SAS Indonesia Bidik Omset Tumbuh 50\%

Dashboard SAS mengenai data Covid-19. (Foto : SAS.com)

PT SAS Institute (SAS Indonesia), perusahaan perangkat lunak dan layanan data analitik, memproyeksikan pendapatan di tahun 2020 naik 50\% dibandingkan pendapatan pada 2019. Target omset ini diyakini bakal tercapai seiring upaya SAS Indonesia memperoleh kontrak baru dari pengolahan data Covid-19, penyaluran dana bantuan sosial, dan kemitraan dengan pemerintah daerah untuk mengolah data tracing Covid-19 yang berdampak positif terhadap kebijakan menangani penyebaran virus corona. Selain itu, target pertumbuhan omset ini ditopang oleh konsumen SAS Indonesia dari berbagai sektor, antara lain perbankan dan jasa keuangan non bank serta minyak dan gas,

Managing Director SAS Indonesia, Febrianto Siboro, mengatakan SAS Indonesia menjajaki kerja sama dengan pemerintah daerah (Pemda) di Pulau Jawa untuk menyediakan piranti pengolah data Covid-19. ”Misalnya piranti yang bisa mengolah data untuk melakukan contact tracing, teknologi SAS Indonesia juga bisa mengolah data untuk lebih akurat menyalurkan dana bantuan sosial (bansos),” tutur Febrianto dalam jumpa pers virtual di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Terkait teknologi pengolah data Covid-19, SAS Indonesia memiliki teknologi kombinasi data, pergerakan masyarakat, jumlah penderita tiap area yang bisa dimanfaatkan oleh pemerinah pusat atau Pemda untuk memprediksi penyebaran virus dan mengeluarkan kebijakan antisipasi menangkal penyebaran Covid-19.

Febrianto menyebutkan kontribusi SAS secara global adalah memvisualiasikan analisa perkembangan Covid-19 di seluruh dunia, merujuk data dari WHO untuk diolah lebih lanjut, dan menganalisa perkembangan Coid-19 di setiap negara untuk mengkaji penanganan pandemi. “Di Indonesia, pengolahan data sangat penting untuk penanganan Covid-19. Kemudian, engagement dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan beberapa Pemda di Pulau Jawa, kami melakukan pendekatan dan pengenalan untuk melihat korelasi antara satu sama lain,” ungkap Febrianto.

Optimalisasi data, menurut Febrianto, memberikan infromasi lebih rinci di seluruh sektor dan SAS adalah penguasa pangsa pasar di sektor machine learning, artificial intelligence, dan manajemen data. “Data akan menjadi komoditas dan mata uang baru untuk ke depannya,” sebutnya.

Olah data di sektor keuangan dan asuransi, misalnya, adalah menentukan skor kredit dan profil nasabah berdasarkana modeling risk scoring. SAS Indonesia memiliki piranti untuk mengolah profil nasabah yang mengola data statistik bersumber dari media sosial dan primer. “SAS melakukan integrasi internal dan eksternal data yang profiling nasabah untuk mengkorelasikan behavoiur nasabah,” Febri menjabarkan.

Sebagai contoh, stress testing nasabah yang penghasilannya terdampak Covid-19 yang menggunakan piranti SAS Indonesia akan membantu bank menghitung ketahanan untuk mengasumsikan kredit macet di kisaran persentase tertetu, “SAS memiliki fraud analytic untuk diimplementasikan perbankan digital,” imbuhnya. SAS Indonesia juga memiliki sistem anti pencucian uang

Piranti SAS Indonesia untuk mengolah data di perbankan itu bisa diimplementasikan untuk tracing data Covid-19 dan penyaluran dana bansos. Febrianto merincikan data calon penerima dana bansos, misalnya alamat dan hubungan keluarga bisa diidentifikasi dari data internal dan eksternal di media sosial. Data-data ini diolah kembali yang hasilnya ada skor penilaian untuk menentukan penyaluran dana bansos yang tepat sasaran. Model pengolahan data SAS Indonesia ini bisa diimpelentasikan di seluruh sektor industri. “Termasuk sektor pangan, seperti halnya food estate yang sedang dikembangkan di Indonesia,” ucapnya.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)