Sosok Leader di Mata Gen Y

Irham Dilmy Wakil Ketua Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN), Irham Dilmy.

Semakin banyaknya perusahaan yang membentuk pemimpin dari dalam dilakukan dengan tujuan membangun kebutuhan budaya korporasi yang sama.Namun hal ini dilihat berisiko oleh Wakil Ketua Komisi Sipil Aparatur Negara Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN), Irham Dilmy. Baginya, terkadang perusahaan hanya memikirkan kebutuhan korporasi tanpa memikirkan kemampuan teknisyang dimiliki sumber daya manusianya.

Membangun pemimpin dari dalam dibutuhkan cost yang tidak sedikit. Perusahaan harus mendidik dan meletakannya pada pengembangan karir yang tepat agar menjadi pemimpin yang bagus. “Terkadang jika talent tersebut telah siap dan jadi, kebanyakan mereka akan dibajak oleh perusahaan lain. Ironisnya perusahaan lain hanya membayar sedikit lebih tinggi saja,” jelasnya. Padahal dana yang dikeluarkan untuk mendidik talent tersebut begitu besar. Cara ikatan dinas atau pemberian pendidikan S2 tidak menjamin mereka akan bertahan.

Pada Indonesia Future Business Leader 2017, berbagai macam perusahaan mencetak pemimpin dari dalam dengan cara yang khas perusahaan. Seperti anak-anak perusahaan Astra, ACC dan FIF, mereka secara mencari, membesarkan, memproses dan meletakkan talent mereka yang berpengalaman di berbagai bidang. “Tetapi ada perusahaan-perusahaan seperti ANTV yang memilih pemimpin secara sederhana dengan kompetensi teknis dan komunikasi yang dilihat dari sosial media yang mereka buat,” ujarnya. Memang banyak cara untuk melihat dan membantu mengidentifikasi talent yang diinginkan sesuai dengan pemikiran setiap perusahaan.

Berbicara cara grooming leader di era Gen Y, Irham menjelaskan Bahwa setiap perusahaan harus tahun karakteristik generasi. Untuk Gen Y, perusahaan harus memahami betul seperti apa aspirasi mereka, kebutuhannya. “Saya selalu menyampaikan kepada perusahaan yag menjadi klien yaitu jika mereka mau mengakomodasi Gen Y jangan kepalang tanggung apalagi perusahaan itu sudah punya pekerja yang 80% adalah Gen Y. Artinya, kita berada pada titik persimpangan dimana kita harus mengubah cara kita dalam bekerja,” jelasnya. Cara kerja Gen Y yang tidak mau terikat pada jam kerja, mereka lebih senang dengan flexible time. Terkadang perusahaan harus mengikuti keinginan dan cara mereka.

Menciptakan sosok pemimpin pada Gen Y memang berbeda dengan generasi terdahulu. Menurut Irham, Gen Y sangat berani untuk menjadi leader. Mereka memiliki pendapat mengenai kepemimpinan sangat berbeda dengan generasi lama. “Bagi mereka kepemimpinan bukan harus dengan perintah, tetapi harus menjadi teman, bekerja secara bersama, yang lebih tahu sesuatu memberi tahu yang kurang,” ujarnya. Gen Y memiliki tingkat komunikasi antar pribadi yang lebih terbuka, ini yang memudahkan mendapatkan pemimpin dari kalangan mereka. “Generasi ini adalah individu yang komunikatif, bukan pemalu, dari situ kompetensi kepemimpinan telah ada pada generasi paling baru kita,” tutupnya.

 

Reportase: Sri Niken Handayani

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)