Strategi BCA Tetap Tumbuh dan Tangkas di Era Digital

Christine Setyabudhi, Senior Executive Vice President BCA

PT Bank Central Asia (BCA) melaporkan kenaikan laba Semester I tahun 2019 sebesar 12,6 persen menjadi Rp 12,9 triliun. Pun segi pendapatan operasional naik 16,1 persen menjadi Rp 34,2 triliun. Memasuki era digital yang kompetitif, bagaimana bank bisa berkembang pesat?

Christine Setyabudhi, Senior Executive Vice President BCA menjawab pertanyaan itu pada acara malam penghargaaan SWA 100 di Jakarta, (25/7/2019). "Tentunya tidak mudah bagi kami di BCA sebagai suatu entitas yang sudah berusia 62 tahun dan sangat besar dengan puluhan ribu karyawan," ujarnya.

Menurut Christine, penting untuk menjaga kepercayaan nasabah. Hal tersebut dituangkan dalam tata kelola yang disiplin dan prudent.
"Ada beberapa rasio yang kami jaga. Tantangan di perbankan antara lain dana pihak ketiga (DPK) dan perkembangan loan membuat LDR (rasio kredit terhadap dana pihak ketiga) di industri sudah mencapai 96 sekian persen. Namun, BCA mempertahankan LDR di bawah 80 persen agar likuiditas kami terjaga baik."

Selain itu, non-performance loan (NPL) dalam industri juga sedang menghadapi tantangan, dengan angka net 2,5 persen pada Juni 2019. Dalam kondisi tersebut, BCA bisa menjaga NPL di angka 0,5 persen.

BCA berusaha untuk terus beradaptasi dengan perubahan perilaku dan gaya hidup pelanggan dengan terus melakukan transformasi teknologi. Menyampaikan pesan Jahjya Setiaatmaja, Presiden Direktur BCA, Christine menjelaskan bahwa BCA adalah conventional digital banking. Maksudnya, perusahaan memberikan nasabah pilihan. Bank tetap melayani fasilitas konvensional, namun juga menambah fitur digital banking lewat QR Code, pembukaan rekening daring, dan lainnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)