Startup Digital Hingga Bisnis Ramah Lingkungan Mendominasi DSC12

Bisnis Koding Akademi milik Anak Agung Gde Rai Adi menjadi The Best of the Best DSC12. (Tangkapan layar Finsl Day DSC12)

Sejak debut penyelenggaraannya di tahun 2010, Diplomat Success Challenge (DSC) tidak hanya menjadi kompetisi wirausaha, namun juga menjelma menjadi eksosistem wirausaha yang terintegrasi. Visi besar DSC yaitu membangun ekosistem wirausaha yang kuat agar dapat berkontribusi demi percepatan pembangunan Indonesia.

Di tahun ke-12 ini, DSC mencoba jalan sosialisasi yang berbeda dengan berupaya memperluas segmen audiens berbasis komunitas dan ekonomi keumatan melalui kerja sama dengan NU Circle, LPNU (Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama), Ansor, dan HIPSI (Himpunan Pengusaha Santri Indonesia).

Program dan ekosistem wirausaha dari Wismilak Foundation ini juga telah berkolaborasi dengan berbagai pihak, di antaranya Podcast Helmy Yahya Bicara, mentoring & coaching dengan MBloc Academy, webinar bersama Asosiasi UMKM APINDO (AUA) dan SMESCO, webinar dan workshop bersama Markplus Institute, serta komunitas ConecWorld.

Edric Chandra, Program Initiator DSC12 mengungkapkan, digitalisasi membuat sosialisasi DSC dapat mendobrak batasan-batasan sebelumnya. Belajar dari pengalaman tahun 2020, DSC percaya diri dapat lebih banyak menjangkau audiens dengan cara menghadirkan edukasi dan inspirasi bisnis lewat serangkaian webinar dan workshop.

"Dari situ pula lah kami menjaring 18.233 pendaftar yang merupakan angka pendaftaran tertinggi dalam sejarah DSC,” ujarnya dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (21/01/2022).

Sejak awal dibukanya pendaftaran pada 19 Juli 2021, kata dia, DSC12 secara berkala menerima ratusan ide bisnis setiap harinya. Persebaran pendaftar juga cukup merata dari Sabang hingga Merauke. Jumlah pendaftar wanita di tahun ini telah melebihi jumah pendaftar lelaki, yaitu 57% pendaftar wanita dan 43% pendaftar lelaki.

“Dari tahun ke tahun, terjadi peningkatan jumlah pendaftar dari entrepreneur wanita, dan di DSC12 ini semakin menunjukkan pertumbuhan positif saat jumlah womenpreneur ternyata lebih banyak dari pendaftar pria. Ini sembuah pencapaian yang juga harus kita apresiasi bersama,” tutur Antarina S.F. Amir, Dewan Komisioner DSC12 yang juga seorang akademisi.

Sementara dari segi kategori bisnis, menurut Helmy Yahya, Dewan Komisioner DSC12, walaupun bisnis food and beverage masih mendominasi profil bisnis dari 18.233 pendaftar, kategori bisnis lain tidak lepas dari sorotan. Terutama mengenai banyaknya bisnis dengan visi dan misi keberlanjutan yang ramah lingkungan. "Kami lihat semua bisnis yang masuk ke tahap final merupakan bisnis yang memiliki storytelling yang kuat soal sustainability," ucapnya.

Sebagai contoh, banyak bisnis yang dalam prosesnya memanfaatkan limbah sampah, material-material bekas dan lain sebagainya. Salah satunya adalah GUI milik Gayatri Puspita, salah satu finalis DSC12 yang dalam proses bisnisnya mentransformasikan limbah menjadi produk-produk kriya berkualitas tinggi.

Adapula Greenland besutan Bagas Reggas yang mendapatkan penghargaan sebagai The Most Potential Business DSC12. Greenland bergerak dalam bidang produksi dan pengolahan produk perawatan hewan berbahan dasar limbah organik seperti limbah buah kelapa, kopi, padi, dan ampas tahu.

“Brand lokal mengalami kebangkitan yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir, terutama dengan adanya kondisi pandemi yang menjadi akseleratornya. Bisnis kriya & fashion serta food & beverage adalah dua kategori unggulan saat ini dari jutaan brand lokal di luar sana. Namun betapa luar biasanya saat kedua kategori bisnis populer tersebut dikawinkan dengan konsep sustainability dan kesadaran akan lingkungan,” ungkap Handoko Hendroyono, salah satu Mentor Nasional DSC12 yang juga dikenal sebagai Bapak Brand Lokal Indonesia.

Bisnis Startup Digital juga kian digandrungi pebisnis muda saat ini. Pesatnya perkembangan teknologi melahirkan banyak jawaban atas banyak permasalahan sosial masyarakat saat ini. Dua di antaranya adalah bisnis milik Fauzan Fathullah yaitu hayVee yang bergerak sebagai platform digital untuk isu kesehatan mental dan seksual. hayVee diganjar dengan penghargaan khusus sebagai The Most Social Impact DSC12.

Ada pula bisnis Koding Akademi milik Anak Agung Gde Rai Adi yang menjadi The Best of the Best DSC12. Koding Akademi adalah bisnis yang berfokus pada pengembangan kemampuan digital untuk generasi muda, antara lain skill teknologi komputer, engineering, robotics dan science, semuanya disajikan dalam satu platform dengan modul pembelajaran yang kekinian.

Para peserta tersebut telah melalui proses seleksi yang cukup panjang dari bulan Juli 2021, terpilih enam challengers yang berhasil mendapatkan hibah modal usaha. Mereka adalah: Nico Japar (Portale Cloud Kitchen), Yenni Angreni (Arcia Oil), Vania Audrey Pakpahan (Pijak Bumi), Gayatri Puspita (GUI), M. Fadli Nugraha (Gamma Waste), serta Best of the Best DSC12, Anak Agung Gde Rai Adi dengan bisnisnya yang bergerak di teknologi edukasi yaitu Koding Akademi.

Adapula 2 finalis yang mendapatkan penghargaan khusus dari DSC12 atas ide bisnisnya yang dinilai inovatif, memiliki potensi tinggi serta memiliki dampak sosial yang baik, yaitu Fauzan Fathullah (hayVee) sebagai The Most Social Impact dan Bagas Reggas (Greenland) sebagai The Most Potential Business.

Seluruh pemenang DSC12 ini akan mendapatkan kesempatan pendampingan bisnis dari DSC selama 2 tahun ke depan, serta secara resmi bergabung dengan jejaring wirausaha Diplomat Entrepreneur Network (DEN).

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)