Seberapa Sehatkah Orang Indonesia di Tahun 2040?

Kebiasaan merokok berisiko menurunkan usia harapan hidup

Studi Terbaru tentang “Prakiraan Kesehatan: Dalam Skenario Lebih Buruk”, menemukan bahwa hampir separuh dari seluruh negara di dunia akan memiliki harapan hidup yang lebih rendah. Studi ini memprediksikan kondisi dan berbagai skenario alternatif tentang usia harapan hidup dan penyebab utama kematian di tahun 2040.

Dalam skenario ‘lebih baik, studi ini menemukan hampir 50 negara dapat hidup 10 tahun lebih lama, bahkan lebih. Perubahan besar akan terjadi dalam hal kematian prematur, dari penyakit menular ke penyakit tidak menular dan kecelakaan. Masih banyaknya potensi untuk memperbaiki kondisi kesehatan melalui penanganan yang tepat beberapa penyakit, antara lain; tekanan darah tinggi, obesitas, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol serta polusi udara

Peringkat negara-negara tersebut ditinjau dari usia harapan hidup menyajikan pemahaman baru tentang status kesehatan mereka. Contohnya; Indonesia, dengan rerata usia harapan hidup 71,7 tahun di 2016, menempati peringkat ke-117 dari 195 negara. Dan, jika tren ini mampu dipertahankan, Indonesia akan bisa menempati peringkat ke-100 di tahun 2040 dengan rerata usia harapan hidup 76,7 tahun, dengan kata lain – ada penambahan 5,1 tahun. Usia harapan hidup di Indonesia bisa bertambah hingga 8,4 tahun menurut skenario ‘lebih baik’ atau sedikitnya 1,8 tahun mengacu pada skenario ‘lebih buruk’.

Perbedaan yang kontras jika dibandingkan dengan Amerika Serikat, yang pada tahun 2016 berada di peringkat ke-43 dengan rata-rata harapan hidup hingga usia 78,7 tahun. Di tahun 2040, usia harapan hidup diperkirakan akan bertambah 1,1 tahun menjadi 79,8 tahun, namun turun ke peringkat 64. Sedangkan China, di sisi lain, mencatat usia harapan hidup 76,3 tahun di 2016 dan diharapkan akan bertambah menjadi 81,9 serta naik dari peringkat ke-68 di tahun 2016 menjadi peringkat ke-39 di tahun 2040.

Tidak itu saja, studi yang diterbitkan hari ini dalam jurnal medis internasional The Lancet, memproyeksikan adanya peningkatan yang signifikan dari kematian yang disebabkan oleh penyakit-penyakit tidak menular, termasuk diabetes, gangguan paru kronik obstruktif (COPD), penyakit ginjal kronis, kanker paru-paru, juga penyakit-penyakit yang berhubungan dengan obesitas.

Di tahun 2016, ada 10 penyebab utama kematian di Indonesia adalah penyakit jantung iskemik, stroke, TBC, diabetes, komplikasi dari kelahiran prematur, kecelakaan lalu lintas, infeksi saluran nafas bagian bawah, penyakit-penyakit diare, encephalopathy neonatal yang disebabkan oleh asfiksia dan trauma, dan cacat bawaan lahir. Sedangkan di tahun 2040, penyebab utama kematian adalah penyakit jantung iskemik, stroke, diabetes, penyakit ginjal kronis, TBC, alzheimer, gangguan paru kronik obstruktif (COPD), penyakit jantung hipertensi, penyakit-penyakit yang disebabkan oleh diare, serta infeksi saluran pernafasan bawah.

Bagaimanapun, para peneliti menyimpulkan bahwa masih ada “kesempatan besar untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan dari kondisi kesehatan” dengan memperhatikan berbagai faktor resiko utama, seperti pendidikan dan income per kapita.

“Masa depan kondisi kesehatan di dunia, tidak sepenuhnya ditentukan oleh takdir, masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang masuk akal,” kata Dr. Kyle Foreman, Director of Data Science – Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) di Universitas Washington, yang juga merupakan penulis utama dari Studi ini. “Tetapi, apakah kita dapat melihat perubahan yang signifikan atau kondisi yang stagnan, hal ini tergantung pada seberapa bagus atau buruknya sistem yang ada dalam mengatasi dan menangani berbagai faktor penentu utama masalah kesehatan.

