Skema Ekspor Langsung Pelindo IV Tekan Biaya Hingga 30%

PT Pelabuhan Indonesia IV melakukan direct export perdana produk kelapa biji dan kayu olahan ke beberapa negara di Asia. Produk ekspor sebanyak 12 kontainer tersebut akan diberangkatkan langsung melalui Pelabuhan Pantoloan, Palu, Sulawesi tengah.

Nengah Suryana Jendra, General Manager PT Pelindo IV Cabang Pantoloan, mengatakan sudah lama komoditas asal Sulawesi Tengah seperti cokelat, rotan, jagung, arang, kayu olahan dan kelapa biji masuk ke pasar global. Namun, selama ini komoditas tersebut diketahui berasal dari Surabaya dan Jakarta karena dikirim melalui Pelabuhan Tanjung Perak dan Tanjung Priok.

“Aktivitas ekspor melalui Jakarta dan Surabaya menyebabkan tidak ada data ekspor yang tercatat oleh Pemprov Sulteng karena semuanya terdata di Surabaya dan Jakarta,” kata dia. Strategi direct export tersebut dinilai dapat mengefisiensikan biaya yang harus dikeluarkan oleh para eksportir. Sebab, sebelumnya, komoditas yang dikirim ke Surabaya dan Jakarta melalui Pantoloan dipindahkan lagi ke kontainer khusus ekspor, sehingga menyebabkan double handling.

Strategi direct export dapat menghindarkan terjadinya double handling. Sehingga barang yang dikirim dalam kondisi bagus dan efisien dari segi waktu. “Penurunan biaya yang terjadi sebesar 25% hingga 30%, karena tidak terjadi double handling dan menghilangkan biaya relokasi peti kemas,” kata dia.

Sulawesi Tengah juga giat memproduksi komoditas ekspor seperti getah pinus, jagung, arang, olahan dari getah pinus, ikan bandeng dan juga bawang goreng. Biasanya, produk tersebut dikirim dari Palu menuju negara-negara di Asia.

Banyaknya pengusaha Sulawesi Tengah yang melakukan pengiriman secara mandiri, membuat Pelindo IV melakukan inisiatif untuk melakukan konsolidasi. Nantinya, komoditas yang berasal dari Parigi, Poso, Mamuju, Pantai Barat, Kasimbar, Kota Raya, Toli-Toli, dll akan dikumpulkan dan dikirim melalui strategi direct export. Sehingga, pengusaha tidak perlu lagi mengeluarkan biaya mahal untuk membayar sewa kontainer.

“Para pengusaha juga tidak perlu menunggu barangnya terkumpul banyak baru diekspor. Cara ini akan membuat perputaran ekonomi masyarakat menjadi lebih cepat dan lancar,” kata dia menambahkan.

Meski pandemi Covid-19 mengintai aktivitas ekspor impor, Nengah menegaskan, tidak ada gangguan aktivitas ekspor di wilayah ini. Karena komoditas yang diekspor oleh wilayah Sulawesi Tengah adalah komoditas agro. Apalagi, ditambah perjanjian kontrak yang telah terikat antara pedagang dan buyer di luar negeri.

Namun di satu sisi, aktivitas impor melalui Pelabuhan Pantoloan mengalami penurunan karena pengaruh pandemi. hal tersebut terjadi karena banyak pembangunan yang telah diprogramkan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu menjadi tertunda karena adanya wabah Covid-19 ini. "Penurunan terjadi karena belum ada pengiriman barang dari luar negeri yang digunakan untuk mewujudkan program KEK Palu,” kata dia menutup pembicaraan.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.d

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)