Ruang Riang Milenial Optimalkan Aset Peruri

(Ketiga dari kiri) Handoko Hendroyono, Direktur Utama PT Ruang Riang Milenial , (Ketiga dari kanan) Dwina Septiani Wijaya, Direktur Utama Peruri

Generasi milenial menyumbang 40,3 persen dari total penduduk Jakarta, yakni sekitar 4,25 juta jiwa. Demikian diungkapkan Nungki Indraty, Direktur Keuangan Perusahaan Umum Percetakan Uang RI (Peruri) di Jakarta, Jumat (17/5/2019).

Besarnya jumlah anak muda tersebut mendorong munculnya potensi kreatif di berbagai bidang. Namun, nyaris tidak ada ruang memadai untuk menampilkan karya-karya mereka ke hadapan publik.

Melihat kondisi ini, Peruri, sebagai BUMN yang memiliki kewajiban berkontribusi untuk masyarakat, merasa perlu turut andil dalam membangun ruang kreatif tersebut. Apalagi dengan adanya aset idle seluas 6.500 meter persegi di kawasan kantor Peruri, Melawai, Jakarta Selatan.L

Dari sekian banyak proposal yang masuk untuk penggarapan proyek ruang idle tersebut, Peruri memilih Ruang Riang Milenial, perusahaan jasa kreatif, untuk menggarap sebuah proyek bertajuk M Bloc.

Proyek ini akan mengalihfungsikan lahan yang awalnya merupakan komplek perumahan karyawan dan gudang tempat produksi yang sudah tidak beroperasi menjadi sebuah creative hub multi-fungsi bagi komunitas milenial.

“Proyek ini merupakan bagian dari optimalisasi aset Peruri yang selema ini idle, dan tawaran kerja sama ini sangat menarik karena mengusung tema kreatif untuk pemberdayaan generasi milenial. Saat ini generasi milenial di Peruri terbilang tinggi, yaitu di kisaran 53 persen dari total karyawan, sehingga proyek ini perlu mendapat dukungan sebagai bentuk komitmen Peruri utuk mengakomodasi kegiatan komunitas kreatif milenial,” ujar Nungki.

Nantinya, sebanyak 16 unit bekas rumah karyawan bergaya post-colonial berlantai dua yang sudah eksis sejak tahun 1950an ini akan dimanfaatkan oleh tenant dalam negeri yang bergerak di bidang usaha kuliner, musik, film, animasi, seni rupa, kriya, hingga co-working space.

Sementara itu, dua unit gudang bekas tempat produksi akan disulap menjadi lounge dan venue berkapasitas 350 orang yang digunakan untuk konser musik dan pertunjukan seni lainnya.

Nungki mengambahkan, “Secara transaksi pun kami maunya cashless, yakni dilakukan secara online. Di sinilah kami bekerja sama dengan BUMN lain. Sinergi BUMN kami utamakan di sini.”

Menurut Dwina Septiani Wijaya, Direktur Utama Peruri, konsep M Bloc adalah ramah pejalan kaki. Pasalnya, lokasi M Bloc dekat dengan kawasan perbelanjaan Blok M dan diapit oleh dua stasiun MRT, yakni Stasiun Blok M dan ASEAN, juga dekat dengan terminal bus Blok M. M Bloc juga tidak akan menyediakan lahan parkir.

Handoko Hendroyono, Direktur Utama PT Ruang Riang Milenial mengatakan, “Dukungan dan antusiasme Peruri atas gagasan kami untuk membuka ruang publik kreatif di sebagian wilayah kantor mereka merupakan kontribusi besar bagi keberlanjutan kreativitas generasi milenial. Apalagi dengan mulai beroperasinya MRT, gaya hidup, dan budaya baru akan bertumbuh, kota Jakarta sangat memerlukan ruang public yang mampu menjadi ruang ekspresi positif. Para milenial khususnya, membutuhkan ruang interaksi yang sifatnya kolaboratif untuk berkreasi dan eksis bersama.”

Handoko juga menjelaskan bahwa ide proyek ini merupakan hasil brainstorming lintas disiplin. Hal ini tak terlepas dari industri kreatif yang tidak hanya berakar pada satu disiplin. Misalnya saja, brand Lawless dimiliki oleh seorang pemusik.

“Nanti akan ada 106 band yang bisa nge-live di M-Bloc. Di luar brand, dunia lain yang berkembang pesat adalah arsitektur, kopi, dan fashion,” jelasnya.

Peruri Mulai Garap Keamanan Digital

Proyek M Bloc merupakan salah satu kebaruan yang diperkenalkan Peruri, kendati menurut Nungki kontribusinya tidak begitu besar terhadap pendapatan total perseroan.

Selain itu, Peruri juga menggarap bidang bisnis baru, yakni digital security. “Kami melihat ada tiga driver untuk mencapai target profitability Peruri. Pertama dari core bisnis kami, percetakan uang negara dan dokumen security negara. Kedua, kami masuk ke new business, yakni keamanan digital. Kami menyadari ada banyak kebutuhan keamanan di dunia digital,” ungkap Dwina.

Selaras dengan yang diceritakan Nungki, “Kami punya produk Sigital Signature dan QR Code. Kami punya produk di luar mencetak uang, tapi tetap bicara tentang security. Embrionya sudah ada sejak tahun 2017, sekarang lebih kami tata lagi dan kami sudah mendapatkan order juga. Peruri ini milik pemerintah jadi kami dengan memanfaatkan sinergi BUMN dsbg kami berharap apaun yang kami lakukan mendapatkan support dan bermanfaat untuk negara”.

Dwina menjelaskan, memang positioning Peruri adalah sebagai penjamin keaslian dan ini bisa dalam bentuk cetak. Namun, kini medium uang berubah dan dibutuhkan juga keamanan di situ. Peruri masuk untuk mengamankan hal-hal yang sudah digital.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)