Sinergi Tashinda Putraprima dengan Pengrajin Lokal

Direktur & Owner CV Tashinda Putraprima, Johni Sahlan.

Kota seni Yogyakarta tak pernah kehabisan pelaku industri kreatif, salah satunya CV Tashinda Putraprima.

Sejak dibesut tahun 1995, perusahaan ini menjadi produsen skala menengah yang mengekspor produk interior berbahan baku enceng gondok, seagrass, gajeh, bambu, gedebok pisang, terracota, pandan, rotan, dan kayu asal Bantul, Yogyakarta.

Berprinsip suistanable design untuk produk yang dihasilkannya, Tashinda Putraprima memanfaatkan sumber daya terbarukan di wilayah terdekat dengan minimalisasi penggunaan bahan kimiawi. Untuk menjamin legalitas material berbahan kayu, produknya juga dilengkapi dengan sertifikat Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu (SVLK). Kini produksinya mencapai 6 hingga 8 kontainer setiap bulannya.

Menurut Direktur & Owner CV Tashinda Putraprima, Johni Sahlan, persaingan dari negara lain seperti Pakistan, Bangladesh dan Vietnam dirasakan oleh Tashinda Putraprima sebagai eksportir handicraft dan small furniture. Kemunculan mereka diiringi dengan kemajuan dalam segi produksi patut diperhitungkan, terlebih adanya bantuan internasional yang jauh lebih besar untuk negara under develop seperti mereka. “Bantuan internasional yang mereka dapat jauh lebih besar dibanding Indonesia khususnya di bidang product development,” ujarnya.

Tantangan ini dilihat Johni sebagai peluang yang diterjemahkan melalui proyek-proyek yang akan dapat memenuhi kebutuhan customer dan menjadi diferensiasi dibandingkan dengan para pesaing.

“Kami fokus pada masalah internal dan eksternal. Di internal, kami ingin mengubah mindset para pengrajin bukan sekadar dibayar sesuai dengan pesanan, melainkan menjadi pengusaha mikro yang profitable,” ujarnya. Tashinda Putraprima memfasilitasi mereka dengan tiga project yakni improvement dalam administrasi, kondisi kerja (working space) dan modal kerja.

“Saya tantang mereka menjadi pengusaha dengan harapan jika mereka sudah ter-upgrade dapat membuat semacam scorecard agar terus meningkatkan produktivitas,” tambahnya. Tashinda Putraprima juga berupaya untuk mengembangkan teknik produksi yang baru. Sementara itu, faktor eksternal dilakukan dengan memenuhi regulasi negara tujuan ekspor, seperti eco-labeling, social audit dan compliance yang diakui oleh customer.

“Dari situ kami juga dituntut untuk mencipatkan inovasi produk-produk baru. Tashinda Putraprima juga disponsori oleh konsultan asal Belanda untuk mengikuti konsultasi baik marketing dan tren produk global agar semakin above the level dibandingkan pesaing negara-negara lain,” tambahnya.

Pameran dagang internasional seperti Trade Expo Indonesia, Indonesia International Furniture Expo, Ambiente Frankfurt diikuti oleh Tashinda Putraprima untuk mengembangkan ekspansinya. Baginya, untuk memenuhi kebutuhan buyer tidak hanya masalah harga, melainkan ada juga yang mementingkan kontinuitas produk, kualitas produk dan content delivery dan itu menjadi target market Tashinda Putraprima.

Kini, total ada 50 orang pengrajin dan 5 pengrajin dilakukan pembinaan untuk berkembang menjadi entrepreneurship. “Kami akan jadikan mereka (5 pengrajin) sebagai partner usaha, bukan sebatas pengrajin lagi. Program ini sudah dijalankan selama 1,5 tahun terakhir, hasilnya, mereka dapat meningkatnya jumlah produksinya dan merekrut orang,” ungkapnya.

Produk Tashinda Putraprima yang diekspor antara lain anyaman, keranjang, kitchenware, stool, wall art, storage, dan sebagainya. Dari tahun 2012, nilai ekspor yang dicapai mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Tren selama 5 tahun, pertumbuhan ekspornya sebesar 3,28% dan di 2017 Tashinda Putraprima memiliki target nilai ekspor sebesar US$1,4 juta yang sebelumnya di tahun 2016 mencapai nialai US$1,02 juta.

“Tujuan ekspor ke Amerika Serikat sebesar 60% dan sisanya Eropa, Australia, serta Afrika Selatan. Ada beberapa tujuan negara non-tradisional yang belum menjadi tujuan ekspor kami seperti Kolumbia, Eropa Timur, Rusia, Mauritius, namun jumlahnya masih kecil. Meski demikian tetap kami pupuk dari sekarang,” jelasnya.

Pada kesempatan ini, Johni Sahlan menghimbau pemain di industri ini agar tetap suistanable menjadi eksportir dengan tidak meremehkan buyer kecil, menurutnya hal ini dapat menjadi bumerang. “Apabila buyer besar bangkrut, maka bisa jadi kami juga terkena dampaknya langsung. Strategi saya adalah mencoba menyeimbangkan bahkan sampai pada tingkat benua. Dengan demikian, seperti kasus resesi ekonomi di Eropa yang lalu kami masih ada buyer lain dari negara atau benua lain. Saya berusaha untuk selalu spread out the risk,” ujarnya.

 

Reportase: Jeihan Kahfi Barlian

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)