Lima penentu utama masalah kesehatan yang paling dapat menjelaskan seperti apa gambaran tentang kematian premature di masa mendatang adalah tekanan darah tinggi, indeks massa tubuh yang tinggi, kadar gula darah yang tinggi, kebiasaan merokok dan mengkonsumsi alkohol,” tambah Dr. Kyle Foreman. Sedangkan polusi udara ada di urutan ke-6.

Selain China, beberapa negara lain juga akan mengalami kemajuan di tahun 2040, dan secara substansial akan naik peringkat, termasuk di antaranya: Syria mencatat peningkatan pesat secara global, dari peringkat ke-137 di 2016 ke 80 di tahun 2040, menurut para penulis Studi ini, kemungkinannya disebabkan oleh pendekatan yang konservatif dalam mengatasi konflik. Lalu, Nigeria, dari peringkat ke-157 ke 123, dan Indonesia, dari peringkat ke-117 naik ke peringkat ke-100

Namun di sisi lain, peringkat Palestina dalam aspek usia harapan hidup, menurun tajam dari peringkat ke-114 di 2016, turun ke peringkat ke-152 di 2040. Beberapa negara dengan income per kapita tinggi juga diperkirakan akan turun secara drastis, di antaranya: Amerika Serikta, merosot dari peringkat ke-43 di 2016 ke peringkat ke-64 di 2040 Kanada dari peringkat ke-17 ke 27; Norwegia dari peringkat ke-12ke 20; Taiwan dari peringkat ke-35 ke 42; Belgia dari peringkat ke-21ke 28; Nederland dari peringkat ke-15 ke 21.

Daftar ini juga memperlihatkan bahwa Spanyol ada di peringkat pertama di dunia di tahun 2040 (dengan rerata usia harapan hidup 85,8 tahun), naik dari peringkat ke-4 di tahun 2016 (dengan rerata usia harapan hidup 82,9 tahun). Jepang, ada di peringkat pertama di tahun 2016 (dengan rerata usia harapan hidup 83,7 tahun), diperkirakan akan turun ke peringkat ke-2 di tahun 2040 (dengan rerata usia harapan hidup 85,7 tahun).

“Kesenjangan akan senantiasa tetap besar,” ungkap Dr. Christopher Murray – Direktur IHME. Celah antara skenario ‘lebih baik’ dan ‘lebih buruk’ akan menyempit, tetapi akan tetap dianggap signifikan. Di sejumlah negara-negara yang berpengaruh, terlalu banyak warga yang tetap berpendapatan rendah, dan tetap memiliki akses yang buruk terhadap pendidikan, dan meninggal dalam usia muda. Tetapi pemerintahan masing-masing negara dapat mencatat kemajuan yang pesat dengan membantu rakyatnya mengatasi berbagai faktor resiko utama, terutama kebiasaan merokok dan pola makan yang buruk.

Menurut skenario ‘lebih buruk’, usia harapan hidup berkurang di hampir separuh dari seluruh negara di dunia, dalam generasi mendatang. Secara spesifik, 87 negara akan mengalami penurunan, dan 57 negara akan melihat adanya penambahan sekitar satu tahun atau lebih. Di sisi lain, dalam skenario ‘lebih baik’ 158 negara akan melihat penambahan usia harapan hidup sedikitnya lima tahun, dan 46 negara lain akan mengalami penambahan 10 tahun atau lebih.

Di masa depan juga akan banyak mencatat kematian prematur yang disebabkan oleh penyakit-penyakit tidak menular dan kecelakaan, dan jika dilihat dari proporsi 10 penyebab utama kematian prematur, jelas terlihat bahwa kematian yang disebabkan oleh penyakit menular semakin berkurang.

Studi ini belum pernah dilakukan sebelumnya, kata Foreman, dan akan memberikan gambaran yang lengkap secara statisik serta estimasi yang lebih komprehensif dan rinci atas berbagai penyakit dan faktor resiko dibandingkan prakiraan dari PBB dan institusi-institusi lain yang melakukan studi mengenai populasi.

Para peneliti IHME mengolah lebih jauh data dari Studi Global Burden of Disease (GBD) untuk menghasilkan prakiraan ini dan membuat alternatif skenario ‘lebih baik’ dan skenario ‘lebih buruk’ terhadap usia harapan hidup serta mortalitas yang mengacu pada 250 penyebab kematian di 195 negara dan wilayah.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)