Solusi Extramarks Memahami Gaya Belajar Anak

Tidak banyak yang memahami bahwa kegagalan anak dalam belajar dipengaruhi oleh pendekatan belajar yang salah. Bahwa tiap anak memiliki gaya belajar berbeda.

Menurut ilmu psikologi, ada tiga gaya belajar anak yaitu visual, auditori dan kinestetik. Sebuah perusahaan digital asal India memahami ini dan mulai merambah Indonesia setelah berhasil di beberapa negara.

Untuk diketahui gaya belajar visual adalah gaya belajar anak yang fokus pada penglihatan, jadi dia akan lebih optimal menyerap informasi dengan membaca dan melihat. Lalu ada gaya belajar auditori,  informasi lebih mudah masuk pada anak dengan cara mendengarkan atau dengan bahasa verbal sebagai bentuk utama pengajaran dan mengutamakan pendengaran. Maka itu dibutuhkan guru yang jelas menerangkan.

Lalu gaya belajar kinestetik, yaitu anak yang lebih mudah mengerti dan memahami informasi jika terlebih dahulu dicontohkan atau dengan dia membayangkan orang lain melalukan hal yang dipelajari. Jadi anak dengan gaya belajar seperti ini lebih mudah memahami dengan tambahan praktik.

Extramarks merupakan solusi pendidikan baik online maupun offline yang sejak tahun lalu masuk ke Indonesia. Untuk onlinenya juga tersedia dalam bentuk aplikasi maupun web based. “Aplikasinya sudah ada di Android maupun iOS,” kata Fernando Uffie Country Manager Extramarks Indonesia di Jakarta Selatan pada kesempatan wawancara khusus dengan SWA Online.

Extramarks saat ini sudah digunakan di India, Ghana, Afrika Selatan, Timur Tengah dan sekarang di Indonesia dengan kantor pusat di Singapura. “Extramarks dibangun di India pada 2007 karena pendirinya sangat prihatin dengan sistem pendidikan yang kurang memahami gaya belajar anak yang berbeda sehingga target pendidikan tidak bisa maksimal dicapai,” kata Sumegh Kumar, Presiden Direktur Extramarks Education Indonesia. Lalu dibuatlah digital learning company yang bisa digunakan ke semua segmen.

Menariknya, meski dibangun di India, dikatakan Fernando, solusi Extramarks menggunakan pendekatan kurikulum berbeda di tiap negara, disesuaikan dengan kurikulum masing-masing negara. “Kalau dilihat masing-masing negara ada indeks kualitas pendidikan berbeda. Salah satu perhatian utama pendiri Extramarks adalah keterbatasan akses materi pendidikan, walaupun ada internet, belum tentu didapat informasi pendidikan yang baik, untuk itulah Extramarks hadir,” terangnya.

Extramarks memahami gaya belajar berbeda pada anak tersebut (kinestetik, auditory dan visual). Faktanya bukan saja di Indonesia, sistem belajar yang sama diterapkan di semua anak, padahal setiap anak memiliki gaya belajar berbeda. Akhirnya, hasilnya sering tidak maksimal. Bahkan jauh dari yang semestinya anak-anak bisa capai jika pendekatannya benar.

“Ada anak yang lebih suka dibacakan, ada yang senangnya dengan sambil menggambar. Di Extamarks kami menerapkan learn, practice, test,” ujar lulusan STT Telkom Bandung. Kalau sesuai dengan karakternya, anak-anak akan mempunyai waktu lebih untuk belajar, karena menyenangkan, akhirnya pemahaman akan materi tersebut lebih baik dan nilai pun bisa tercapai yang terbaik.  Yang membuat sistem Extramarks berhasil adalah melibatkan 3 elemen  pendidikan yaitu murid, guru dan orang tua.

Monetasi dari mana? Dikatakan pria yang pernah menjabat sebagai VP Smartphone Business Smart telecom ini Ekstramarks lebih ke B2B, dalam hal ini melalui kerja sama dengan sekolah-sekolah yang tentunya memiliki visi yang sama. “Sekolah dan murid langsung yang melalui aplikasi. Untuk itu saat ini karena baru berdiri tahun lalu, kami lebih banyak komunikasi ke masyarakat termasuk ke media-media tentang apa kelebihan Extramarks,” katanya. Ia menambahkan Extramarks yang di Indonesia sudah menggunakan Kurikulum Pendidikan 2013.

Ditambahkan Sumegh, saat ini sudah ada 9000 sekolah dan 9 juta anak di negara-negara yang Extramarks sudah digunakan. “Salah satu sekolah  di India, lokasinya 40 km dari jalan besar, yang sudah menerapkan sistem belajar Extramarks mendapatkan kenaikan nilai exam siswanya 20% dibanding tahun sebelumnya. Yang utama, bukan hanya itu, kemampuan anak-anak meningkat dalam memahami pelajaran,” ungkap Sumegh. Menurutnya bukan saja memperkenalkan sistem, pihaknya juga memberikan pelatihan ke guru dan siswa agar sistem belajar Extramarks bisa dicapai maksimal.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

 

 

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!