Sitebeat Garap Pasar Perusahaan Lokal Mendigitalkan Bisnisnya

Talkshow ‘Sitebeat Connect 2020’ mengangkat tema ‘Membangun Brand dan Bisnis di Era Digital’

Hingga kini, masih banyak perusahaan di Indonesia yang belum mendigitalkan bisnisnya, baik itu UKM maupun perusahaan menengah. Kebanyakan pelaku bisnis hanya memfokuskan penjualan pada marketplace (contoh Tokopedia, Blibli, Shopee) dan media sosial (seperti Instagram serta Facebook).

Strategi itu memang bisa efektif, tapi apakah mereka puas, bisnisnya hanya beroperasi dalam batas yang dikontrol oleh pengelola marketplace dan media sosial? Jika tidak, maka pelaku usaha harus memiliki website sendiri untuk meluaskan jangkauan pemasaran di mana saja dan kapan saja.

“Sitebeat ingin membantu pelaku usaha untuk menunjukkan bisnisnya kepada dunia, melalui website professional yang mudah dibuat dan sesuai keinginan klien,” jelas Farid Arrisyad, Senior Specialist Performance Marketing Sitebeat.

Sitebeat.com adalah perusahaan pembuat website yang berbasis di Singapura dan telah membantu lebih dari 140 ribu klien menumbuhkan bisnisnya.

Di Indonesia, perseroan beroperasi sejak tahun 2018 dan memiliki sejumlah klien yang mayoritas beromset di bawah Rp 1 miliar setahun. Sektor usahanya bidang konstruksi, food & beverage, event, fashion dan lainnya.

Sitebeat menawarkan beberapa paket layanan pembuatan website berbayar, termasuk manajemen maintenance. Ada paket Sitebeat E-commerce Sitebeat Pro, membuat website sendiri atau dibuatkan Sitebeat Paket itu dibanderol mulai Rp230 ribu per bulan hingga Rp461 ribu per bulan.

General Manager Sitebeat Indonesia, Tim Schibli, menjelaskan, Indonesia adalah pasar yang sangat menarik lantaran populasi pengguna internet dan smartphone terbesar di Asia Tenggara. Pun, transaksi perdagangan online trennya meningkat. Dia mengaku, Sitebeat adalah domain hosting nomor satu di Australia dan Singapura dan serta nomor dua di Amerika Serikat.

Menurutnya, Sitebeat memungkinkan siapapun mampu membuat website dan toko online dengan cepat, mudah dan tanpa coding. “ Dengan memiliki website, maka pelaku bisnis bisa membagun brand sekaligus berjualan online,” ungkapnya.

Dengan website profesional, benefit pertama, bisnis akan berpeluang memiliki kendali penuh atas bisnisnya, termasuk besar profii dan tampilan website yang dikehendaki. Kedua, tampil di halaman hasil pencarian Google secara organik. Ketiga, membangun kredibilitas dengan calon pembeli.

Lantas, mengapa masih banyak pelaku bisnis yang belum memiliki website? Farid mengungkapan, ada beberapa alasan. Bisa jadi mereka tidak tahu harus memulai dari mana. Selain itu, website bukan menjadi prioritas perusahaan. Alasan lain, skala bisnis masih kecil, sehingga dikelola sendiri saja dan tak ada waktu mengurusi website.

Ke depan, target Sitebeat tahun 2020 adalah makin banyak perusahaan Indonesia yang bergabung dengan Sitebeat untuk mengembangkan bisnisnya menjangkau dunia.

Guna mencapai target tersebut, Sitebeat melancarkan strategi mengadakan pertemuan dengan anggota komunitas. Seperti beberapa waktu lalu mengadakan talkshow interaktif bersama pengusaha muda dan UMKM di Conclave Wijaya, Jakarta Selatan. Dalam diskusi tersebut, Sitebeat berbagi jurus menarik dalam membuat website untuk toko online.

Talkshow ‘Sitebeat Connect 2020’ mengangkat tema ‘Membangun Brand dan Bisnis di Era Digital’ itu menghadirkan dua wirausaha sukses Nabila Ardhani, pemilik Home Pottery Studio yang memasarkan aneka keramik unik asal Jagakarsa, Jakarta Selatan, dan Anastasia, Pendiri Empathy, brand busana lokal dengan sentuhan etnik.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)