Sigit Pramono Bangun Taman Gandrung Terakota di Kaki Ijen

Sigit Pramono, founder & pemilik Taman Gandrung Terakota

Usai dengan dunia profesional bankir, Sigit Pramono memang terkenal senang berburu foto terutama fotografi lanskap. Hobby ini membawa Sigit menemukan passion baru yakni membangun hotel dan membuat pagelaran Jazz. Hotel pertamanya adalah Jiwa Jawa di kawasan Bromo.

Di Bromo, Sigit menginisiasi agenda Jazz Gunung Bromo. Perhelatan jazz bernuansa etnik, di ruang terbuka, di ketinggian sekitar 2000 mdpl, diselimuti kabut dan hawa dingin yang menusuk, menjadi peristiwa kesenian yang unik dan mengesankan. Lebih dari 2000-an orang datang dari berbagai penjuru kota dan negara untuk menikmatinya.

Sejak 2016 lalu, tangan dingin Sigit juga telah memoles cantik sebuah bukit persawahan di desa Tamansari, di kaki Ijen, Kabupaten Banyuwangi menjadi sebuah obyek wisata yang bernama Taman Gandrung Terakota. Hotel Jiwa yang dibangun di lereng bukit tersebut. Bagaimana mulanya Sigit menemukan lokasi cantik tersebut? Dan bagaimana ia membangun dan mengelolanya? Berikut kutipan wawancara SWA Online dengan mantan Ketua Umum PERBANAS tersebut disela kesibukannya menyambut tamu di Taman Gandrung Terakota beberapa waktu lalu :

Setelah Bromo, Anda kemudian memilih tempat ini? Mengapa?

Jadi waktu itu Bupati Banyuwangi, Pak Azwar Anas ternyata ikut datang dan menikmati Jazz Gunung Bromo, beliau tertarik. Beliau lalu ngobrol dengan saya, bilang ingin yang seperti ini (pagelaran jazz dan hotel) bisa ada di Banyuwangi. Saya jawab, kalau memang Pak Anas ada lokasinya, saya siap kerjakan. Ya ternyata beliau orangnya gerak cepat ya, dua minggu setelah pertemuan itu, saya langsung dikirim foto-foto lokasi, ada sekitar 4 lokasi yang dikirim, saya kemudian pilih di sini (desa Tamansari, Kecamatan Licin, Banyuwangi).

Pintu gerbang Taman Gandrung Terakota di Desa Tamansari, Kabupaten Banyuwangi

Kenapa yang dibangun adalah patung-patung Gandrung ? Karena Gandrung adalah identitas Banyuwangi. Tari Gandrung itu sudah mengalami pasang surut kehidupan yang dinamis. Bermula sebagai tari persembahan dari masyarakat agraris kepada Dewi Sri, yang juga dikenal sebagai dewi kesuburan atau dewi padi, lalu menjadi tari pergaulan, dan lalu menjadi salah satu ikon kesenian Banyuwangi.

Jadi ini apakah juga upaya menghapus citra negatif tari Gandrung?

Tepat, seperti rebranding, itulah mengapa patung-patung itu hadir di tengah persawahan, karena saya ingin orang tahu bahwa asal mulanya tarian ini adalah dari acara syukuran usai panen padi. Seusai panen, masyarakat petani terbiasa bersukacita sebagai wujud syukur atas keberhasilan bertaninya. Sekarang tari Gandrung, bukit, sawah dan kopi sudah jadi atraksi wisata di sini.

Lalu kenapa terakota?

Terakota itu kan sebenarnya bahasa Italia untuk tembikar, keramik dari tanah yang dibakar. Sifatnya ringkih, mudah hancur, tapi ketika hancur ia kembali ke wujud asalnya yakni tanah. Jadi, saya ingin tidak membangun sesuatu yang abadi, karakter terakota yang ringkih itu untuk mengingatkan saya dan siapa pun yang datang kesini bahwa tak ada yang abadi dalam kehidupan ini, dari tanah kembali ke tanah.

Berapa nilai investasi membangun taman dan hotel ini ?

Saya mengerjakan proyek ini dari awal bukan berdasar atas perhitungan untung-rugi atau berapa ROInya terhadap jumlah uang yang diinvestasikan. Tetapi bertumpu pada return of happiness, pada kesenangan, pada kebahagiaan karena berdampak pada semesta.

Berapa total luas kawasan ini ?

Hanya 4 ha saja, di dalam sini ada hotel Jiwa Jawa Ijen dan Taman Gandrung Terakota. Taman ini adalah sebuah situs merawat kebudayaan dan alam, jadi di sini yang kami jual sebagai atraksi adalah orang yang sedang bertani, kebun kopi, kebun manggis, arboretum bambu. Dan pertunjukkan berjadwal dramatari Meras Gadrung.

Amfiteater di dalam lokasi Taman Gandrung Terakota yang menjadi venue Jazz Gunung Ijen 2018 lalu

Yang pertama dibangun hotelnya (Jiwa Jawa Ijen) atau taman ini?

Pertama, saya bangun hotelnya dulu di lereng bukit ini, memang sengaja agak tersembunyi karena tujuannya untuk tempat orang rehat, tidak hanya rehat badannya tapi juga jiwanya. Nah setelah hotel itu baru kemudian saya kembangkan taman ini. Saya juga bangun amfiteater ditengah taman ini, pinggirnya adalah sawah. Di sana pada September 2018 lalu kami bikin Festival Jazz Gunung Ijen.

Berapa penonton Jazz Gunung Ijen ?

Sekitar seribu orang, memang sengaja dibatasi karena sesuai dengan kapasitas amfiteaternya.

Selanjutnya apakah Jazz Gunung Ijen akan jadi agenda tetap Taman Gandrung Terakota?

Iya, akan jadi agenda tahunan. Selain itu kami juga akan masukan perayaan panen padi yang lengkap dengan tampilan penari gandrung-nya jadi agenda wisata. Jadi atraksi wisata yang terjadwal sehingga kalau dijual ke luar negeri orang akan tertarik karena tahu kapan harus datang untuk nonton atraksi yang ingin dia tonton.

Editor: Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)