Soho Kampanye Suplemen dari Temulawak

Soho Global Health kampanyekan efektifitas temulawak dalam meningkatkan daya tahan tubuh

Wabah COVID-19 mendorong masyarakat mencari suplemen, jamu dan vitamin yang bisa meningkatkan daya tahan tubuh. Tak bisa dielakan, beberapa bahan tersebut harganya melonjak tajam. Hal ini diakui Presiden Joko Widodo, pada sebuah pernyataan pada 12 Maret lalu bahwa kenaikan harga rempah-rempah bisa mencapai 5 kali lipat dari harga normalnya. Dan temulawak merupakan rempah-rempah yang naik tinggi di masa-masa wabah virus corona ini, selain kunyit dan jahe merah.

Dr. Raphael Aswin Susilowidodo, M.Si, VP Research and Development Soho Global Health menganjurkan masyarakat untuk menggunakan temulawak yang telah diekstrak. “Penggunaan temulawak yang telah diekstrak lebih efektif menjaga kesehatan tubuh karena kadar curcuminnya lebih terukur sehingga sesuai dengan kebutuhan tubuh. Untuk mendapatkan ekstrak curcumin 20 mg diperlukan 7500 mg temulawak segar, sehingga produk Curcuma FCT sangat simple dan nyaman digunakan pasien tanpa harus repot membuat rebusan,” jelasnya.

Ia menyebut produk unggulan
Soho yang berbasis temulawak adalah Curcuma FCT, Curcuma tablet dan dan Curcuma
Plus. Untuk Anak, Curcuma Plus tersedia dalam bentuk  Vitamin sirup dan tablet dan juga Susu
Pertumbuhan.  Untuk dewasa ada Curcuma FCT
dalam bentuk tablet.

Ia menjelaskan, PT Soho Global Health, perusahaan farmasi yang memproduksi obat herbal modern yang terus fokus untuk mengembangkan potensi alam Indonesia konsisten mengembangkan Temulawak. Soho Centre of Excellence in Herbal Research (SCEHR) adalah fasilitas perkebunan dan penelitian milik Soso yang fokus pada penelitian dan budidaya Temulawak.

Ia mengklaim, produk Soho telah melalui uji toksisitas yang hasilnya aman, “Selain itu, dengan konsep Seed to Patient, Soho berinovasi agar temulawak yang digunakan terstandard mulai dari proses bibit hingga teruji praklinik dan uji klinik. Proses penanaman sampai dengan pengolahannya pun telah mendapatkan sertifikasi pertanian organik dari Inofice, sebuah badan sertifikasi tanaman organik,”ujarnya.

Prof. Dr. Chairul A.
Nidom, Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin dari Professor Nidom
Foundation (PNF) adalah salah satu sosok yang terlibat langsung saat penanganan
wabah flu burung beberapa tahun lalu, menjelaskan bahwa COVID-19 seperti juga
Flu Burung merupakan wabah internasional atau global. Flu Burung tidak pandemi
karena penularannya tidak secepat COVID-19.

“Risiko kematian flu
burung di Indonesia bisa sampai 83,9 persen, tapi jumlah yang terinfeksi tidak
terlalu banyak. COVID-19 lebih cepat penyebarannya karena bisa menular melalui
kontak langsung antar sesama manusia. Oleh karena itu sangat penting bagi
masyarakat untuk selalu menjaga daya tahan tubuh agar terhindar dari ancaman
virus COVID -19,” tutur Prof. Nidom.

Salah satu bahan alami
yang dapat digunakan untuk memelihara daya tahan tubuh adalah temulawak atau
Curcuma xanthorrhiza Roxb yang mengandung curcumin. Temulawak sudah lama
digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk pemeliharaan kesehatan, pencegahan
dan pengobatan penyakit, serta pada masa pemulihan.

Terkait dengan infeksi
virus COVID-19, Prof. Nidom menjelaskan curcumin dalam temulawak mampu
mengendalikan produksi sitokin akibat dari satu sel yang terinfeksi oleh virus,
baik itu virus infuenza maupun Covid-19. Sitokin adalah protein yang dihasilkan
sistem kekebalan tubuh, bila terpapar virus terus menerus bisa terjadi badai
sitokin yang membuat paru- paru padat dan kaku sehingga terjadi sesak nafas
bahkan gagal nafas dan bisa berlanjut ke kematian. Prof. Nidom mengungkapkan,
dalam penelitian yang ia lakukan pada 2008 curcumin pada temulawak mampu
mengendalikan sitokin inflamatori sehingga tidak terjadi badai sitokin.

Hasil penelitian Prof
Nidom ini sejalan dan memperkuat hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan,
bahwa Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) yang mengandung curcumin memiliki
efek terhadap daya tahan tubuh yaitu sebagai imunomodulator (Cattanzaro et al,
2018). Varalaksmi, et.al. (2008) melalui penelitian in vivo juga menyatakan
bahwa curcumin dapat memodulasi sistem daya tahan tubuh dengan cara
meningkatkan kemampuan proliferasi sel T.

Menurut dr. Erlina Burhan, M. Sc, SpP (K), Konsultan Paru Sub Infeksi RSUP Persahabatan, orang yang terkena COVID-19 akan mengalami demam, batuk, dan pilek. Bila infeksinya sudah sampai ke paru, orang bisa mengalami pneumonia (radang paru) hingga mengalami kesulitan napas atau sesak yang bisa berujung pada kematian. Namun pada beberapa kasus, seorang yang mengidap Virus Corona tidak menunjukkan gejala apapun.

Dr Inggrid Tania, M.Si.,
selaku Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisonal dan Jamu
Indonesia (PDPOTJI) mendukung
hasil penelitian tersebut. Dr Inggrid menjelaskan, secara fungsional, ada dua
bentuk ACE2 yaitu bentuk fixed (menempel pada permukaan sel) dan soluble
(bentuk bebas dalam darah). ACE2 bentuk soluble diproyeksikan menjadi salah
satu kandidat antivirus corona melalui mekanisme interseptor kompetitif yang
mencegah ikatan antara partikel virus dengan ACE2 pada permukaan sel inang.

Menurut Dr. Inggrid, temulawak sudah dikonsumsi masyarakat Indonesia selama berabad-abad. Dr Inggrid menjelaskan, berdasarkan empirical experiental evidence, scientific evidence, dan clinical evidence temulawak terbukti aman dan memberikan manfaat daya tahan tubuh. Berbagai penelitian, terutama penelitian in-vitro dan praklinis di dunia terhadap curcumin menunjukkan bahwa curcumin bersifat antiperadangan, antivirus, antibakteri, antijamur, dan antioksidan.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)