Sosok Rachmat Kaimuddin, yang Undur Diri sebagai CEO Bukalapak

Rachmat Kaimuddin

Belum genap 2 tahun menduduki posisi Direktur Utama Bukalapak, Rachmat Kaimuddin memutuskan untuk mengundurkan diri dari salah satu unicorn dari Indonesia ini. Dalam keterangannya, Perdana Arning Saputro (Deno), VP of Corporate Secretary Bukalapak, mengatakan, Bukalapak telah menerima surat pengunduran diri dari Direktur Utama Bukalapak, Rachmat Kaimuddin pada tanggal 28 Desember 2021 yang akan berlaku efektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Sampai saat ini, lanjut Deno, Rachmat Kaimuddin masih menduduki posisi sebagai Direktur Utama Bukalapak dan akan membantu proses transisi kepemimpinan di internal Bukalapak. Adapun Teddy Oetomo, Natalia Firmansyah, dan Willix Halim tetap menjabat sebagai Direktur Bukalapak. Ia mengungkapkan, berdasarkan informasi dari surat pengunduran diri, Rachmat berencana akan melakukan pengabdian negara dengan bekerja untuk pemerintah.

Rachmat Kaimuddin menduduki posisi CEO Bukalapak sejak 6 Januari 2020 setelah melalui proses selekasi yang melibatgkan para pendiri Bukalapak dan semua direksi. Ketika wartawan SWA Media Group, Vina Anggita, mewancarainya pada 10 Januari 2021, Rachmat mengungkapkan, proses untuk memutuskan saya menerima tawaran ini pun cukup panjang dibandingkan pengalaman sebelumnya. “Sebab sebagai organisasi, Bukalapak tidak hanya berbicara teknologi, unicorn, atau bisnis, tetapi orang-orang di dalamnya memiliki misi untuk meningkatkan taraf hidup banyak orang. Bagi saya kesempatan ini sangat mahal,” dia menuturkan.

Namun, dia mengakui, sebelum bergabung dengan Bukalapak, dia sudah mengenal Achmad Zaky, salah satu pendiri Bukalapak. Begitu pun dengan pendiri Bukalapak lainnya, Fajrin Rasyid, adalah juniornya di Boston Consulting Group. Artinya, mereka sudah saling mengenal sebelumnya.

Rachmat Kaimuddin, yang lahir pada 15 April 1979, mendapatkan gelar Bachelor of Science dari Massachusetts Institute of Technology, Boston pada 2001. Lalu, memperoleh gelar Master of Business Administration dari Stanford University, California pada 2008.

Ia memulai kariernya sebagai Hardware Design Engineer di Teradyne, Inc di Amerika Serikat (AS) pada 2001. Lalu, ia bekerja sebagai Senior Associate di The Boston Consulting Group Southeast Asia pada 2003. Pada 2007, ia bekerja sebagai Summer Interns terkait minyak dan gas di International Finance Corporations Indonesia. Kemudian, ia menjabat Chief Financial Officer (CFO) PT Cardig Air Services Indonesia pada 2009, lalu menempati posisi Group CFO PT Amstelco Indonesia Tbk pada 2011.

Selanjutnya, Rachmat menjabat Advisor to the Board di PT Toba Bara Sejahtera 2012 dan Vice President Baring Private Equity Asia Singapore dan Indonesia pada tahun yang sama. Kemudian, pada 2014 menjabat sebagai Direktur di Bosowa Corporindo, dan pada 2016 menjabat Direktur Pengelola PT Semen Bosowa Maros. Sebelum didapuk ke Bukalapak, Rachmat telah menduduki posisi bergengsi yakni Direktur Keuangan dan Perencanaan untuk PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) atau kini bernama KB Bukopin. Posisi ini telah dijabatnya sejak 2018. Sebelumnya, dia merupakan komisaris di bank yang sama yang kemudian menjadi direksi mulai 2014.

Prestasi yang diukir Rachmat selama di Bukalapak, salah satunya adalah berhasil membawa unicorn ke lantai bursa pada 6 Agustus 2021. Tak tanggung-tanggung, dana yang diraup dari IPO (initial public offering) mencapai Rp 21,9 triliun, tertinggi dalam sejarah bursa saham Indonesia. Sayangnya, kinerja saham Bukalapak di lantai bursa masih melempem karena jauh di bawah harga perdana (Rp 850). Pada Rabu, 29 Desember 2021, harga saham Bukalapak ditutup pada harga Rp 452 per lembar.

Baca juga:

https://swa.co.id/swa/trends/management/rachmat-kaimuddin-ceo-bukalapak-bukalapak-harus-semakin-besar-dan-sustainable

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)