SAP Ungkap Tantangan Utama Transformasi Digital Pada UKM

Di saat ekonomi dunia mulai perlahan pulih dari pandemi Covid-19, muncul tantangan bagi banyak bisnis di dunia yakni pengunduran diri yang masif (The Great Resignation). Frasa ini pertama muncul pada tahun 2021 yang mengacu pada tren pengunduran diri dari pekerjaan oleh jutaan karyawan di dunia.

Benar saja, bahkan hal ini juga dirasakan oleh Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Sebuah studi baru oleh SAP SE menemukan bahwa 91% UKM di Indonesia mengalami ketidakstabilan tenaga kerja, termasuk banyaknya pengunduran diri tenaga kerja ahli yang mencari pengembangan karier di organisasi lain. Sebanyak 25% responden setuju bahwa lebih banyak karyawan yang mengundurkan diri saat ini dibandingkan dengan 12 bulan yang lalu.

Informasi ini terungkap dalam sebuah penelitian yang dilakukan SAP bersama Dynata Research berjudul ‘Transformational Talent: The impact of the Great Resignation on Digital Transformation in APJ’s SMEs’. Penelitian ini mensurvei 1.363 pemilik UKM dan pengambil keputusan di delapan negara di Asia Pasifik & Jepang (APJ), termasuk 210 responden dari Indonesia, pada periode Desember 2021 hingga Januari 2022. Untuk penelitian ini, SAP mendefinisikan UKM sebagai perusahaan dengan 11 - 250 karyawan berdasarkan prinsip-prinsip OECD.

Riset menemukan bahwa fenomena ini memiliki dampak besar terhadap UKM di Indonesia. Hampir 63% UKM mengatakan bahwa mereka menghadapi kesulitan dalam mengatasi dampak dari pengunduran diri yang masif. Tak terkecuali terhadap kemampuan UKM untuk melanjutkan proses transformasi digital mereka, mengingat 81% UKM menganggap transformasi digital memiliki peran kritikal bagi keberlangsungan organisasi mereka ke depannya.

Karena selain tenaga kerja untuk menjalankan kegiatan sehari-hari, UKM di Indonesia juga membutuhkan tenaga kerja lain yang lihai mengoperasikan teknologi digital. Hal ini menjadi tantangan utama untuk proses transformasi digital UKM Indonesia, selain cybersecurity dan keterbatasan anggaran organisasi.

Terkait hal ini, Andreas Diantoro, Managing Director SAP Indonesia berpendapat, transformasi digital merupakan cara paling dasar bagi UKM untuk dapat membangun ketahanan organisasi dan melakukan strategi inovatif yang dapat mendongkrak pertumbuhan bisnis mereka.

“Tanpa adanya tenaga kerja yang tepat untuk mendukung perkembangan mereka, maka proses transformasi pun turut terhalang. Investasi terhadap tenaga kerja juga harus sejalan dengan investasi inovasi, sehingga dapat membantu UKM di Indonesia dapat bertahan dan terus berkembang,” ujarnya.

Bagaimana Solusinya? Walaupun demikian riset juga menunjukkan bahwa UKM di Indonesia terlihat sudah melakukan langkah menghadapi hal ini. Menurut riset, UKM di Indonesia beranggapan bahwa berinvestasi pada tenaga kerja dapat mengurangi dampak pengunduran diri yang masif dan dapat meningkatkan kemampuan organisasi mereka dalam melakukan transformasi digital.

Responden mengatakan bahwa mereka sedang fokus terhadap peluang untuk mengembangkan skill (55%) demi meningkatkan talent retention selama 12 bulan ke depan. Sementara itu untuk mempertahankan tenaga kerja, mereka melakukan insentif finansial sebagai strategi berikutnya (51%). UKM Indonesia juga turut berinvestasi dalam pola kerja yang fleksibel dan menawarkan peluang peningkatan karier (keduanya 50%).

Lebih dari 86% UKM mengatakan bahwa pengembangan skill diperlukan untuk mendukung transformasi digital, sehingga 82% UKM Indonesia akan fokus pada pelatihan digital sepanjang tahun ini.

Andreas mengutarakan, pengunduran diri yang masif sering disalah artikan sebagai karyawan yang meninggalkan pekerjaan mereka untuk mengejar tujuan lainnya. Padahal sebenarnya bukan seperti demikian.

“Tenaga kerja membutuhkan remunerasi yang tepat, fleksibilitas, dan perjalanan karir yang dikomunikasikan dengan jelas. Kami melihat bahwa memprioritaskan pengembangan skill, peluang pengembangan karier, dan memperluas akses terhadap teknologi dan pemilihan mitra yang tepat adalah solusi terdepan untuk mensejahterakan tenaga kerja UKM di Indonesia,” ucapnya.

Andreas juga menyampaikan, sejumlah keahlian yang paling dibutuhkan terkait hal tersebut belakangan ini antara lain developer coding, dan yang menguasai business process management.

Ia melanjutkan, saat ini ada peningkatan optimisme pada UKM, dapa dilihat dari beralihnya fokus dari bertahan menjadi fokus kepada pertumbuhan perusahaan. Sekitar 62% UKM APJ mengatakan bahwa perusahaan mereka sepenuhnya dapat bertahan selama terdampak oleh pandemi. Hanya 6% yang percaya bahwa mereka tidak dapat bertahan sama sekali.

Data juga menunjukkan sebanyak 71% UKM di Indonesia merasa cukup, sangat, atau sangat percaya diri akan pertumbuhan perusahaan mereka selama 12 bulan ke depan. “Pola pikir seperti itu dapat menjadi hal yang positif bagi pertumbuhan UKM APJ,” ujar Andreas.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)