Sri Mulyani Ajak UKM Optimistis Hadapi Kondisi Ekonomi

Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati (tengah) didampingi Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto (kedua kanan), Ketua Pembina Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) Johannes Loman (kiri), Chief of Corporate Communications, Social Responsibility & Security PT Astra International Tbk Pongki Pamungkas (kanan) dan Ketua YDBA Henry C. Widjaja (kedua kiri)

Meskipun kondisi perekonomian kita masih belum sepenuhnya pulih, namun tahun ini sudah menampakkan kondisi lebih baik. Hal ini disampaikan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan RI pada Seminar Makro yang diadakan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) hari ini (03/04/2017) di Auditorium William Soeryadjaya, Gedung PT Astra Internasional Tbk Sunter. Wanita kelahiran Bandar Lampung 1962 ini mengajak UKM (usaha kecil menengah) yang hadir untuk lebih optimistis dengan kondisi ekonomi ke depan. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia (2010-2016) ini menyampaikan materi Perkembangan Ekonomi Terkini: Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Yang Inklusif dihadapan 500 peserta yang hadir.

Hadir dalam seminar tersebut Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto dan jajaran direksi, Ketua Pembina YDBA Johannes Loman, Ketua Pengawas YDBA Lina Djafar dan Ketua Pengurus YDBA Henry C. Widjaja.

“Indonesia negara besar, bukan saja dari segi demografis tapi juga dari potensi ekonominya. Saat ini pertumbuhan ekonomi kita sudah di kisaran 5,1 persen, bahkan ada yang mengatakan sudah di 5,4 persen,” ujarnya.

Menurutnya, krisis ekonomi dunia dirasakan semua negara. Industri komoditas melemah, ini pun dirasakan Indonesia bahkan tahun 2016 mencapai bottom. Ani berharap tahun ini komoditas kembali naik. Ia melihat mesin ekonomi mulai berjalan normal. Faktor eksternal tidak lagi menjadi faktor pelemah ekonomi Indonesia.

Ia menuturkan, kekuatan kita pada permintaan domestik yang menjadi bantalan ekonomi negara ini, yang semua itu ada di konsumsi, investasi dan biaya pemerintah yang cukup besar. Sedangkan dari luar kekuatan kita pada ekspor dikurangi impor karena masih adanya bahan baku yang diimpor. Dengan pertumbuhan ekonomi termasuk tertinggi dalam 10 tahun terakhir 5,7 persen. Negara yang bisa mengalahkan Indonesia hanya Republik Rakyat Tiongkok dan India. Ia menyebut pertumbuhan investasi kita saat ini 6,8 persen dalam satu dekade terakhir, sedangkan pertumbuhan konsumsi kita sekitar 4,9 persen. Tahun 2016 nilai investasi kita sekitar Rp 2.016 triliun. Investasi PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) naik sekitar 26,7 persen.

Sebagai negara yang besar harus menjaga permintaan domestik terus terjaga, apakah investasi, konsumsi atau pengeluaran Pemerintah. Tahun 2017 ini belanja Pemerintah Rp 2.080 triliun dalam satu tahun anggaran. Ini merupakan belanja terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Tanggung jawab Pemerintah agar daya beli masyarakat terjaga adalah dengan mengendalikan inflasi, inflasi kita disebut Ani terendah dalam dua dekade terakhir.

“Problem kita bukan sekadar memperkecil jarak antara yang kaya dengan yang miskin. Tapi kesenjangan antar pulau. Pendapatan kita masih terfokus di Pulau Jawa, sekitar 30 persen tax amnesti terkumpul di Jakarta, bahkan jika dihitung tax seluruh Jawa menempati porsi 80 persen setoran tax kita. Ini ketimpangan. Kalimantan kaya tapi kurang dibandingkan Sumatera apalagi Papua dan Sulawesi dari segi pendapatan,” paparnya. Ini sedang diupayakan Pemerintah dengan terus melakukan pemerataan. Di Papua misalnya dengan pembangunan infrastruktur yang menjadi fokus sejak awal pemerintahan ini untuk mengejar ketertinggalan.

Ani juga mengingatkan dengan kekeuatan besar tersebut, jangan sampai Indonesia terjebak dalam middle income country. Menurutnya, dengan pendapatan per kapita hampir sebesar US$ 4.000 dan jumlah penduduk mendekati 250 juta jiwa, Indonesia masuk dalam middle income country. Beberapa negara terjebak dalam kelompok ini, hanya sebagian kecil yang bisa lepas naik menjadi high income country. Mereka adalah Korea Selatan, Taiwan, Singapura. Ia mendorong agar kita jangan terjebak di sana. “Kami terus menggunakan instrumen untuk mengatasi hal itu, agar pada 2045 kita bisa masuk dalam kelompok ekonomi besar kelima dunia,” tegasnya.

