Sharing Economy, Taksi Konvensional Mesti Adaptasi

Masih jelas dalam ingatan, demo para pengemudi taksi konvensional yang menjurus anarkis. Ini dipicu hadirnya taksi berbasis aplikasi seperti Uber dan Grab. Tak ada jalan lain, angkutan konvensional segera berbenah dan beradaptasi dengan membuat perusahaan baru teknologi agar tidak ditinggal para pelanggannya.

“Untuk perusahaan konvensional, dari dulu saya sudah bilang untuk bikin fighting brand yang sama dengan perusahaan teknologi secara terpisah. Blue Bird misalnya, bikin perusahaan baru teknologi yang mirip dengan Uber,” kata Yoris Sebastian Pengamat dari OMG Consulting.

Pada prinsipnya, lanjut dia, if you don't do it, someone else will. Contohnya, Harian Kompas harus membuat perusahaan terpisah, yakni Kompas.com. Jika mereka tidak membuat, media yang lain juga akan bikin. Bisnis konvensional Kompas memang terganggu, hanya saja Kompas.com tumbuh dua digit.

“Lihat juga Garuda Indonesia. Mereka membuat perusahaan lain bernama Citilink untuk fokus ke Low Cost Carrier. Meski milik negara, Garuda tidak bisa bilang bahwa Low Cost Carrier dilarang,” kata dia.

Yoris Sebastian, Founder & Creative Thinker OMG Consulting. Yoris Sebastian, Founder & Creative Thinker OMG Consulting.

Saat ini, pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan tengah membuat regulasi khusus untuk angkutan berbasis aplikasi. Kendaraan yang beroperasi harus lulus uji kir. Namun, Yoris kurang setuju dengan aturan ini. Memang, tujuannya untuk keselamatan. Tapi, jika biayanya sudah besar saat baru akan memulai, masyarakat bisa keberatan.

“Sharing economy harus bisa memberi manfaat besar untuk masyarakat. Pemilik usaha tetap untung. Para pengemudi Go-Jek, misalnya, bisa mendapatkan penghasilan 3 kali UMR. Ini tentu solusi win-win,” kata Yoris.

Jika tidak didukung regulasi yang memadai, dengan kata lain pemerintah masih menggunakan regulasi dengan model ekonomi sekarang, investor boleh jadi akan berpikir ulang untuk menanamkan dananya di Tanah Air untuk bisnis yang menggunakan model sharing economy.

“Mereka (pemodal, red) akan berhitung potensi versus risiko. Kalau akhirnya, (lagi-lagi) lebih mudah dan reasonable di luar Indonesia seperti di negara-negara ASEAN lainnya, ya mereka akan mengalihkan modalnya. Mirip seperti kisah pabrik-pabrik mungkin (yang banyak dibangun di negara tetangga ketimbang di Indonesia),” ujar dia.

Yoris yakin angkutan berbasis aplikasi jauh lebih efisien dengan dukungan teknologi. Inilah yang mendorong Facebook membeli Instagram saat sudah digunakan oleh 50 juta users. Padahal, karyawannya hanya 11 orang. Tapi, mereka fokus memberi manfaat kepada begitu banyak orang.

“Sudah ada contohnya, namun tidak banyak yang belajar dari bisnis model Instagram. Sebenarnya (angkutan berbasis aplikasi) punya peluang jadi bisnis model yang sangat efisien,” katanya. (Reportase: Rizky C. Septania)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)