Shipper.id, Agregator Logistik Besutan Budi Handoko

Budi Handoko, Shipper Budi Handoko, CEO dan Co- Founder Shipper

Meskipun tengah semarak, industri e-commerce di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya, persoalan logistik. Selain pengantaran barangnya dianggap menyita waktu, tak semua penjual menyediakan aplikasi monitoring (tracking) pengiriman. Di samping itu, juga dibutuhkan customer service untuk menangani masalah yang terjadi dalam proses pengiriman.

Masalah seperti itulah yang memantik Budi Handoko, kini 39 tahun, untuk mendirikan startup di bidang agregator logistik bernama Shipper.id (dengan nama resmi PT Shippindo Teknologi Logistik). Budi menyebutkan, perusahaannya menawarkan berbagai solusi logistik, antara lain layanan perbandingan harga dari berbagai penyedia jasa logistik di Indonesia, penjemputan barang, tracking barang, hingga fungsi customer service seperti proses klaim jika ada barang yang hilang.

Dengan menggunakan layanan Shipper.id, penjual online yang menjadi kliennya tidak perlu lagi repot-repot mengurusi tetek bengek logistik. “Banyak yang mengira urusan logistik itu mudah, tapi ternyata tidak demikian. Operasionalnya sangat ribet,” kata Budi. Nah, dengan adanya Shipper.id, ia menyebutkan, perusahaan klien bisa lebih rileks dalam urusan kirim-mengirim paket/barang.

Sebagai gambaran, ia mencontohkan, jika tidak menggunakan layanan Shipper.id, penjual online harus berhubungan dengan banyak jasa ekspedisi. Tak jarang penjual online itu harus menunggu atau mengantre di beberapa perusahaan jasa ekspedisi yang berbeda-beda.

Budi Handoko dan Tim Shipper

Dengan menggunakan jasa Shipper.id, penjual online tidak perlu berhubungan dengan banyak perusahaan logistik, khususnya di bidang ekspedisi. Pasalnya, Shipper.id telah bekerjasama dengan cukup banyak perusahaan ekspedisi sehingga proses pickup barang bisa dilakukan sekaligus oleh Shipper.id. Hingga saat ini, kami telah bekerjasama dengan 19 perusahaan logistik,” ujar Budi.

Untuk urusan monetisasi bisnisnya, lulusan University of Wollongong ini menerapkan model bisnis revenue sharing dari penyedia jasa logistik. Shipper.id tidak membebankan biaya tambahan, baik pada pembeli maupun penjual online, melainkan mendapatkan komisi (fee) dari perusahaan logistiknya. “Besaran komisi tergantung pada volume pengiriman. Kisarannya 0% sampai 30% dari total biaya pengiriman,” ungkap Budi.

Hingga sejauh ini, untuk mengoperasionalkan bisnisnya, Budi masih menggunakan dana dari kantong sendiri. Dana Rp 300 juta dari tabungannya menjadi modal awal Shipper.id. “Sebelum kembali ke Indonesia, saya menghabiskan waktu 13 tahun untuk sekolah dan bekerja di Australia,” katanya.

Sebelum mendirikan Shipper.id, pria kelahiran Singkawang, 4 Oktober 1979, ini pernah bekerja sebagai Engineering Lead Geckowebs Internet Services. Ia juga pernah mendirikan ocash (Online Cash) di Australia, 2011-12. Skembali ke Indonesia, ia sempat bekerja di PT Qareer Harapan Asia (Qerja.com) --perusahaan rintisan juga-- pada 2015-16 sebagai head of strategy. “Setelah itu, saya mendirikan Shipper.id ini,” ujarnya. (Reportase: Anastasia Anggoro Suksmonowati)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)