbanked). Dia, pada Desember 2015, mendirikan perusahaan tekfin yang mengelola DuitHape sebagai aplikasi yang melayani sistem pembayaran online dan remitansi di telepon seluler. DuitHape menawarkan solusi inklusi keuangan yang mudah diakses karena kompatibel di ponsel konvensional dan Android serta ramah di kantong masyarakat. Sara menyebutkan, DuitHape tidak memberikan bunga dan hanya mengenakan biaya administrasi dari setiap transaksi penggunanya.

Pengguna aplikasi DuitHape disodori aneka macam fitur, di antaranya menyetor dan menarik dana tunai, simpanan, membeli pulsa telepon, membayar tagihan, dan membeli token listrik. “Sistem pembayaran di DuitHape berbasis mobile platform yang ditujukan kepada masyarakat yang belum mendapatkan pelayanan perbankan,” ujar Sara, Co-Founder dan Direktur Pengelola DuitHape. Sebelum menggunakan layanan tersebut, pengguna diwajibkan mendaftar dengan menyertakan nama lengkap, nomor kartu telepon, dan foto. “Setelah mendaftar, end user atau agen-agen toko bisa langsung melakukan transaksi di DuitHape,” Sara menambahkan. DuitHape yang merupakan akronim “duit dalam HP (handphone)” berhasil menjaring lima ribu pengguna, bermitra dengan 1.700 agen, serta bekerjasama dengan BNI. “DuitHape terkoneksi dengan seluruh agen Warung BNI 46 yang jumlahnya sekitar 90 ribu,” ungkap Sara.

Awalnya, Sara menjelaskan, skema kemitraan DuitHape berdasarkan penjualan langsung ke konsumen individual atau business to customer (B2C). Skema ini relatif tidak meningkatkan laju pertumbuhan pengguna DuitHape. Lantas, ia beralih ke skema business to business (B2B) yang menyasar korporat dan institusi. Langkah ini berhasil meningkatkan laju bisnis dan pengguna DuitHape. Mayoritas pengguna DuitHape berdomisili di Jawa Barat. Lalu, agen-agennya tersebar di Aceh, Makassar, hingga Maluku. Pertumbuhan ini memantik minat lembaga ventura kapital yang menggelontorkan dana ke DuitHape.

Ide mengembangkan DuitHape tebersit tatkala Sara berkarier sebagai CFO Millennium Challenge Account (MCA) Indonesia, Konsultan Manajemen Palladium, dan Head of Treasurers ExxonMobil. Kala bekerja di MCA Indonesia, di tahun 2015 ia mengelola dana bantuan Pemerintah Amerika Serikat senilai US$ 600 juta. Dana hibah itu diberikan tunai kepada masyarakat prasejahtera di berbagai pelosok daerah di Indonesia. Bantuan diberikan tunai karena masyarakat tidak memiliki rekening bank.

Berpijak dari pengalaman itu, Sara bersama suaminya, Hario Dhewanto, pada Desember 2015 mengembangkan DuitHape. Sara dan Hario adalah sarjana ekonomi lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, dan merampungkan kuliah pascasarjana di di State University of New York, AS. “Setelah berbekal ilmu pengetahuan dan sudah lama terjun di dunia profesional, kami meyakini semua lapisan masyarakat bisa bertransaksi dengan mudah melalui handphone,” kata Sara yang banting setir dari pekerja profesional menjadi techpreneur di tahun 2015.

Di tahap awal itu, modal untuk membiayai DuitHape bersumber dari tabungan Sara. Ia mempekerjakan 15 pegawai dan setengah dari jumlah total pegawai itu adalah staf bidang teknologi informasi. Di tahap berikutnya, DuitHape memperoleh kucuran dana dari investor. Pada 2017, misalnya, DuitHape menggenggam pendanaan sebesar US$ 175 ribu dari angel investor. Dana ini dioptimalkan Sara dan suaminya untuk merilis aplikasi DuitHape dan melakukan penetrasi pasar di kawasan Jawa Barat dan Jakarta.

Agen kami sudah ada di beberapa kota besar di Pulau Jawa. Target di tahun 2019 adalah menjangkau seluruh daerah di Pulau Jawa, kemudian menjangkau seluruh Indonesia di tahun 2020, dan setelah itu kami akan ekspansi ke regional karena kami mengamati Tenaga Kerja Indonesia (TKI) membutuhkan bantuan untuk pengiriman uang (remitansi) dari luar negeri ke Indonesia agar bisa langsung diterima oleh keluarganya,” tutur Sara merinci rencana bisnis DuitHape. Pengembangan berikutnya: uji coba menyalurkan gas Elpiji 3 kg subsidi dengan menggunakan aplikasi DuitHape. Pilot project uji coba ini akan dilakukan di Cibinong, Jawa Barat, dan Jakarta Utara yang ditargetkan bisa menjangkau 5 ribu rumah tangga.

Heru Sutadi, pengamat TI dan Direktur Eksekutif ICT Institute, menyarankan DuitHape untuk cermat membidik target pasar serta memutakhirkan layanan dan fitur-fiturnya agar semakin memudahkan transaksi pengguna. “Saya meyakini DuitHape berprospek apabila

mengikuti perkembangan baru di payment digital dan terkoneksi dengan layanan pembayaran lainnya,” katanya.

Selain itu, menurut Heru, layanan DuitHape disosialisasikan lebih agresif ke masyarakat di pelosok daerah serta di berbagai platform media. “Misalnya, sosialisasi di acara-acara PKK atau pertemuan RT/RW, kelurahan, saat ada bazar, serta radio. Optimalkan sosialisasi ini di berbagai omni channel serta menjaga kepercayaan karena bisnis ini adalah bisnis kepercayaan,” kata Heru menyarankan. (*)

Chandra Maulana & Vicky Rachman
Riset: Elsi Asnimar

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)