Resep Unilever Menjaga Generasi Millenial

step0001

Generasi Y atau yang lebih popular disebut generasi millenial terkenal dengan seringnya berpindah-pindah kerja. Bahkan perusahaan sekaliber Unilever pun mengalaminya. Willy Saelan, Human Resource Director PT Unilever Indonesia Tbk, mengatakan, 15 tahun lalu, attrition rate Unilever di bawah 5% ini berarti bahwa karyawan tidak ada yang mau meninggalkan Unilever.

Namun, saat ini generasi muda tidak mau lagi bekerja di perusahan sampai pensiun. Penawaran kerja di Unilever sampai pension pun ukan lagi tawaran yang menarik, bahkan tawaran tersebut menakutkan. “Ini adalah fakta yang harus kami terima. Generasi milenial ini sangat aktif. Mereka ingin diberi pekerjaan baru terus-menerus. Dan ini menjadi tantangan bagi Unilever,” ujarnya.

Untuk itu, Unilever mengubah proposisi yang ditawarkan. Harvard Business Review mengungkapkan, hanya 20% karyawan yang tahu purpose (tujuan hidup) mereka. Oleh karena itu, proposisinya adalah Unilever akan membantu karyawan untuk menemukan dan membantu karyawan mencapai tujuan hidupnya.

Purpose (tujuan hidup) selalu seputar, berbagi, melindungi lingkungan, meningkatkan taraf hidup masyarakat, dan lain-lain. “Contohnya A memilki purpose berbagi dengan sesama. Ia punya komunitas yang seminggu sekali pergi ke daerah terpencil untuk memberikan pelatihan untuk guru-guru SD. Yang dilakukan Unilever adalah bagaiman membantu A ini untuk memenuhi tujuan hidup pribadinya. Misalnya Unilever memberikan A ini pelatihan untuk mengajar sehingga ia biasa menerapkan skill mengajarnya di komunitas yang ia ikuti. Bayangkan bagaimana bahagianya karyawan bisa bekerja sekaligus mewujudkan purposenya,” jelas Willy.

Program Unilever Sustainable Living Plan (USLP) dirancang untuk karyawan yang memiliki passion di bidang lingkungan, berbagi dengan sesama, meningkatkan taraf hidup masyarakat, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Unilever mendorong seluruh karyawan untuk mengikuti program ini.

Proposisi lainnya adalah karyawan Unilever tidak hanya memilki karier di Unilever di Indonesia saja, mereka bisa pindah ke Unilever di negara lain. Karena skill, benchmark, dan tujuannya di semua negara sama.

Hasilnya? Setelah berjalan 5-6 tahun, karyawan masih bisa dibajak, namun Willy mengatakan hal itu bukan hal yang buruk untuk Unilever. Karena jika karyawan tetap di perusahaan sampai pensiun, bearti perusahaan tidak bisa meningkatkan kualitas talent karyawan.

“Attrition rate kami masih di bawah pasar, yaitu 20% dan kami cukup senang. Sekarang banyak perusahaan baru (start up) bermunculan. Mereka ini menawarkan tawaran yang menarik perhatian para gen Y yang tidak bisa kami penuhi. Sebagai perusahaan besar, kami harus terus agile dan memiliki kelincahan yang sama dengan startup,” dia menegaskan. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)