Riset Bayk: Pandemi Lahirkan Mata Uang Sosial Baru

Bayk Strategic Sustainability dan Populix melakukan survei mengenai pergeseran perilaku konsumen selama pandemi. Riset ini menggunakan metode kuantitatif dengan 300 responden yang tersebar di 5 kota besar Indonesia sebagai data primer. Sementara data sekunder didapat dari observasi, wawancara lapangan, dan desktop research.

Dari sigi tersebut terlihat bahwa Covid-19 banyak mengubah pola hidup konsumen. Dalam urusan mengelola keuangan misalnya, 88% responden mengaku memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari selama pandemi. Lebih dari 90% responden juga mengaku menjadi lebih sering memasak ketimbang sebelum PSBB. Dari sisi penerapan Work from Home (WFH), responden menyukai bekerja dari rumah karena irit ongkos transportasi (60%), hemat biaya makan di luar (49%), dan fleksibel mengatur waktu (37%).

Yang menarik dari riset ini adanya perubahan gaya hidup masyarakat menjadi lebih sehat selama masa pandemi maupun pascapandemi.

“Dari masyarakat yang terwakili, ternyata ada kelompok yang memperhatikan wellness being. Kelompok masyarakat ini membentuk wellness economy yaitu mulai memperhatikan kesehatan, (menggunakan) health-tech dan fit-tech, makan makanan sehat, ini besar sekali pertumbuhannya,” ujar General Manager Bayk, Arya Gumilar dalam webinar berjudul “Bisnis Bebas Krisis” (16/12/2020).

Dengan peningkatan kesadaran hidup sehat ini, masyarakat juga terpicu untuk lebih memperhatikan sustainability dan kesalehan sosial.

Tren yang muncul lainnya yaitu pergeseran mata uang sosial atau social currency. Dalam laporan Bayk, kebutuhan pengakuan sosial bukan barang baru yang muncul baru-baru ini, namun variabel pengukurannya yang bergeser.

“Riset baru mengatakan bahwa milenial dan gen Z ternyata baru akan membeli barang-barang apabila diproduksi dengan baik serta memiliki pengaruh sosial dan lingkungan yang baik,” jelas Arya.

Pergeseran ini, menurut Arya, apabila dipetakan contohnya adalah ketika konsumen membeli barang, mereka akan lebih mengutamakan yang memiliki emotional benefit, terasosiasi dengan gaya hidup, dan sekarang bergeser ke brand purpose.

Terakhir, munculnya gerakan survival mode dari masyarakat yang terdampak terutama UMKM. Pandemi yang menghantam stabilitas ekonomi akan meninggalkan pemicu bahkan setelah pandemi itu sendiri hilang.

“Virusnya mungkin selesai dan vaksinnya ditemukan. Tetapi yang akan tertinggal permanen adalah dampak ekonomi. Sehingga muncul survival mode,” jelas Arya.

Dijelaskannya bahwa salah satu survival mode dari masyarakat terutama karyawan yang terdampak adalah banting setir membangun bisnis. Dengan kata lain, UMKM akan tumbuh pesat.

Menurut Arya, kuantitas UMKM akan bertambah bersamaan dengan spiritnya yang juga meningkat. Harus diakui bahwa orang-orang yang bekerja di perusahaan besar bisa saja kalah spirit daripada pelaku UMKM.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)