Pemerintah Dukung Kemajuan UKM

Pertumbuhan investasi kita saat ini lebih banyak didorong oleh swasta. “Grup Astra saat ini seperti dikatakan Pak Pri ada 210 perusahaan, tapi hanya 7 yang listed di BEI, saya mendorong minimal sepertiganya listed dari total perusahaan itu. Dengan demikian visinya Om William untuk menciptakan share of prosperity bisa tercapai,” katanya. Dengan listing di bursa, berarti menunjukan makin kuatnya grup ini, ia meyakini UKM binaannya pun akan mengikuti. Tentu saja tidak salah menurutnya jika pihaknya menaruh harapan pada grup bisnis ini.

Menurut Ani untuk UKM,  intervensi atau dukungan Pemerintah sudah dilakukan dari berbagai segi. Masalah permodalan atau akses kredit misalnya, UKM menghadapi kendala pinjaman karena tidak memiliki aset. “Ini kami siasati dengan kebijakan kolateral, bisa berupa resi gudang. Tingkat bunga hutang tinggi, kami siasati dengan kredit usaha rakyat dengan semula 11 persen sekarang sudah turun jadi 9 persen, jauh dibawah pasar. Saat ini kami sudah menyalurkan kredit usaha rakyat total Rp 100 triliun,” ujarnya.

Intervensi juga bisa dari sumber bahan baku. Kebutuhan bahan baku bagi para eksportir, impor bahan bakunya sekarang sudah bisa didapat dan diurus lebih mudah melalui Program KITE (Kemudahan Impor Tujuan Ekspor). Pajak pun beda, kata Ani, tergantung omset kotornya. Jadi dari segala sisi Pemerintah terus mengurangi beban yang dihadapi UKM. Menteri mengingatkan kondisi yang dihadapi saat ini tidak perlu para UKM khawatirkan, sebab Pemerintah telah melakukan berbagai upaya menjaga kestabilan ekonomi. “Harus optimis, menjaga motivasi, ambisi kuat dengan terus menjaga terus untuk prudent dalam berbisnis. Saya mengajak UMKM yang hadir di sini mampu memiliki semangat di atas agar bisa menjadi aset bangsa dan bukan liabilitas,” katanya.

Prijono Sugiarto, Presiden Direktur Grup Astra, mengatakan Grup Astra telah mengayomi 10.847 UKM dan 9.828 UKM diantaranya dibina oleh YDBA sekaligus melatih 701 pemuda putus sekolah menjadi mekanik. YDBA secara tidak langsung juga telah menciptakan 63.205 lapangan pekerjaan melalui UKM yang difasilitasinya.

Menurutnya, YDBA  sejak didirikan oleh Om William pada 1980 hingga saat ini terus menjunjung falsafah memberi kail bukan ikannya dalam meningkatkan kemampuan UKM binaannya. Ini sesuai dengan tujuan Grup Astra:  Sejahtera Bersama Bangsa. Ia menyebut kapitalisasi Grup Astra saat ini sekitar Rp 500-600 triliun.

Dalam kesempatan yang sama dikatakan Ketua Pengurus YDBA, Henry C. Widjaja peserta seminar kali ini luar biasa. Seminar yang rutin diadakan YDBA setiap tahun, yang  biasanya dihadiri hanya 200-300 peserta, hari ini membludak mencapai 500 peserta. “Pada kesempatan yang sama, selain seminar ekonomi makro ini, kami juga melakukan kick off konvensi QCC (Quality Control Circle) UKM mitra YDBA kedua. Harapannya kegiatan ini para UKM binaan YDBA bisa menerapkan Keizen dalam proses bisnisnya. Agar bisnis berjalan dengan baik sehingga bisnis bisa menyumbang pajak pada negara,” paparnya.

Hal ini bertujuan mendorong UKM binaan YDBA melakukan perbaikan berkelanjutan, memberikan tempat bagi para UKM membagikan pengalamannya ke UKM yang lain (semangat berbagi), serta memberikan recognition kepada UKM Mitra YDBA yang telah melakukan perbaikan berkelanjutan yang terbaik.

Konvensi sendiri telah berjalan sejak tahun lalu dengan peserta 19 UKM yang tersebar di Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Karawang, Bandung, Banyumas, Yogyakarta dan Solo. Dan hari ini dilaksanakan Kick Off Konvensi dengan harapan semakin banyak UKM yang mendaftar dan menjadi peserta Konvensi QCC.

IKM (industri kecil menengah) ini bermula dari industri kecil yang tidak diimbangi dengan penerapan standar mutu, material yang tidak standar, ketidaktahuan terhadap gambar teknik serta metode penghitungan biaya dan rendahnya kesadaran terhadap keselamatan kerja. Kondisi ini membuat mereka ingin berubah dan menjadi IKM unggul di daerah tersebut.

Berkat pembinaan yang diberikan kepada IKM Waru tersebut, Astra memberikan apresiasi kepada YDBA dan AHM, yaitu Special Recognition Value Chain Innovation. Pemberian apresiasi tersebut tidak semata-mata diberikan untuk Grup Astra, tetapi merupakan bentuk dukungan Astra terhadap UKM agar selalu melakukan perbaikan dalam mengembangkan bisnisnya.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Pengamat: Indonesia Harus Cegah Krisis Migas Jadi Krisis Energi

Krisis harga minyak dunia yang terjadi telah membawa dampak negatif pada berbagai sektor di luar minyak dan gas bumi (migas)....

Close