Rezki Yanuar, Dorong Shopee Menjadi Merek Sophisticated

Rezki YanuarTerjun ke dunia e-commerce lima tahun lalu, Rezki Yanuar, Country Brand Manager Shopee, mengaku keasyikan. Menurutnya, dunia digital membawa kegairahan. Perilaku masyarakatnya sangat dinamis, sehingga Rezki yang mengurusi perkembangan merek Shopee harus berjibaku dengan dinamika yang tidak putus-putus itu. “Pekerjaan rumah saya, harus bisa memenangi hati konsumen,” ujar pria yang baru bergabung dengan Shopee tahun 2017 ini. Apalagi, Shopee tergolong merek yang relatif baru, sehingga harus diperjuangkan; bukan hanya diingat atau dikenang.

Disadarinya, tantangan mencapai objektif menjadi merek sophisticated itu tidak ringan. Ia harus membuat strategi yang terintegrasi dari hulu ke hilir. “Kami harus mencermati perilaku pasar sekarang untuk melihat apa yang akan terjadi ke depan. Itu yang harus kami pikirkan,” katanya. Namun, bagi lulusan Administrasi Bisnis Universitas Padjadjaran Bandung ini, hal itu tidak menjadi masalah. Kebetulan dari dulu dia memang menyukai pemasaran, terutama yang terkait dengan branding dan market behaviour. “Segala sesuatu yang terkait dengan tren yang ada di tengah masyarakat itu saya tertarik,” ungkap Rezki yang beberapa kali sengaja pindah pekerjaan karena dorongan rasa ingin tahu yang besar.

Nah, di industri digital, menurut pria 35 tahun ini, ada tren yang menarik dicermati. Yaitu, kecenderungan online buying selalu didekatkan dengan urban. Ada kesan hanya mereka yang sudah digital advance yang bisa belanja online. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Kalangan menengah sudah sangat banyak yang belanja online. Belanja online bukan lagi sesuatu yang eksklusif kelompok tertentu saja. Dan, itu bisa dilihat dari komposisi pembelanja Shopee, hanya 20% orang Jakarta, sisanya dari luar.

Selain itu, tren lain yang nampak adalah umur pelanggan yang semakin muda. ”Ini membuktikan bahwa e-commerce sudah semakin friendly, terutama dengan Gen Z,” kata Rezki. Mereka yang berusia 25-35 tahun, yang mengalami masa transisi dari analog ke digital, jadi target sasaran yang harus digarap untuk memenangi kompetisi pasar.

Sejauh ini strategi yang dipilih Rezki bermacam-macam. Pertama, dengan membuat pesan-pesan yang juga friendly bagi semua kalangan, termasuk Gen Z. Kedua, memperhatikan service secara mendalam. “Produk end-to-end harus dilihat cermat,” ungkapnya. Dan ketiga, integrasi media harus dilakukan dengan baik. “Jadi, kami membuat strategi, market ke arah mana, leading trend seperti apa, how to reach them juga harus saya siapkan, pesan dan media, inovasi apa yang bisa kami lakukan terus-menerus. Karena bagi e-commerce, inovasi adalah hal yang penting,” katanya panjang lebar.

Ditegaskan pria yang pernah berkarier di agensi periklanan BBDO ini, untuk mewujudkan strategi di atas, integrasi menjadi pilihan yang tidak terbantahkan. Selain itu, inovasi juga harus sesuai dengan pasarnya. Misalnya, Shopee tidak hanya memperhatikan pelanggan baru, melainkan juga pelanggan lama, yang harus mendapat tempat sebaik-baiknya. Intinya, Rezki menegaskan, “Kami menunjukkan bahwa Shopee adalah platform belanja, tapi pelanggan juga bisa menemukan hal-hal lain selain itu.”

Melihat pertumbuhan Shopee yang begitu cepat, Rezki berharap, hal itu bukan prestasi maksimal. “Potensi kami masih sangat besar,” ujarnya. Unduhan untuk Shopee Indonesia mencapai 48 juta kali, sementara jumlah rakyat Indonesia 250 juta. Meskipun Shopee Indonesia sudah berhasil memberikan kontribusi hingga 40% terhadap performance Shopee di tujuh negara, bagi Rezki, itu masih sangat bisa ditingkatkan.

Perjalanan Shopee masih jauh, dan masih bisa lebih baik lagi,” kata Rezki tandas. Ia bertekad akan terus berinovasi supaya dekat dengan masyarakat. Tidak hanya inovasi untuk pembeli, tetapi juga untuk penjual. “Masih banyak UKM di Indonesia yang ingin kami go online-kan, masih banyak potensi barang produktif di Indonesia, masih banyak harta Indonesia yang belum terekspos ke luar negeri. Kalau saya pribadi, ingin memajukan barang Indonesia untuk internasional. Shopee sedang berpikir bagaimana bisa seperti itu,” tutur Rezki tentang mimpinya.

Sebagai penjaga gawang merek, ada beberapa hal yang selalu dijaganya. Pertama, dari sisi bisnis, e-commerce adalah bisnis yang dinamis, semua harus serba cepat. Jadi, kreativitas dan problem solving adalah sesuatu yang harus dikelola dengan baik. “Bahwa ini cepat, dan kami harus bisa berpikir dan eksekusi dengan cepat. Dalam e-commerce itu, 24 jam ritel dan always on. Jadi, eksekusi harus cepat, tidak bisa berlama-lama,” katanya tandas.

Kedua, karena target pasarnya milenial, karyawan Shopee juga harus anak muda. Hal itu berarti, keterbukaan sangat penting. Ide-ide harus diterima dengan baik. Ide-ide harus diberi ruang seluas-luasnya. “Karyawan tidak hanya diberi pekerjaan yang membosankan, melainkan justru yang bisa men-challenge mereka,” kata Rezki yang membebaskan anak buahnya berkreasi untuk mencapai hasil yang ditetapkan.

Ketiga, suasana tim harus seperti keluarga; kita bisa bercerita soal apa pun. Rezki percaya, ide milenial sangat fresh sesuai dengan tren yang ada. Maka, Shopee harus memaksimalkannya. “Shopee adalah perusahaan startup yang memberikan ruang kepada anak muda. Tidak ada barrier antar sesama tim ataupun orang yang di atasnya. Tidak ada eksklusivitas. Ruang kerja terbuka. Everyone is open to say something di sini,” ujarnya bangga.

Selain itu, menurut Rezki, keunggulan Shopee yaitu bisa membaca keinginan atau tren masyarakat. Dan, itu diperoleh dari mendengarkan karyawan. “Kantor kami dibuat berdasarkan masukan karyawan, “ ungkapnya. Ia mencontohkan nursing room di kantornya, yang dibuat berdasarkan masukan karyawan. “Kami memiliki acara bulanan bernama Orange Day, semua karyawan berkumpul. Setiap bulan karyawan mengisi masukan untuk perusahaan. Sebagai perusahaan besar, Shopee cukup humble, selalu put our feet on the ground,” kata Rezki yang malang-melintang di dunia e-commerce sejak 2014.(*)

Reportase: Nisrina Salma

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)